Anak

November 25, 2008 at 3:59 pm Tinggalkan komentar

Dua hari ini aku suntuk. Maunya marah-marah melulu. Soalnya si sulung yang saleh ini susah sekali kalau disuruh mandi sore. Mandinya selalu menjelang azan maghrib berkumandang, sudah berkali-kali saya nasehati mandi sehat itu sebelum jam lima sore.
Berbagai cara sudah saya lakukan agar ia teratur soal mandi. Dari menyuruhnya sejak jam empat sore untuk mandi, tetap saja menjelang azan maghrib baru mandi. Sampai saya ancam uang jajan hanya limaratus rupiah sehari, kalau nggak mau mandi jam lima. Masih saja. Mandi tetap menjelang azan maghrib. Untuk menghilangkan bete, daripada marah-marah nggak karuan saya ke rumah Mbak In. Siapa tahu dari sahabat sekaligus tetangga yang baik akhlaknya ini aku bisa mendapatkan resep jitu menghadapi Fira.
“Halo Jeng, makan gethuk yuk. Baru mau saya antar ke Jeng eh sudah datang ke sini.” Sambut Mbak In di teras rumahnya. Ia memang tampak hendak keluar rumah. Akhirnya kami duduk di teras sambil menikmati hijaunya halaman rumah Mbak In. Aku menautkan kening. Darimana Mbak In mendapatkan barang langka ini.
“Dari Pasar Minggu, Jeng.” Seperti biasa Mbak In bisa membaca pikiranku. Ia termasuk orang yang memiliki kekuatan pikir yang ok.
“Ayo,” aku mengambil satu iris gethuk yang disodorkan ke saya. Menikmati seiris gethuk langsung bete saya sama Fira hilang.
“Mana Fira Jeng, tak kau ajak dia ke sini.”
“Itulah masalahnya,” ujarku sambil menelan gethuk.
“Apa Jeng,” tanya Mbak In antusias.
“Saya kesulitan menyuruh dia mandi sebelum jam lima sore. Aku selalu marah-marah dibuatnya. Susah nian kalau disuruh mandi. Sepertinya ucapanku ini hanya lewat saja.”
Mbak tertawa kecil.
“Malah ketawa to Mbak.”
“Ok.”
Mbak In malah makan seiris lagi gethuk yang tinggal beberapa iris itu.
“Waktu kau kecil dulu bagaimana?”
Sejenak aku diam. Aku kecil mandi memang suka seenaknya. Kalau ibu suka berkali-kali mengingatkan untuk mandi lalu memilih mendiamkan aku, nenekku yang unik. Nenek selalu membawa pelepah pisang sambil mengejarku untuk menyuruhku mandi. Aku ingat betul ucapan nenek.
“Anak perempuan jam segini belum mandi, ayo mandi,” sambil terus mengayunkan pelepah pisang berkali-kali. Nenek nggak pernah berhasil menghentikan lariku. Semakin nenek kesal aku semakin senang. Ya Tuhan apakah ini balasan buat aku?
“Gimana Jeng?”
Aku nggak bisa berujar apapun di hadapan Mbak In.
“Biasanya sih buah jambu jatuhnya tak jauh dari pohonnya.”
Aku tersenyum tipis.
“Setuju to Jeng dengan ungkapan buah jambu.”
Aku tersenyum lagi. Mbak In lalu bersikap sedikit serius.
“Tapi Jeng, jangan sekali-kali kamu memarahi anakmu apalagi memukul atau berkata buruk padanya. Memanjakan amarah, apalagi kekerasan, akan berdampak buruk pada anak.”
Aku mengangguk-angguk, meski kadang aku masih suka terbawa emosi. Marah-marah sama Fira ma Rizki, lalu menyesal. Tiba-tiba Mbak In berbisik dengan mendekatkan wajahnya ke telingaku.
“Rasulullah selalu bertutur kata lembut lho Jeng, apa sampeyan nggak ingin meneladani beliau.”
Kali ini aku menghela napas. Terlampau berat untuk bisa seperti beliau.
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Ayu Bali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

November 2008
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

TELAH DIBACA

  • 103,858 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: