Perbedaan

Januari 6, 2009 at 4:07 pm 2 komentar

Saya terkesan dengan sosok perempuan berjilbab, cerdas dan pemberani juga memiliki pemikiran bahwa Islam itu sangat mulia, teduh, dialogis juga inklusif. Selamat buat Ibu Siti Musdah Mulia yang baru saja menerima penghargaan Women of Courage dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condolezza Rice, di Washington,DC. Sebelumnya wanita muslimah yang berani ngomong dan konsekuen ini juga diganjar penghargaan Yap Thiam Hien.
Beliau sangat pantas mendapatkan penghargaan itu karena pemikiran dan kontribusinya yang besar terhadap kebebasan dalam berkeyakinan. Tak peduli bila sering bertabrakan dengan pandangan ulama pada umumnya. Misal pada sikapnya yang membela minoritas kaum Ahmadiyah.
Di tengah asiknya membaca profil Ibu Musdah saya dikunjungi tetangga sekaligus sahabat saya yang mulia akhlaknya, Mbak In. Saya menjawab salamnya, dan seperti biasa, Mbak In duduk di kursi yang sama, saat berkunjung ke rumah.
“Baca apa to Jeng?”
“Ini Mbak.”
Aku menyodorkan majalah minggua edisi terbaru padanya. Tak lama Mbak In larut dengan profil dan pemikiran Ibu Musdah. Sementara saya ke dapur. Membuatkan es teh yang dicampur dengan susu kental coklat.
Begitu saya menaruh minuman di meja, Mbak In menutup majalah.
“Saya setuju dengan pikirannya.”
Aku mengangguk.
“Kita memang sering keliru dalam memandang kepercayaan orang lain, Jeng.”
Bila sudah begini, saya harus siap menjadi pendengar yang baik. Saya memastikan Mbak In akan mengeluarkan unek-uneknya.
“Bagus memang menganggap selain Islam adalah kafir, tapi kita meski sadar. Mereka juga sama dengan kita, umat Tuhan. Kita tak boleh mencampuri urusan keyakinan orang lain, apalagi memvonis sesat. Orang keyakinan itu kan hal yang mutlak. Gak bisa ditawar-tawar lagi. Kita tak boleh menzalimi mereka yang berbeda keyakinan dengan kita, Jeng.”
“Iya Mbak aku setuju.”
“Kekeliruan kita yang lain adalah, kita belum terbiasa dengan perbedaan. Kita sering memandang gereja itu dengan pikiran riuh, tempat orang kafir. Demikian juga dengan agama lain. Gawatnya lagi kalau ada orang tua yang melarang anaknya bergaul dengan mereka yang berbeda keyakinan. Lalu memandang keyakinan lain itu salah. Calon penghuni neraka, aduh…capek deh.”
Aku mengangguk-angguk.
“Yang penting bagi kita Jeng, tanamkan aqidah yang kuat kepada anak-anak. Ajari mereka sikap bisa menerima perbedaan. Juga sikap menghormati keyakinan orang lain.”
Aku mengangguk-angguk lagi, jadi ingat lagunyaProjeck P. Ngguk angguk angguk angguk angguk….
“Satu lagi Jeng, ini penting sekali.” Wajah Mbak In serius. Aku jadi ikut serius.
“Jauhkan anak-anak kita dari sikap kampungan.”
“Apa itu Mbak In.”
“Ya …. Jangan suka main gebuk, main pukul sama penganut keyakian lain.”
Aku mengangguk-angguk lagi.
“Jeng.”
“Ya Mbak.”
“Dari tadi mengangguk-angguk aja. Ngomong dong.”
“Ya saya sependapat dengan sempeyan.”
“Saya yakin kok, keluasan Tuhan itu tak bertepi.”
Mbak In gak ngomong lagi. Kali ini aku belum bisa mencerna kalimatnya. Sepertinya Mbak In masih menyimpan kalimat selanjutnya.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Tahun Baru? ISRAEL

2 Komentar Add your own

  • 1. lovie  |  Januari 18, 2009 pukul 9:58 am

    ya mbak, aku juga sepakat dengan kalian…perempuan berjilbab yang perpikiran terbuka….seandainya sejuta perempuan berjilbab dan ibu dengan pemikiran keren seperti mbak..mungkin lingkungan kita akan aman-aman saja dari godaan “agamaku benar…agamamu salah!” itu yang sering orang lontarkan kepada orang yang beragama lain. aku seorang muslim kadang kecewa dengan sesama muslim yang tidak meng-up grade kualitas ilmunya. buatku urusan dengan tuhan adalah urusan individu…urusan dengan sesama yang harus dijaga…..
    aku muslim…suamiku kristen…suatu perjalanan yang panjang memang sebelum memutuskan untuk menikah…dan hingga detik ini suamiku gak pernah mengajak aku untuk memeluk agamanya….dia setuju dengan kata-kata Ghandi….jika ingin menjadi Hindu jadilah Hindu yang baik, jika ingin menjadi Kristen jadilah Kristen yang baik, jika ingin menjadi Muslim jadilah Muslim yang baik.

    cuma curhat mbak..hehehe…
    sebagai pelaku perkawinan beda agama….boleh kok diajak sharing hehehe……..

    Balas
  • 2. dianing  |  Februari 7, 2009 pukul 4:04 am

    Halo mbak Lovie, sorrry nih baru buka blog. Keasikkan facebook hehehe.
    Iya, aku setuju dengan pendapat Mbak, urusan dengan Tuhan emang urusan yang sangat, sangat individual. Saya percaya kok, Tuhan itu maha Luas. Keluasan Tuhan tak bertepi. Dia menerima semua ibadah umatNya. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu… sedang manusia cenderung alpa. Hehehe kok saya tiba-tiba mendadak seperti juru dakwah… hehehe.
    Salam hangat buat keluarga mbak Lovie.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

TELAH DIBACA

  • 103,212 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: