Malas itu Masalah

Maret 10, 2009 at 4:00 am Tinggalkan komentar

Asisten di rumah saya, Yanti begitu nama dia, mendadak berhenti kerja. Alasan yang ia kemukakan bisa saya terima. Pertama tangan kanannya sering sakit-sakitan, kedua dia pengen bekerja sebagai penjaga toko atau warung.
Saya maklum dengan keputusannya berhenti kerja di rumah saya. Dia lulusan SMEA, dulu pernah bekerja sebagai kasir di swalayan Borobudur di Ciputat. Kerusuhan yang mengerikan di Mei 1998 telah menghanguskan swalayan itu. Ratusan pekerja otomatis diberhentikan karena memang tidak ada lagi yang bisa dijual. Yanti salah satu korban pemutusan hubungan kerja yang sangat mendadak itu.
Menyesakkan dada, bila mengenang tragedi itu. Orang-orang begitu kalap. Membakar dan menjarah toko-toko tanpa memikirkan nasib mereka yang menggantungkan hidup sebagai pelayan toko.
Akhirnya Yanti hanya bisa tinggal di rumah, hingga datang tukang ojek yang dulu sering mengantar jemput bekerja, melamarnya. Lamaran di terima. Mereka menikah. Sayang, suaminya sering sakit-sakitan dan tak ada pekerjaan tetap. Untuk narik ojek saja, suami sudah tak sanggup. Lapangan pekerjaan yang ada di lingkungan Yanti adalah membantu ibu-ibu di komplek. Sampailah Yanti singgah di rumah saya. Karena jenis pekerjaan yang tak sesuai dengan keinginannya, Yanti hanya bertahan empat bulan.
Untuk mengisi kekosongan jabatan asisten di rumah, saya minta tolong asisten tetangga saya untuk mencarikan orang. Ternyata lowongan itu dia ambil. Saya tanya apakah nanti tidak kelelahan? Raminah, atau pok Minah kami memanggilnya, sedang butuh uang tambahan.
Akhirnya pagi dia bekerja di tetangga saya, usai itu baru ke rumah saya. Selama bekerja dengan saya, Pok Minah bercerita kalau ia menjadi tulang punggung keluarga.
“Suami saya menganggur.”
“Memang tidak ingin berjualan keliling komplek, pok.”
“Ah, dia mah pemalas Bu. Bertani nggak mau, jualan nggak mau, diajak jadi tukang sama tetangga juga ditolak.”
Saya mengangguk-angguk.
“Mana anak-anak masih sekolah dua ,” ucap pok Minah lagi.
“Kalau nggak salah, anak sulung pok Minah sudah lulus SMU kemarin.”
“Ah, dia lagi Bu.”
Pok Minah lagi-lagi menggerutu. Dia bilang, anak sama bapak sama saja. Sama-sama malas cari kerja. Sebenarnya setelah lulus SMU, anaknya dengan mudah dimasukkan kerja di kantor oleh tetangga saya. Memang bukan di tempat yang mentereng, melainkan jadi office boy. Tapi kan lumayan, orang cari kerja zaman sekarang susah.
“Seminggu kerja dia keluar. Alasannya capek, padahal saya ikhlas jadi tukang cuci biar anak-anak bisa sekolah sampai SMU. Eh, gilirannya dapat kerja malah keluar,” gerutu pok Minah.
“Sekarang?”
“Tiga tahun lulus, ya tiga tahun itu juga nganggur Bu.” Kali ini intonasi pok Minah tinggi. Ia marah-marah.
“Saya sudah seneng dia dah lulus, bayangan saya dia bekerja. Saya tidak berharap uang gaji dia Bu, saya cuma pengen dia punya pekerjaan. Nggak lontang-lantung. Kluyuran nggak karuan.”
Aku menelan ludah. Memang sudah lama saya mendengar kalau suami pok Minah lebih suka menganggur. Malas berusaha. Sering diajak tetangga untuk membantu jadi kuli bangunan, nggak mau. Padahal tiga anak-anak mereka tidak hanya membutuhkan makan, tapi juga sekolah. Sayangnya sekolah juga butuh uang yang tidak sedikit.
Mau tak mau pok Minah yang semestinya dinafkahi suami, malah harus kerja keras. Menjadi asisten tetangga saya sampai seluruh pekerjaan rumah selesai. Dari mencuci baju, menyeterika, ngepel, cuci piring plus memasak.
Usai itu pok Minah harus ke rumah saya untuk mencuci baju. Saya nggak tega meminta tolong nyeterika, tetapi pekerjaan itu dia ambil juga. Aku tak bisa membayangkan seperti apa pegal-pegalnya tubuh perempuan berusia empatpuluhan tahun itu.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Ketika Seseorang Mengakhiri Hidupnya Tulang Punggung Keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

TELAH DIBACA

  • 105,258 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: