Ayu

November 23, 2008 at 3:02 pm 4 komentar

Kehidupan modern ternyata makin memerlukan puisi. Akhir-akhir ini dalam acara-acara khusus, para pejabat, pengusaha, artis film, dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya makin sering terlibat dengan acara pembacaan puisi. Bahkan dalam acara peringatan penyair Chairil Anwar, para menteri pun ikut naik pentas membaca puisi.
Kalimat di atas adalah petikan dari kulit belakang Antologi Puisi Dari Negeri Poci 2.Antologi ini diterbitkan tahun 1994 oleh Pustaka Sastra, Jakarta. Buku ini memiliki kesan tersendiri bagi saya, karena dalam antologi inilah pertama kali puisi-puisi terkumpul berbentuk buku.
Aku ingat saat itu aku masih numpang di rumah bulek di asrama polisi Johar. Tetangga bulek pas seberang rumah berlangganan Suara Merdeka. Kalau tak salah hari itu Sabtu. Aku tanpa sengaja membaca akan diterbitkan antologi puisi ramai-ramai dengan nama cukup unik. Dari Negeri Poci 2. Aku bersemangat mengirimkan puisi-puisiku, aku juga mengabarkan hal ini pada Budi Tunggal Rahayu, yang biasa dipanggil Ayu, dan belakangan lebih dikenal dengan Ayu Cipta. Halo Yu, apa kabar?
Ayu kemudian mengirimkan beberapa puisinya dan masuk dalam buku Dari Negeri Poci 2. Kami cukup akrab dan sempat satu kamar kost di belakang Taman Budaya Raden Saleh. Ia perempuan yang berbeda dengan mahasiswi UNDIP lainnya. Tubuhnya kecil tapi semangat yang ia punya jauh melebihi tubuhnya yang kecil itu, he he he. Ia aktif di teater Emper Kampus UNDIP. Ia aktifis perempuan yang suka demo, suka menulis puisi juga laporan jurnalistik. Ia sempat bareng-bareng bikin teater yang anggotanya lima, perempuan semua. Aku termasuk ada di dalamnya, lalu Pipiek Isfianti, Fitri Lambang, Eris dan Ira Supit. Aduh temen-temen baikku pada ke mana kalian? Namanya Umbu, akronim dari Umi dan Ibu. Saat nulis blog ini aku tersenyum sendiri ingat jaman kita masih edan, he he he.
Yu, diantara teman-teman kita hanya kamu yang jejaknya masih aku temukan. Kamu tinggal tak jauh dari aku, tetapi kesibukanmu berkarier (sebagai wartawan) dan ngurus anak-anak membuat kita sangat jarang bertemu. Kapan ya Yu, kita ketemu lagi bercerita apa aja sampai waktu subuh masuk, seperti dulu ketika kita masih sama-sama. Salam kangen, terus berkarya sobat.
Berikut adalah satu puisinya yang aku suka.

……….!
Kucari wajah Tuhan
dalam setiap perenungan
dan dalam doa-doa pengantar damai
kualiri nadiku
dengan kelembutan nurani
bersitatap dengan kekosongan angan

Semarang, 28 Des ’93
(lepas maghrib)
DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Kartun Anak

4 Komentar Add your own

  • 1. ayu  |  Desember 23, 2008 pukul 10:15 am

    Widya
    hari ini entah aku agak bete…selain berita di metropolitan kurang greng…aku coba bongkar-bongkar arsip menjajal dunia maya dan menemukan potongan-potongan masa silam. Aku sangat kangen, entah kekangenan ini ternyata nyambung. Aku coba cari di google nama-nama kawan-kawan di Semarang. Aku klik ketemu Pipiek yang masih berteater dan punya tiga anak. tapi tidak kutemukan arie dan fitri. lalu Widya, kawan sekamar yang sekarang menjadi cerpenis dan novelis berbakat, kubaca satu-satu, aku tercekat ada namu didalam blogmu. Ah …sungguh kangen ini agak sedikit terobati. Kita ini dekat di hati dekat tempat tapi terasa jauh susah bersua. Terkadang aku ingin kembali menempuh jejak perjalanan kita berlatih teater, bersandar di pohon di raden saleh, membaca puisi bersama. Mungkin saat ini baru bisa terwujud dalam mimpi, kapan terealisasi pada dunia nyata? Ah….lagi-lagi kita kadang mengaku tak punya waktu karena tetek bengek……ya ngurus anak, pekerjaan atau sederet kesibukan lain. Yang jelas, hatiku masih seperti dulu merindukanmu wahai sahabat jiwa ibu dari anak-anak yang ranum. Adik fira sudah kelas berapa? salam sayang . aku ada blog tapi lupa paswordnya jadi gak tak isi lagi, tapi masih bisa diklik di ayucipta.blogspot.com/atu cari digoogle blog ayu cipta. kapan-kapan kita ketemuan yuuuuuk kangeeeeeeeeeen.

    Balas
    • 2. dianing  |  Desember 23, 2008 pukul 2:10 pm

      Ayu Sayaaang,
      Membaca tulisanmu, aku pengen nangis. Aduh, jejak kita di masa lalu itu kok ternyata indah banget ya. Yuk nulis cerpen dong, kalau perlu nulis novel. Dulu aku punya saingan berat Pipiek, sekarang terasa sepi Yuk. Aku pengen sampeyan mau nulis lagi, selain laporan jurnalistik. Aduh kok jadi nyinyir begini sih. Pokoknya Yuk ayo kita jalin lagi komunikasi lewat karya di berbagai media.
      Aku juga sedang mencari kawan-kawan kita seperti Pipiek, Fitri juga lainnya di Facebook. Hasilnya nihil. Kalau ketemu kasih tahu ya Yuk, please.
      Gimana kabar anak-anak Yuk? Fira sekarang kelas lima, oia besok terima rapor. Rizki sudah kelas satu,sedang adiknya Fitri (almarhum), sudah satu tahun dua bulan. Kami memberinya nama Edgina Aisha Fawnia. Yuk, ayo kita janjian ketemuan. Aku juga kangen, kangeeeeeeeeeeeeen buanget.

      Balas
  • 3. Anonim  |  Desember 30, 2008 pukul 9:56 am

    Bu, ini dua puisiku kira-kira layak kukirim ke mana ya? Wah lama gak nulis-nulis nih

    Judulnya belum ketemu

    …. setidaknya ada yang ingin aku dengar darimu
    > selain tawamu nyaring dan melengking,
    > adalah cerita tentang sebuah kisah yang membuat aku
    > menjadi bertanya: tentang aceh dan selebihnya….
    > ah, tawamu masih terngiang dan membuatku
    > terkekeh-kekeh dan kembali ingin menyaksikan engkau
    > dari jarak yang terlalu dekat
    > sungguh suaramu membuat aku jatuh cinta
    > hanya sebatas itu dan tak ingin aku teruskan….
    …..
    >
    > daun-daun tumbuh menunas pada ranting yang bertahan

    > pada dahan dan menguatkan pohonan yang kemudian
    > menaungi segala kehidupan
    >
    > tentang cinta, ia seperti pohon cedar yang membagi
    > kasihnya kepada daun, ranting, dan dahan pun akar.
    >
    > Sedangkan kematian dan cinta sesungguhnya bertautan.
    > ia akan datang menggandeng lenganmu pun aku dan
    siapa
    > pun, ke sebuah pelaminan abadi.
    >
    > Andaikan aku menjadi pengantin itu, akan kubawa
    serta
    > angsoka merah, lambang cinta yang membuat hidup
    > menjadi berarti.
    >
    > tapi, agaknya, aku akan memilih jalan penyeberangan,
    > melintas segala ruang dan kembali kepada-Nya dengan
    > ketenangan tanpa membawa sedikit rasa cinta yang
    > pernah tumpah di jalan-jalan, kecuali rasa birahiku
    > bersua dengan Tuhanku, dengan segala rasa cintaku.
    >
    > puisi 2
    jika dunia tanpa waktu
    > apa jadinya kehidupan?
    > mungkin kita tidak akan mengenal dua kutub
    > yang mempertautkan utara dan selatan
    > dimana laki-laki dan perempuan bertemu,
    > kemudian bercinta di bawah sengatan matahari pun
    > berpelukan dalam bekunya gunung es
    >
    > andai juga dunia tanpa suara
    > maka tak terasa indah desir tawamu
    > yang serupa angin membawa kesejukan menerpa
    > dedauan cedar dan cemara
    > tak pula bisa dirasakan kehangatan
    > kepakan sayap garuda
    > dan kereta kayu yang melintasi rel-rel panjang
    > tanpa batas
    >
    > di dunia sapaan cinta tak dapat diucapkan
    > Mulut laki-laki terkunci, tercekat diantara lidah
    dan
    > gigi-gigi yang gemeretak beradu
    > hanya sebatas keheningan
    > yang mampu mengungkapkan perasaan itu
    > tentu dengan isyarat-isyarat yang tak terkatakan,
    > kecuali mata batin yang beradu di dalam relung
    paling
    > dalam dan sembunyi di ceruk-ceruk karang degup nafas
    > kita
    >
    > dengan begitu, perempuan
    > akan menyerah pada keheningan yang diciptakan
    > laki-laki
    > tenggelam dalam rasa sunyinya

    Kenanga-Tangerang 2001-2008

    Balas
  • 4. dianing  |  Januari 3, 2009 pukul 4:39 pm

    Puisi ini bisa dikirim ke mana aja, bisa ke Sindo atau Republika. Sebaiknya kalau kirim lebih dari lima atau tujuh atau lebih lagi. Agar redakturnya memiliki keleluasaan dalam memilih puisi yang hendak dimuat.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

November 2008
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

TELAH DIBACA

  • 103,197 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: