Tangan yang Bercahaya

November 11, 2008 at 6:12 am Tinggalkan komentar

Cerpen: Dianing Widya Yudhistira
Sumber Suara Karya, Sabtu, 1 Nopember 2008

“INI kutukan!,” teriak seseorang memecah keheningan yang gersang. Orang-orang yang memenuhi tanah lapang itu terhenyak. Mereka memandang ke seseorang yang berteriak. Sementara orang yang berteriak kebingungan, mengapa orang-orang memandangi dirinya?

Jauh di atas sana ribuan kilometer, matahari melata. Udara meruap panas. Masing-masing orang yang berkumpul di tanah lapang itu menyeka keringat dengan ujung kain yang sudah basah oleh keringat.

Tanah lapang dengan rumput mengering itu semakin dipenuhi orang-orang kampung. Memang sejak kemarau memanjang di kampung yang terletak di kaki bukit itu, orang-orang didera penyakit linglung. Mereka frustasi menghadapi masa paceklik.

Persawahan yang menghijau berubah padang gersang, tanah pecah-pecah kehausan. Pohon Asam Kranji yang biasanya digunakan berteduh para petani, kini meranggas. Tak ada sehelai daunpun yang tinggal di pohon itu. Tinggal ranting-ranting kurus dan bugil. Setiap angin berhembus ranting itu merana. Terkapar dan menjerit berpeluk tanah kering.

Entah siapa yang pertama mendatangi tanah lapang dengan rumput terbakar itu. Hingga semua orang kampung tumpah di sana. Tak ada yang mereka bicarakan. Mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing.

Dalam hening di bawah matahari yang melata, ingatan mereka seperti dibawa ke masa lampau.

* * *
Suasana rapat kampung riuh rendah. Mereka hendak mengusir seorang mantan narapidana dengan tuduhan membunuh, yang baru saja bebas.

“Siapapun ia, ia harus diusir dari kampung kita,” sesorang berkata sambil berdiri dengan garangnya.

“Ya, kita usir dia,” balas yang lain

“Jangan sampai kampung kita terkotori olehnya,” timpal yang lainnya lagi.

“Dia sudah tua,” tukas seorang pemuda yang tak sampai hati melihat orang-orang kampung hendak mengusir seorang laki-laki tua yang tak berdaya lagi.

“Siapapun dia, tetap pembunuh.”

“Ia telah membayar bertahun-tahun di penjara,” ujar pemuda itu lagi. Sayang ucapannya tak membuat satupun orang dalam rapat itu tersentuh hatinya.

“Itu tidak cukup. Pokoknya usir. Usir!”

“Ya usir, usir, usir.”

Amarah yang mendidih dalam diri orang-orang kampung itu tak bisa lagi ditawar. Malam itu juga orang-orang kampung mendatangi rumah laki-laki tua itu.

“Dia sudah renta,” pemuda itu masih berusaha mencegah.

“Usir, usir”

“Coba kalian pikirkan,” teriakan pemuda itu menggelegar ke seluruh penjuru kampung.

Orang-orang kampung tersentak. Mereka tak mengenal pemuda itu, dan dia bukan warga kampung. Mengapa ikut campur?

“Bagaimana kalau salah satu saudara laki-laki kalian diperlakukan seperti dia. Bagaimana kalau bapak kalian, menantu kalian atau anak kalian diperlakukan seperti dia.”

Sejenak orang-orang kampung terdiam. Mulut mereka tercekat.

“Usir!,” teriakan di tengah keheningan itu memecah darah dan urat nadi. Bersahut gema bergemuruh.

“Usir, usir”

* * *

Laki-laki tua itu baru saja merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang sudah uzur dan berdebu. Lama rumah itu tak ditempati membuat dinding rumah, dan semua perabotan yang ada di dalam rumah berdebu, rapuh bahkan rusak.

Teriakan-teriakan tak beraturan memaksa laki-laki tua itu mengurungkan niatnya untuk tidur. Dengan langkah terseret ia mendekati pintu rumah dan membukanya. Ia tercengang begitu dilihatnya orang-orang kampung memadati halaman rumahnya. Belum sempat ia bertanya ada apa, orang-orang kampung menyuruhnya angkat kaki dari rumah.

“Ini rumahku,” bela laki-laki tua itu.

“Ya ini rumahmu yang kau beli dengan membunuh.”

“Tidak! Rumah ini aku beli dengan keringatku, aku menabung bertahun-tahun dari setiap butiran keringatku.”

“Pokoknya pergi!”

“Pergi..!!!” sahut orang-orang kampung serentak. Sementara itu sang pemuda dari kejauhan geleng-geleng kepala.

Laki-laki tua itu bersikukuh diam di rumah. Melihat kebandelannya, orang-orang kampung bertambah marah. Mereka mulai melempari rumah laki-laki itu dengan batu, botol, juga sendal.

“Bakar!.”

“Jangan!,” teriak kakek tua.

Sia-sia.

Titik api pertama terpecik di sudut atap rumah itu. Dalam waktu singkat rumah laki-laki tua itu dipenuhi api. Api membubung tinggi ke udara. Dan laki-laki tua itu terkepung di dalamnya. Orang-orang kampung itu seperti ingin menyaksikan terbakarnya rumah itu dengan tuntas, dan ingin memastikan laki-laki tua itu terpanggang. Bahkan mereka dengan yakin memastikan laki-laki tua itu mati. Itu berarti orang-orang kampung tidak perlu lagi mengusirnya, melainkan menguburnya. Itu artinya kampung mereka akan bersih.

Ya, bagi orang kampung di kaki sebuah bukit itu kejahatan apapun harus dienyahkan dari muka bumi. Satupun titik api tak mereka lihat. Sekarang tinggal asap teronggok di atas bumi yang gosong. Tak satupun benda tersisa. Semua hangus, tinggal debu menghitam. Orang-orang kampung tampak riang. Mereka tak menemukan laki-laki tua itu.

“Ia telah mati,” seru salah satu orang kampung.

“Kampung kita bersih.”

“Ya.”

“Lihat!,” teriak seseorang sambil menunjuk ke arah rumah yang terbakar.

Semua mata tertuju ke telunjuk seseorang itu. Tampak samar-samar bayangan sosok laki-laki tua tengah berjalan tertatih-tatih menuju mereka.

“Siapa dia.”

“Pembunuh itu..”

“Tidak mungkin.”

Semakin lama semakin jelas. Sosok yang semula seperti bayangan itu nyata. Semua orang terperangah. Laki-laki tua itu sedikitpun tak terluka. Tubuhnya bersih. Ia bisa berjalan dan masih hidup.

Di depan orang-orang kampung, laki-laki tua itu menatap tajam satu persatu orang-orang kampung. Ia tak berkata apapun. Hanya berlalu, berjalan menuju ke arah utara. Orang-orang kampung menatap kepergian laki-laki tua itu dengan heran. Bagaimana mungkin manusia biasa tidak mati terbakar oleh api yang melumat rumahnya?

* * *

Dalam keheningan, melintas seorang pemuda di depan orang-orang kampung yang sedang berkumpul di tanah lapang berumput kering.

“Kalian ingat ketika mengusir seorang laki-laki tua karena tuduhan membunuh?”

“Ingat,” jawab mereka serempak dengan suara teramat lirih tanpa semangat.

“Kalian mengusirnya karena tuduhan itu.”

“Ya,” masih dengan suara lirih.

“Padahal ia telah renta.”

“Ya.”

“Mestinya kalian melindunginya, tetapi malah membakar rumahnya.”

“Ya.”

Tanpa mereka tahu, pemuda itu menghilang.

Orang-orang kampung tersentak.

“Pasti bukan manusia biasa.”

“Malaikat?”

“Mana mungkin kita melihat malaikat.” “Hantu?”

“Bisa jadi.”

“Hantu kok muncul siang-siang.”

“Jadi siapa?”

Pemuda itu muncul kembali.

“Kalian pasti rindu kampung kalian hijau kembali, bukan?”

“Ya.”

“Bila laki-laki tua itu kembali ke sini, hujan segera turun.”

“Kita harus mencarinya,” teriak salah satu diantara orang-orang kampung.

“Percuma ia tak akan mau.”

“Ia pasti kembali ke sini.”

“Kapan?”

“Delapan tahun kemudian, delapanbelas tahun kemudian, delapanpuluh tahun bahkan delapan ratus tahun kemudian dia baru kembali ke sini. Hujan akan turun begitu ia menginjakkan kakinya di kampung ini.”

Terdengar keluhan orang-orang kampung.

“Ternyata kita salah memperlakukan laki-laki tua itu,” sesal mereka bersama-sama.

Pemuda itu menghilang kembali tanpa mereka sadari.

* * *

Kampung di kaki bukit itu pelan-pelan ditinggalkan penduduknya. Kemarau memanjang, terik matahari yang menyengat sengit membuat orang-orang kampung tidak kuasa lagi tinggal. Masing-masing dari mereka merantau ke kampung lain, bahkan ke negeri lain.

Semula mereka yang merantau satu dua orang, karena mereka berhasil di tanah rantau mereka kembali dengan membawa beberapa orang untuk merantau. Hal itu terus berulang hingga berganti tahun. Akhirnya hanya kaum perempuan saja yang tinggal. Dan semua orang yang dulu membakar rumah dan mengusir laki-laki tua itu, tak satupun tinggal di kampung itu.

* * *

Tibalah laki-laki tua itu di kampungnya yang meranggas. Kampung yang dulu makmur itu sekarang tak ubahnya kuburan luas yang sepi. Sudah delapan ratus delapanpuluh delapan tahun ia tinggalkan kampung itu.

Dengan kelebihannya, laki-laki tua itu mengumpulkan orang-orang yang masih tinggal, berkumpul di tanah lapang. Setelah berkumpul dan bertemu, orang-orang kampung heran, kok bisa mereka berkumpul di tanah lapang tanpa direncanakan.

Laki-laki tua itu tersenyum melihat semua sudah berkumpul di tanah lapang. Tanpa berkata apapun, laki-laki tua itu berdiri di tempat yang lebih tinggi. Semua yang ada di tanah lapang melihat kepadanya.

Tanpa berkata apapun, laki-laki tua itu mengeluarkan telapak tangannya. Mengangkatnya ke udara menghadap ke langit. Orang-orang kampung tak kuasa melihat telapak tangan itu. Tangan laki-laki itu bercahaya, cahayanya berkilauan menerpa masing-masing wajah orang-orang kampung. Sudah saatnya kutukan dicabut.

Semua yang berkumpul di tanah lapang itu tak kuasa membuka mata. Makin lama cahayanya berpendar meluas ke sudut-sudut kampung. Orang-orang kampung yang semuanya perempuan itu masih memejamkan mata, tatkala hujan mulai turun. Mereka masih saja memejamkan mata karena takut silau, mereka tak menyadari bila hujan telah turun. Datang lagi seorang pemuda yang dulu membela lak-laki tua. Ia berteriak,” hujan hujan.”

Orang-orang kampung serentak membuka mata, merasakan hujan setelah lupa seperti apa rasanya kehujanan. Masing-masing dari mereka bersorak, berpelukan dan tak lupa mengucap syukur pada Tuhan. Tak lama kemudian satu-satu diantara mereka meninggalkan tanah lapang dengan baju basah kuyup, juga pertanyaan yang menggantung.

“Siapa sesungguhnya laki-laki tua itu?”

* Depok, Juni 2008

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Kodok eh Bensin Aqidah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

November 2008
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

TELAH DIBACA

  • 104,302 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: