Pembantu

Desember 5, 2008 at 3:24 pm Tinggalkan komentar

Tadi sore aku kedatangan sobat sekaligus tetangga yang akhlaknya sangat mulia. Mbak In. Ia baru pulang dari Lampung setelah satu minggu di sana. Di tangan kanannya tiga kantong kerupuk ditenteng.
“Jeng aku gak bawa apa-apa dari Lampung, hanya bawa kemplang. Suka kan Jeng.”
“Terimakasih Mbak, ini jajanan favorit saya kalau ke Lampung. Emang ada sih dijual di sini, tetapi kemplang di sana betul-betul terasa kemplang.”
Seperti biasa Mbak In duduk di salah satu kursi yang itu-itu juga setiap kali bertamu ke rumah. Aku beranjak dari ruang tamu sambil membawa masuk kemplang. Saya taruh kemplang di wadah transparan. Sambalnya yang mengundang selera saya taruh di atas piring sambal. Aku bawa ke ruang tamu bersama dua gelas sirup rasa sirkaya.
Eit, ada mendung menggantung di wajah Mbak In. Gerangan apa yang tengah membuatnya gundah?
“Menjadi umat yang baik itu kok susahnya minta ampun ya Jeng.”
Aku duduk, mencoba membuka diri untuk mendengarkan kalimat-kalimat Mbak In selanjutnya.
“Telinga saya terkotori tadi pagi, seusai mengantar anak-anak sekolah.“
“Telinga?”
“Ya,” balas Mbak In sembari menatap saya.
“Selama ini saya berusaha menjaga lidah untuk tidak mengumpat atau menggunjing orang. Belum berhasil sepenuhnya sih Jeng, tapi lumayanlah. Lebih parah lagi dengan hati saya Jeng,” Mbak In sejenak diam.
“Walaupun mulut saya tak menggunjing orang, tetapi hati saya masih suka usil sama orang lain. Hati saya masih suka resek sama orang lain. Terlebih kemarin,” suara Mbak In melemah. Ia menunduk. Sesal merona di wajahnya yang teduh, wajah yang senantiasa membuat saya damai setiapkali memandangnya. Duh Mbak In, jangan terlalu lama menunduk sedih.
“Kemarin sore ada pembantu rumah tangga menolak gaji dari seorang yang amat saya segani.”
Aku mulai tak sabar, ingin tahu cerita selanjutnya.
“Pembantu itu mengeluhkan gaji yang hanya seratus ribu sebulan. Ia mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah, dari mencuci baju, menyeterika, memasak, menyapu plus ngepel, cuci piring dan menjaga anak. Pulang senja menjelang magrib. Kesepakatan awal hanya menyeterika saja, makanya pembantu itu mau dibayar seratus ribu sebulan. Kenyataannya semua pekerjaan dikerjakan dan upah gak berubah.” Nada bicara Mbak In meletup-letup. Amarah membuncah di wajahnya yang damai.
“Itu kan zalim buanget,” sambung Mbak In. Sebenarnya aku penasaran siapa orang yang dimaksud Mbak In.
“Pembantu kan juga manusia, butuh gaji yang layak. Apalagi sekarang ini semua kebutuhan pokok naik.”
Aku mengangguk-angguk. Aku tak berani bertanya siapa yang dimaksud Mbak In, sebab makhluk Tuhan yang satu ini pantang bergunjing.
“Saya sedih Jeng.”
Aku menatap Mbak In.
“Saya jadi tahu aib orang lain. Tak sangka kalau dia gak menghargai betul keringat pembantu.”
Aku jadi penasaran buanget, siapa sih orangnya.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Macet Qurban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

TELAH DIBACA

  • 104,942 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: