Jilbab Hati

Desember 25, 2008 at 3:17 pm 1 komentar

Rizki sama Fira paling suka lagu pop yang dinamis, rancak dan pastinya enak didengar. Saya dan mereka sering lihat bareng acara musik di televisi. Gaya penyanyi atau grup band ketika di menyanyi di panggung selalu menerbitkan semangat baru, terutama yang liriknya mampu mencerahkan jiwa. Kaki berjingkrak-jingkrak, lalu tangan mengepal ke atas seringkali ditirukan oleh Rizki.
Beberapa waktu lalu saya membaca surat kabar yang mengupas salah satu personil sebuah band harian nasional, dan hari ini melihat gambarnya di majalah dengan dandanan yang sangat lain. Publik figure itu memakai baju muslim lengkap dengan peci putih. Saya semula tak mengenali kalau gambar tersebut adalah seorang penyanyi, saya pikir seorang ulama.
“Assalamualaikum,” saya menjawab salam Mbak In. Dan seperti biasa tetangga sekaligus sahabat saya yang akhlaknya mulia itu duduk di kursi yang itu-itu juga.
“Ada berita apa Jeng?” tanya Mbak In sambil membuka majalah dan ternyata dia tertarik di halaman yang menampilkan artis. Sama dengan saya, Mbak in juga kurang mengenali penyanyi yang memang berpenampilan lain.
“Oh baru naik haji,” gumam Mbak In.
“Kapan ya Jeng kita bisa naik haji.” Saya hanya tersenyum. Pengen sih, tiba-tiba Mbak In berkata “Siapa kira kan Jeng, honor menulis bisa naik haji.”
“Mbak In guyon ya guyon, neng mbok ya gak ngono.”
Saya tak peduli apakah dia tahu arti ucapan saya. Yang saya tahu Mbak In cuma senyum-senyum.
“Tapi Jeng, aku kok lebih suka lihat dia yang pakai celana jins ketat sama kaos lalu jingkrak-jingkrak di panggung. Bernyanyi teriak-teriak dengan bebas, membangkitkan semangat hidup. Apalagi lagu terbarunya itu, Jeng. Wah itu dalam banget lho. Religius dan jauh dari kesan menggurui atau sok alim.”
Saya menautkan kening. Agak terganggu dengan kata sok alim itu, apa ya maksudnya? Habis sekarang ini kok banyak juga publik figure yang pada waktu-waktu tertentu suka mendadak berbusana santun dan selayaknya seorang yang alim. Ya, berjilbab bagi yang perempuan. Mengenakan baju koko, berpeci bahkan lengkap dengan kain sorban. Ada juga yang bergamis putih sampai hampir semata kaki, untuk kaum pria.
“Apa iya ya Mbak, dia berubah penampilan. Dari bercelana jins ketat terus sekarang gemar berbaju koko. Mungkin juga gak ya, di atas pentas berjingkrak-jingkrak dengan baju seperti itu.”
“Hust kok jadi cerewet.”
“Ups, maaf.”
“Setiap orang berhak untuk berubah Jeng, termasuk berpakaian.”
Sejenak kami saling diam.
“Aku kok jadi ingat sama artis seksi, maksudku dia tak berkerudung. Kurang lebih dia bilang gini Jeng, lebih baik hati yang berjilbab dulu, daripada fisik yang berjilbab tetapi hati masih suka mengomentari orang lain.”
Deg. Saya merasa dihantam dengan kalimat Mbak In. Saya memang sudah berjilbab kalau bepergian, tetapi bagaimana dengan hati saya ini. Duh Tuhan, Engkau pasti tahu sudah berjilbabkah hati saya?
DWY.

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Liburan Tahun Baru

1 Komentar Add your own

  • 1. kw  |  Desember 25, 2008 pukul 11:49 pm

    wow….. senang kenal dengan seorang penulis.. saya sudah baca novelnya sintren… yang baru belum siii
    🙂

    jilbab hati lebih penting pastinya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

TELAH DIBACA

  • 105,258 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: