Kodok eh Bensin

November 7, 2008 at 12:05 am Tinggalkan komentar

Kemarin sore Mbak In berkunjung ke rumah. Saya baru saja selesai memandikan si kecil. Mbak In membawa koran pagi yang halaman depannya menampilkan foto Tukul Arwana.

Mbak In bertanya apakah internet di rumah bisa dipakai? Aneh dengan pertanyaannya kali ini, mengingat kami memakai jaringan yang sama. Kalau di Mbak In gak bisa ya di rumah tentu gak bisa. “Mau cari info apa Mbak?” tanyaku sembari menghidupkan komputer.

“Bensin jadi turun Jeng.”
“Syukurlah.”
“Jangan seneng dulu.”
“Kenapa?”
“Cuma gopek. Dapat apa gopek jaman sekarang, Jeng. Niat gak sih pemerintah nurunin harga  bensin. ”
“Cuma bensin Mbak yang turun?”
“Ya, dan itu berlaku mulai satu Desember. Eduan to. Niat gak pemerintah menurunkan harga bensin. Dah gitu pakai ngulur-ngulur waktu lagi. Idealnya Jeng paling nggak bensin itu turunnya seribu. Kalau cuma lima ratus, belum tentu angkot menurunkan ongkos. Benar-benar gak mikir rakyat.”
Jantungku naik turun. Mbak In suka meledak kalau sudah bicara soal nasib rakyat.

Memang kenyataan sekarang minyak tanah sudah sulit didapat. Harga perliter mencapai tigabelas ribu rupiah.  Turunnya harga bensin yang hanya limaratus rupiah seperti lipstik saja. Hanya basa-basi malah mendekati dagelannya srimulat. 

Betul yang dikatakan Mbak In belum tentu angkutan umum akan menurunkan harga. Padahal angkutan umum inilah media penting untuk mengangkut berbagai kebutuhan rakyat. Kalau angkutan tak menurunkan biaya barang-barang kebutuhan rakyat masih saja mahal. Rasanya kok memang tak ada niatan tulus dari pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya.

Saya ingat beberapa hari lalu, suami tak bisa menjemput Rizki dari sekolah. Siswa kelas satu SD itu pulang dengan naik ojek. Saya sudah sering ngobrol dengan tukang ojek yang mengantar Rizki, dia bercerita kalau penghasilan ngojek hanya cukup untuk makan saja. Susu anaknya yang berumur satu tahun enam bulan kadang terbeli kadang nggak.

Saya juga ingat pembantu saya yang mengeluh karena belum punya uang untuk membeli gas elpiji dan kompornya. “Kemarin dapat Bu, eh dijual sama bapak. Murah lagi jualnya,” sesal pembantu saya.

Ketika saya tanya kenapa dijual orang pemerintah hendak menghapus minyak tanah.  “Kepepet. Butuh uang.” Saya menelan ludah.

Usai menghidupkan komputer, aku lihat Mbak In sedang membaca koran dengan gambar foto Tukul Arwana. Wajahnya tak setegang beberapa detik lalu, sekarang Mbak In bisa tersenyum kembali dengan memandangi wajah wong Semarang itu.

Mbak In penggemar berat Empat Mata, acara yang dibawa Tukul. Ia hampir tak pernah melewatkan setiap episodenya. “Tukul itu orang hebat, ulet dan pantang menyerah. Maka berhasil ia jadi orang,” ucap Mbak In suatu ketika.

Sekarang bisa jadi Mbak In salah satu orang yang kehilangan Empat Mata. Beberapa hari lalu teguran melayang ke acara ini karena mungkin khilaf menghadirkan Sumanto dan bintang tamu lain yang makan kodok hidup-hidup. Saya sendiri tak menonton episode itu. Serem juga mbayanginya. “kok ditampilin ya adegan itu…,” gumam Mbak In sendiri.

Tiba-tiba Mbak In menutup koran. “Gara-gara kodok,” ujarnya. Ia lalu beralih ke komputer untuk mencari berita tentang harga bensin yang turun. Mukanya kembali bersungut. DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Tinju Tangan yang Bercahaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

November 2008
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

TELAH DIBACA

  • 105,258 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: