Ketika Seseorang Mengakhiri Hidupnya

Maret 9, 2009 at 5:57 am 1 komentar

Mumpung hari libur, saya sempatkan main ke rumah mbak In. Tetangga saya sekaligus sahabat saya yang akhlaknya mulia. kesibukan saya di pagi ini agak longgar. Fira sama Rizki tak perlu pagi-pagi untuk makan. Biasanya mereka wajib makan pagi sebelum berangkat sekolah. Sekarang, nasi sudah ada. Lauk pauk pagi-pagi begini cukup dengan telur dadar mirip-mirip martabak. Fira sangat suka. Bikinnya pun gak pakai repot. Gampang. Pertama aku haluskan bawang merah plus cabai merah, garam. Telur dipecahin diaduk sama terigu. Jangan lupa taruh bumbu yang sudah dihaluskan. Sudah deh, tinggal goreng. Sreng. Ups, kok jadi ngomongin telur.
Sebelum ke rumah mba In aku sempatkan membawa sepiring pisang goreng hangat. Sampai di rumah, pintu pagar yang terbuka membuat aku leluasa masuk. Di ruang tamu, anak tunggal mba In yang tengah menyapu menyambutku. Mempersilahkan aku masuk. Aku mengernyitkan dahi. Mbak In tengah mencuci baju. Biasanya asistennya yang mencuci baju.
“Mba,” sapaku sambil menaruh pisang goreng ke meja makan.
“Hai Jeng, waah kayaknya uenak niy. Jadi pengen nyobain.”
“Ya monggo.”
Mba In menekan tombol on pada mesin cuci. Mencuci tangannya dengan handsoap. Mengeringkan dengan lap bersih. Mbak In emang orang yang sangat menyenangkan. Sebelum ia makan pisang goreng, terlebih dulu minta izin denga nada bercanda.
“Sah?, halal?”
“Yo’i,” jawabku pendek.
“Nyuci sendiri mba.”
“Ya, Murni minta izin lagi.”
“Mentang-mentang tanggal merah. Bukannya Minggu mbak kasih libur juga.”
“Ya, cuma ada tetangganya yang meninggal.” Aku baru bisa memahami kenapa Murni hari Senin yang kebetulan libur ini, nggak masuk.
Mbak In menuang air teh ke gelas untukku.
“Tahu nggak Jeng.”
“Apa mbak?”
“Meninggalnya tak wajar,” kalimat mbak In yang pendek menerbitkan tanya di dalam dada. Meninggal tak wajar? Keselek biji durenkah, atau mati berdiri karena mendadak dapat uang segunung?
“Gantung diri.”
“Hah!.” Aku terlonjak.
Tak lama kemudian wajah mbak In luruh. Terus bergumam lirih sungguh kasihan jalan hidupnya. Aku kian penasaran.
Terdengar salam dari arah pintu. Kami membalas salam. Ternyata Murni.
“Lho katanya gak masuk,” ucap mbak In.
“Kepikiran saya Bu, sama pekerjaan.”
“Kan sudah ibu bilang nggak apa-apa, kamu bantu dulu tetanggamu itu.”
“Sudah kok Bu, orang kemarin sore mayatnya langsung dimakamkan.”
Murni hendak meneruskan pekerjaan cuci baju, tetapi mbak In mencegahnya.
“Kamu harus cerita, kenapa kok sampai bunuh diri.”
Aku lihat Murni tampak tengah menenangkan diri. Ia menghela napas dalam-dalam. Kami diam, dan menunggu Murni cerita.
“Saya bener-bener nggak nyangka Bu.”
Murni kemudian menunduk. Wajahnya sangat sedih. Ternyata orang yang gantung diri itu teman sekolahnya semasa di sekolah dasar. Hanya lulusan sekolah dasar, seperti Murni. Maka hanya menjadi pembantu rumah tangga saja yang bisa mereka lakukan untuk menyambung hidup.
Encum, begitu saja aku sebut anak yang mati bunuh diri itu. Usianya sebaya dengan Murni duapuluh dua tahun. Sejak lulus sekolah dasar, keadaan yang membuatnya menjadi pembantu rumah tangga.
“Untung Bu, ada komplek di sini, jadi kami bisa kerja.”
Memang buat kami warga komplek di sini sangat tertolong dengan kehadiran mereka. Termasuk aku. Aku nggak mungkin bisa menyelesaikan sendiri pekerjaan rumah sendiri, dengan tiga anak. Pertama Fira kelas lima, waktunya praktis habis untuk belajar, asik di depan komputer, entah itu bikin cerpen, chating dengan temannya yang seabrek, atau melalangbuana lewat google. Lalu Rizki, jagoanku yang masih kelas satu, dan bungsu Edgina yang baru enambelas bulan.
Aku sendiri sangat nggak bisa meninggalkan hobi sekaligus profesiku menulis. Balik ke soal Encum, dia sengaja mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di kamarnya. Kejadiannya pagi hari, pukul sembilan pagi. Ibu dan ayah tirinya sedang tak ada di rumah. Ada adiknya yang masih kecil sempat bertanya, mpok Encum buat apa bawa tali. Encum menjawab buat main-main. Encum menutup pintu kamar. Sedang sang adik yang masih balita itu bermain sendiri di luar kamar.
Ibu Encum baru tahu kalau Encum gantung diri, siang hari. Ia berteriak histeris ketika pintu berhasil didobrak oleh suami, yang tak lain ayah tiri Encum.
Menurut cerita Murni. Ayah Ibu Encum bercerai ketika Encum masih kelas empat SD. Encum dibawa ibunya, hidup satu atap dengan ayah tirinya. Masih menurut penuturan Murni, ayah tiri Encum memiliki tabiat buruk pada Encum. Suka marah-marah sama Encum, juga ringan tangan. Suka memukul, juga mengumpat Encum. Anehnya sang ibu justru sering membela suaminya.
Encum telah kehilangan haknya untuk mendapatkan pendidikan ketika lulus SD. Ia disuruh menjadi pembantu rumah tangga. Dalam usia belasan tahun ia ikut menopang perekonomian keluarga. Ayah tiri Encum tidak memiliki pekerjaan tetap, dan lebih sering menganggur.
“Malas orangnya Bu, yang kerja ya ibunya Encum sama Encum,” jelas Murni. Aku dan mbak In mengangguk-angguk sedih.
Apa saja yang dilakukan Encum di rumah, selalu salah. Ibu dan ayah tirinya sering memarahinya. Pendek kata, Encum mengalami kekerasan fisik juga sikhis. Yang mengherankan ibunya Encum, lebih sering membela suaminya.
Encum akhirnya tumbuh menjadi anak yang pendiam. Ia, praktis tak bisa menikmati hasil kerja kerasnya. Ibunya lebih cenderung memaksakan diri. Encum tidak boleh membeli barang yang ia sukai. Setiap ia terima gaji, ibunya yang menguasai penghasilannya. Alasannya, siapa yang mau menolong ibu, kalau bukan anak perempuannya. Tetapi ibu Encum lupa, siapa yang mesti melindungi anak perempuannya? Sampai-sampai ia melarang anaknya untuk tidak menikah dulu. Bantu ibu dulu, adikmu masih kecil-kecil.
Hingga peristiwa tragis itu terjadi. Encum yang sudah dilamar oleh kekasihnya, untuk kedua kalinya dilarang jangan menikah dulu. Sementara usianya sudah duapuluh dua tahun. Usia yang sudah dalam taraf terlambat menikah, di lingkungannya. Sebagai gambaran, Murni yang baru berusia duapuluh dua tahun, anak sulungnya sudah mau masuk SMP tahun ini. Anak kedua kelas empat. Suami Murni menggantungkan hidup dengan jadi ojeg motor.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Ponari dan Kesehatan Malas itu Masalah

1 Komentar Add your own

  • 1. Tabrani Yunis  |  Oktober 13, 2010 pukul 2:31 am

    Saya berharap bisa nulis di majalah POTRET juga ya

    Salam

    Tabrani Yunis

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

TELAH DIBACA

  • 103,887 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: