Tinju

November 4, 2008 at 2:52 pm Tinggalkan komentar

Di teras rumah, aku mendapati Mbak In tengah membaca majalah sambil tergelak. Aku yang baru saja mengantar anak sekolah jadi ingin tahu, gerangan apa yang tengah dibaca Mbak In. Rupanya Mbak In tengah membaca cuplikan wawancara majalah Tempo edisi 3-9 November 2008 dengan Yohanes Christian John, petinju kita saat ini yang kian moncer prestasinya. 

“Coba deh Jeng baca,” tunjuk Mbak In. Aku segera saja menerima dan membaca hanya bagian yang Mbak In bilang lucu. Terus terang aku kurang setuju dengan olah raga tinju, habis manusia kok diadu. Kalaupun namanya olahraga, meskinya menyehatkan tubuh kita. Ini malah dijotos, ditonjok sampai babak belur, bahkan sampai ada yang meninggal tak lama setelah bertanding. Kan ironis. Ini pendapatku yang memang sangat, sangat awam di dunia tinju. Aku juga maklum kalau mereka yang berkecimpung dan besar serta cinta dengan  tinju akan berbeda pendapat dengan pikiranku.

Aku mulai membaca cuplikan wawancara dengan Chris John, begitu nama populernya. Apa pengalaman lucu saat bertanding?        Kadang, kalau habis terpukul, rada pusing. Begitu, teng…., bel bunyi, harus balik ke sudut masing-masing. Saya bingung, di mana sudut saya. Saya jung nggak tahu menghadap ke mana. Banyak juga petinju yang ngaco. Pertandingan belum selesai, tiba-tiba petinjunya keluar. Kadang selesai pertandingan, masih nanya sudah tanding atau belum. Pernah ada teman, habis tanding, di tempat ganti dia ngomong: “Eh, hujan, hujan…., pakaian saya di luar belum diangakat.” Ha ha ha …. Yang sering terjadi petinju selesai main, terus duduk, tiba-tiba bertanya, “Saya sudah tanding belum?”  Saya jawab saja, sudah. Eh, ada juga yang masih tanya, “Hasilnya?” “Kamu kalah KO!” Memang itulah resikonya. Jadi banyak-banyak saja berdoa, supaya selamat”  Aku tersenyum tipis. Menyerahkan kembali majalah ke Mbak In,

 “Bagaimana masih benci sama tinju?” tanya Mbak In. Aku diam. Tak tahu harus mengangguk atau menggeleng. “Chris John jauh lebih mulia ketimbang para koruptor Jeng.” Koruptor lagi. “Ia berjuang membawa nama bangsa di negara lain, Jeng. Mencoba mengukuhkan kembali, menemukan kembali nama Indonesia.” Aku mengangguk. “Iya Mbak.” “Tunggu dulu,” cegahnya ketika aku hendak beranjak dari kursi yang ada di teras. “Masih benci sama tinju?” Aku mengangkat bahu. “Setiap orang berhak serta bertanggungjawab atas pilihannya Jeng.” Kali ini aku mengangguk. DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Tetangga Kodok eh Bensin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

November 2008
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

TELAH DIBACA

  • 103,230 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Salut untuk pak Ahok, tampak lugas, santai, realistis tak terbawa emosi. Malam yang cukup berkeringat di Metro TV :) 1 day ago
  • Bahagia itu sederhana, seperti menjawab pertanyaan teman mahasiswa via WA,yg menggunakan novel Nawang, untuk tugas kuliah terakhir/ skripsi. 1 day ago
  • RT @spirit_kita: 4 Maret 2017 Spirit Kita membayar angsuran biaya ujian sebesar Rp 700.000 untuk Yara. SMK AMEC, Keperawatan. Trims 2 weeks ago
  • RT @spirit_kita: 11 Maret 2017 Spirit Kita mendapat donasi dari Sahabat @spirit_kita , Rp 25.000 langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahab… 2 weeks ago
  • Berjanji lalu tak bisa menepati. Meminta maaf lalu berulangkali melakukan salah yang sama. 3 weeks ago

%d blogger menyukai ini: