MUI

Februari 6, 2009 at 2:29 pm Tinggalkan komentar

MUI
AKU duduk di teras rumah, saat senja mulai turun. Memejamkan mata sejenak, sembari menarik napas dalam-dalam. Menghembuskannya pelan-pelan lalu membuka mata. Di teras ini dapat aku nikmati hamparan langit luas yang tak sepenuhnya biru. Maklum akhir-akhir ini hujan hampir setiap hari menyambangi bumi.
Ponselku berdering pendek. Saat membacanya, aku sedikit meruncingkan mulutku. Film Perempuan Berkalung Sorban, diprotes sama MUI. Alasannya menyimpang dari ajaran Islam. Mulutku kian meruncing. Aku belum tahu jelas apa yang dimaksudkan isi surat pendek yang masuk ke ponselku.
“Hallo, assalamualaiku Jeng.”
Aha… tetanggaku yang baik dan mulia akhlaknya, Mbak In mengunjungi aku lagi setelah sekian lama gak bertemu.
“Aduh… mbak In ke mana aja,” sapaku setelah menjawab salamnya. Aku berdiri menyambut kedatangannya, sementara mbak In mendekatiku. Kami berpelukan hangat.
“Tumben gak lihat berita, Jeng.”
“Malas mbak In,” ujarku.
“Kenapa?”
“Beritanya duka melulu… menyesakkan dada melulu.”
“Yang mana Jeng.”
“Yang main yoyo sama gasing lagi ramai,” ujarku disambut tawa renyah mbak In.
“Itulah Jeng, emang kita ini kayak kembali ke masa kanak-kanak. Oia film yang kamu bilang cakep itu juga jadi santapan empuk MUI. Mereka bilang ceritanya menyimpang dari ajaran Islam. Katanya Islam itu tak melarang perempuan keluar rumah untuk sekolah.”
“Emang betul,” ucapku.
“Nah dalam film itu ada adegan perempuan dilarang sekolah,” jelas mbak In.
“Mbak In dah lihat filmnya belum?”
“Udah sih.”
“Menurut mbak In gimana?”
“Emang sih dalam film itu ada adegan perempuan nggak boleh keluar jauh, Islam memang tidak melarang perempuan untuk keluar rumah dan sekolah. Aku pikir apa yang ditulis Abidah dalam novelnya adalah kenyataan yang ia lihat. Orang dia orang pesantren to. Bukankah penulis itu, menulis yang ia ketahui, Jeng.”
Aku mengangguk.
“Aku pikir, Abidah itu ya ingin menyampaikan kenyataan yang ada. Sangat benar, kalau Islam itu memuliakan perempuan. Sayangnya kenyataan tak selaras dengan ajaran Islam Jeng. Masih banyak kok diskriminasi terhadap perempuan. Salah satunya, anak laki-laki mendapatkan prioritas pendidikan yang lebih ketimbang perempuan.”
Aku mengangguk-angguk.
“Masih banyak kok, perempuan dinikahkan diusia muda dengan alasan ekonomi,” ujar mbak In lagi. Ia berhenti sejenak. Dahinya berkerut-kerut.
“Kalau MUI mempermasalahkan film Perempuan Berkalung Sorban, apanya yang salah ya Jeng? Kok saya agak blank nih. Gak mudeng. Gak ngerti. Bahasa jawanya kurang lebih… I don’t know.”
Aku garuk-garuk kepala yang sama sekali tak gatal. Pening juga gue.

Iklan

Entry filed under: Catatan.

ISRAEL Email Terakhir Zahwa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

TELAH DIBACA

  • 103,858 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: