Jessi Mustamu

Desember 18, 2008 at 2:15 pm Tinggalkan komentar

Aku sedang santai, sambil membaca surat kabar, ketika mbak In bertandang ke rumah. Mbak In segera duduk ketika aku persilahkan dia duduk.
“Tumben Jeng baca sepak bola,” ujarnya seperti tengah bilang kalau bacaanku kali ini diluar kebiasaan. Membaca rubrik olah raga, terlebih sepak bola.
“Ada tulisan Batangnya, mbak” ujarku enteng.
“Oh jadi karena ada tulisan Batang, kota tempat asalmu itu,” kali ini dengan nada setengah mengejek, tetapi merdu di telinga.
Memang judul tulisan yang menyebut nama kota kelahiranku itulah, daya tarik buatku untuk membaca isi tulisan. Injury time yang menampilkan Jessie Mustamu itu, berbicara tentang kesempatan dia melatih atlet sepak bola Batang, Persibat. Dijelaskan bila mantan gelandang tim nasional kelahiran Ambon itu tak pernah menyangka akan terdampar di kota kecil yang terletak diantara kota Pekalongan dan Kendal.
Selama ini kota Batang kurang dikenal publik Indonesia. Setiap kali saya menjelaskan asal saya, orang akan bertanya ‘Dimanakah Batang?’, Mungkin karena sedikit sekali prestasi yang ditoreh Batang ke tingkat Nasional. Prestasi sepak bola biasanya akan mengangkat nama kota ke tingkat nasional.
Mudah-mudahan saja masuknya Jessie Mustamu ke persibat Batang sebagai pelatih bisa membuat prestasi persibat kinclong di masa depan.
Saya yakin dengan disiplin latihan yang tinggi, Persibat akan meraih prestasi yang terbaik. Mengingat Jessie Mustamu merupakan mantan pemain nasional yang berpengalaman dibidangnya. Sejak 1986 hingga 1994 Jessie berkali-kali memperkuat tim nasional ke Piala Kemerdekaan Jakarta, Piala Raja di Bangkok, piala presiden Seoul, SEA Games dan Piala Pradunia. Tahun 1989.
Pada Piala kemerdekaan, Jessie bergabung dengan tim A bersama Freddy Muli, Jaya Hartono, Ricky Yacob, Mustaqim, Muhammad Zain Al-Hadad, Robby Darwis, Ferril Raimond Hattu dan Eddy Harto. Pada Prapiala 1989 Jessie ikut bergambung dengan Zurkarnain Lubis, Herry Kiswanto, Rully Nere, Jaya Hartono, Eddy Harto dan Mustaqim. Untuk penggemar sepakbola tahun itu nama-nama mereka tentu tak asing, berkat permainan mereka saya berani mengatakan di era itulah prestasi sepak bola Indonesia berada di masa Emas. Waktu itu anak-anak sampai orangtua mengenal nama-nama mereka, termasuk saya.
“Ada lagi Jeng,” ucap Mbak In. Mbak In tampak mengingat-ingat. Kayaknya di Koran ini belum menyebut nama Bambang Hermansyah deh.”
“Oh ya, ya ya.” Aku mengangguk-angguk, ikut mengingatnya.
“Ngomong-ngomong sejak kapan kesengsem sama sepak bola, Jeng.”
“Bapak saya dulu kipper (penjaga gawang). Sampai saya di sekolah dasar bapak masih suka main sepakbola. Saya ingat mbak, kaosnya warna biru, celananya hitam. Saya juga ingat, gara-gara tali sepatu sepak bola bapak yang ditaruh di tangga kedua loteng rumah di Batang, saya kesrimpet. Jatuh ke lantai, mulut saya beradu dengan lantai..”
“Berdarah jeng ?” aku lihat muka mbak In cemas.
“Iya.”
“Aduh kecian…”
Aku nyengir. Aku masih ingat, tepat saat terjatuh itulah bapak (almarhum) pas membuka pintu rumah dari luar. Waktu itu bapak baru saja pulang. Ah, masa kanak senantiasa menyisakan kenangan.
DWY.

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Kangen Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

TELAH DIBACA

  • 104,942 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: