ISRAEL

Januari 13, 2009 at 7:16 am Tinggalkan komentar

Rasanya kok nggak ada kalimat yang pas untuk mengutuk kebiadaban Israel. Perang tak seimbang, mencengangkan, mencekik leher dan bikin masyarakat dunia, terutama kaum muslim geleng-geleng kepala. Heran dengan sikap Israel yang tak masuk akal. Mereka menyerang Palestina dengan membabi buta dengan alasan menyerang hamas. Kenyataan di lapangan banyak korban sipil berjatuhan.
Terdengar salam dari pintu pagar, aku beranjak ke pintu rumah sembari menjawab salam. Mbak In masih berdiri di depan pagar yang tak sepenuhnya tertutup.
“Mbak In,” sapaku sembari membuka pintu pagar.
“Ayo masuk.”
Aku menautkan kening kuat-kuat. Wajah Mbak In sangat tidak sedap dipandang mata. Biasanya Wajahnya teduh, damai saat memandangnya berubah semrawut. Seperti ada amarah yang hendak ia muntahkan. Soal apa ya? Tak mungkin soal dalam negeri rumah tangga Mbak In atau tetangga. BBM? BBM sudah turun lumayan kok. Lalu …
“Jeng,” panggilnya ke saya.
“Ya Mbak.”
Mbak In duduk di kursi yang ada di teras. Saya mengikutinya, duduk di sampingnya bersebelahan dengan meja.
“Saya pengen marah, benci, enek juga Masya Allah…”
Mbak In menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu menundukkan wajahnya, masih dengan kedua tangan yang menutupi wajah. Saya terdiam. Wahai perempuan yang lembut, ada apa gerangan? Saya lebih terdiam lagi ketika saya dengar Mbak In mulai terisak. Selama bertetangga dan bersahabat dengan dia, baru kali ini saya melihat Mbak In terpuruk.
Saya tak sampai hati melihatnya, hati-hati saya dekati Mbak In.
“Ada apa to Mbak? Kalau ada yang menyesakkan di dada mbok ya dikeluarin aja, biar lega. Saya siap dengerin,” ujar saya.
Mbak In membuka tangannya. Air mata membasah di pelupuk matanya.
“Israel itu maunya apa!”
Mbak In seperti marah sama saya. Ucapannya keras berselimut geram. Saya menghela napas.
“Kurang dizalimi seperti apa saudara kita di Palestina Jeng. Coba Jeng lihat peta wilayah Palestina tahun empatpuluh enam dan bandingkan dengan wilayah Palestina sekarang.”
Saya menelan ludah. Ditahun 1946 pemukim Yahudi tidak sampai sepersepuluh penduduk Palestina, Israel ibaratnya menumpang di wilayah Palestina. Sekarang justru hampir wilayah Palestina menjadi milik Israel. Memang tidak ada kata yang pas untuk mengumpat kebiadaban Israel.
Gempuran Israel ke Palestina benar-benar diluar peri kemanusiaan. Israel tidak berperang melawan Hamas, tetapi di lapangan Israel memborbardir warga sipil. Rumah-rumah penduduk diluluhlantakkan. Sekolah tak luput dari serangan Israel, bahkan sehari sebelumnya Israel mengungsikan 110 warga sipil ke rumah yang letaknya di tenggara Gaza, 24 jam kemudian rumah itu justru ditembaki tentara Israel (Tempo, edisi 12-18 Januari 2009).
Tidak hanya itu, Israel juga mempersulit masuknya tim medis mengevakuasi dan menolong para korban. Salah satunya Tim Sabit Merah dan Palang Merah Internasional. Tak jarang Israel juga menyerang utusan badan perwakilan PBB.
“Mengapa ya Mbak Tuhan nggak menurunkan azab ke Israel, seperti saat Raja Abrahah menyerang Ka’bah.”
Mbak In mengernyitkan dahi kuat-kuat. Menatapku tajam.
“Maksudmu Jeng?”
“Ya seperti dalam surah Al-Fiil itu, Tuhan mengutus burung Ababil dengan menghujani batu ke arah tentara Abrahah. Aku dengar batu itu dari neraka …”
“Maksudmu Tuhan melakukan hal yang sama ke Israel.”
Aku mengangguk, yang kemudian disambut tawa oleh Mbak In.
“Tuhan maha kasih Jeng, kalau itu terjadi bagimana nasib warga sipil Israel.”
“Iya sih Mbak. Habis aku anyel banget Je, sama Israel.”
Mbak In kemudian menatap ke langit. Ia seperti tengah berusaha menenangkan diri.
“Tuhan bukan tukang azab, Jeng. Tuhan senantiasa menunggu umatNya untuk bertobat.”
Aku menghela napas. Ya, Tuhan maha kasih dan maha sayang. Semua umat di dunia Tuhan Sayang dan Tuhan kasihi, termasuk orang-orang yang zalim dengan sesamanya.
Mudah-mudahan saja saudara kita di Palestina diberi ketabahahan dan kebaikan di hari depan, dan semoga Israel yang tak tahu diri itu, segera bertobat. Meski harapan itu hampir tak mungkin.
DWY.

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Perbedaan MUI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

TELAH DIBACA

  • 103,212 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: