Qurban

Desember 11, 2008 at 12:55 pm Tinggalkan komentar

Assalamualaikum,” spontan aku membalas salam yang datang dari arah pintu utama. Aku tinggalkan sejenak bacaanku. Menuju ke pintu dan membuka pintu. Ternyata Mbak In. Tetanggaku sekaligus sahabat yang akhlaknya mulia.
“Hay jeng bolehkah aku masuk?”
Aku tersenyum kecil. Mbak In suka rada genit bila lama nggak kelihatan. Minggu lalu ia ke Lampung, sekarang kelihatannya juga baru pulang dari bepergian jauh. Aku mempersilahkan mbak In masuk dengan bahasa isyarat. Seperti hari-hari lalu ia duduk di kursi yang sama.
“Gimana jeng Idul Adha di sini?”
“Seperti tahun-tahun kemarin mbak, kambing dan sapi berlimpah hingga dagingnya dibagi ke warga sekitar sini,” jelasku agak panjang.
“Ada yang bikin sate?” Aku mengangguk lalu terdengar helaan napasnya.
“Selalu begitu dari tahun ke tahun.” Kali ini dengan nada mengeluh. Aku duduk berhadapan dengannya.
“Maksud mbak In?”
“Qurban sekarang dengan qurbannya zaman dulu aku pikir sudah bergeser maknanya.” Aku menautkan kening kuat-kuat. Yang aku tahu yang berqurban dari dulu hingga kini yan orang-orang mampu. Sedang mereka yang menerima ya para fakir miskin.
“Berqurban sekarang ada unsure hura-hura jeng.”
Aku kian menautkan kening kuat-kuat. Hura-hura gimana to mbak.
“Kita, usai menyembelih kambing di masjid, lalu membagikan ke orang fakir, sering kita juga kebagian lalu ramai-ramai bakar sate dengan bumbu yang wah. Coba jeng pikir, apakah mereka para fakir miskin itu benar-benar menginginkan daging kambing atau daging sapi, ketimbang sembako?.” Aku terdiam. Memang sih kalau dipikir-pikir mereka belum tentu mengharapkan daging kambing atau sapi. Orang untuk beli bumbunya saja kadang susah. Kadang malah daging yang diterima dijual ke pedagang daging dengan harga sangat murah.
“Saya kok jadi mikir jeng, bagaimana cara berqurban kita, kita ganti dengan uang. Kita bentuk sebuah lembaga yang mengurusi dana qurban yang terkumpul. Kalau satu negeri ini kambing qurban terkumpul sampai seribu bahkan satu juta kali ada ya jeng.” Saya mengangguk. Mbak In melanjutkan lagi dengan idenya.
“Sejuta kambing deh jeng, orang Indonesia kan banyak orang kaya.”
“Ya ya…”
“Dari satu juta kambing itu, diganti berbentuk uang. Berapa tuh jeng uang yang terkumpul. Katakanlah harga satu kambing limaratus ribu rupiah. Wow banyak nian kan?”
“Iya ya’” aku mengangguk angguk menghitung limaratus ribu dikalikan sau juta.
“Uang itu kita gunakan untuk menyantuni kaum dhuafa, fakir miskin, dengan memberikan modal untuk usaha. Dan ini sangat penting,”mbak In menekankan ucapannya.
“Pendidikan. Kita sekolahkan anak-anak mereka, agar kemiskinan tak terlanjur mengakar jeng.”
Aku mengangguk-angguk. Mengamini pikiran-pikiran mbak In. Aku pikir tak salah kok mengganti daging kambing dengan uang, uang itu dikelola dalam sebuah lembaga dan benar-benar untuk mereka yang betul-betul membutuhkan. Para dhuafa dan fakir miskin, agar negeri ini lebih bermartabat. Mudah-mudahan Allah merahmati kita semua.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Pembantu Iqra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

TELAH DIBACA

  • 103,887 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: