Tetangga

November 3, 2008 at 8:05 am Tinggalkan komentar

Dianing Widya Yudhistira

Sumber : Seputar Indonesia, Minggu 19 Oktober 2008

MINGGU. Ini hari kedua aku menempati rumah sendiri. Kebanggaan sekaligus ketenangan mengalir dalam hatiku. Aku bisa mewujudkan keinginanku: punya rumah yang layak huni. Ada halaman, ruang tamu, kamar, dapur serta kamar mandi. Juga sedikit taman di bagian belakang. Tidak seperti rumah kontrakan yang kami huni sebelumnya. Tak ada pembagian ruangan yang tegas. Untuk membedakan ruang tamu dengan kamar tidur, aku dan istriku memisahnya dengan lemari pakaian. Kamar tidur tak ada pintu. Jika ada tamu, mata mereka akan segera tertancap ke tempat tidur kami. Aku sering malu sendiri. Sering, saat melihat isteri dan anak-anak terlelap, aku merasa berdosa membiarkan mereka tinggal di tempat seperti itu. Aku tersenyum mengingat semua itu. Sekarang aku bisa sepuasnya memandangi langit-langit kamarku, meski hanya berukuran tiga kali tiga meter. “Segera mandi,” perintah Sandra yang tiba-tiba muncul di kamar. Aku menanggapi perintah itu dengan menguap. Masih ada sisa kantuk dan lelah. Kemarin seharian berbenah dan menata rumah. Aku peluk guling. Masih ada dua hari untuk menghabiskan cuti kantor. Tidak ada salahnya memanjakan diri dengan berlama-lama di tempat tidur. “Kau masih gadis atau sudah janda…” Suara itu mengalun dari seorang perempuan persis dari sebuah rumah di depan rumah kami. Aku bertanya-tanya, siapakah perempuan itu. Apakah ia pemilik rumah itu. Aku diam-diam menikmati karaoke itu. Satu lagu selesai, perempuan yang tengah berkaraoke itu melanjutkan ke lagu lain. Kali ini lagu lama yang dulu dibawakan Elya Kadam. Aku tidak tahu apa judulnya. Dulu bapak sering menyenandungkan lagu itu sambil menjemur ikan yang diasinkan di tepi pantai. Atau ketika bapak tengah mandi. Mendegar lagu ini, aku jadi ingat bapak di kampung. Sedang apa bapak sekarang. Biasanya pagi-pagi begini bapak tengah berada di tempat pelelangan ikan. Pekerjaan bapak memang berpeluh dengan ikan-ikan. Pagi membeli ikan, usai itu dibersihkan lalu membelah badan ikan, dibumbui, selanjutnya dijemur langsung di bawah terik matahari. Bapak melakukannya selalu sambil bersenandung. Aku jadi kangen bapak. Perempuan itu menyambung ke lagu lain. Ia melantunkan Terajana. Bapak gandrung benar pada lagu ini. Dulu bapak kerap memutar lagu ini di tapenya yang uzur, hadiah dari seorang sahabat lamanya. Aku yang tidak suka musik dangdut sering protes. Jawaban bapak selalu sama: lagu dangdut mudah dipahami. Merakyat. Perempuan itu lalu menyambung ke lagu lain. Sungguh terpaksa aku menyanyi mengharapkan tuan bermurah hati… lagu Roma Irama itu dinyanyikan dengan penuh penghayatan. Mendengar lagu itu aku teringat seorang lelaki tua yang mengamen dari rumah ke rumah di daerah kami tinggal dulu. Hidup makin susah. Belum lagi harga bahan bakar minyak yang kerap naik dan sering mencekik leher. Alasannya, karena harga minyak dunia melambung. Tapi pas harga minyak dunia turun, pemerintah tak menurunkan harga minyak dalam negeri. Sungguh tak adil. Selamat malam duhai kekasih… Alamak. Perempuan itu masih betah berkaraoke. Lama-lama aku ikut bersenandung. Aku menguap lagi, mendengarkan lagi lagu berikutnya dan berikutnya. Aku mencoba menebak-nebak bagaimana sosok perempuan itu. Cantikkah dia? Penampilannya mungkin mirip-mirip artis. Atau mungkin ia seorang artis? * * * Aku membuka mata diantara kantuk yang tersisa. Aku berpikir keras apakah aku tengah bermimpi atau sudah terbangun. Sayup-sayup aku masih mendengar suara perempuan tengah menyanyikan lagu-lagu dangdut. Makin lama volume suaranya makin bertambah. “Segera mandi.” Itu yang selalu terucap dari mulut Sandra begitu aku terbangun. Seolah ia tak punya kata lain selain “segera mandi”. Karena sudah terbiasa aku tidak serta merta menuruti ucapannya. Beranjak dari tempat tidur, aku menuju ke ruang tamu. Duduk di sofa sambil mengangkat kaki ke atas meja. Satu vas bunga dari kaca berwarna ungu diisi dengan mawar putih hampir terjatuh tersenggol kakiku. Koran pagi tergeletak rapi di samping vas bunga. Kau masih gadis atau sudah janda… Suara perempuan itu terus mengalun. “Segera mandi.” Sandra sudah ada di sampingku dengan segelas kopi. “Siapa nama tetangga depan rumah, San.” Sandra menggeleng. “Sejak kemarin aku belum lihat mereka keluar, hanya pembantunya yang sesekali keluar.” “Kau mainlah ke depan.” Sandra mengernyitkan dahi. “Lihat pagarnya saja aku merinding. Tinggi banget.” Aku tersenyum. “Aku heran ibu itu tidak ada lelahnya berkaraoke,” ujarnya setengah mengeluh kemudian berlalu. * * * Masa cutiku habis. Pagi ini aku bersiap-siap mandi untuk pergi ke kantor. Seperti biasa aku suka bersenandung di kamar mandi. Tetapi baru saja aku ingin bersenandung, terdengar suara perempuan itu berkaroke sebuah lagu dangdut. Ketika masuk ke kamar mandi, aku lihat jam di dinding baru pukul enam. “Sungguh ringan perempuan itu menyikapi hidup,” gumamku. Aku tidak terlalu memperdulikan, karena aku harus buru-buru ke kantor. Pulang dari kantor, selepas magrib, suaranya masih mengalun. Kau masih gadis atau sudah janda… Apakah perempuan itu tidak berhenti menyanyi? “Mestinya dia memikirkan ketenangan orang lain,” ujar Sandra yang menyambutku pulang. “Pada saatnya dia akan bosan,” ujarku sambil membuka sepatu. “Kalau saja volume suaranya biasa-biasa saja, mungkin para tetangga maklum. Ini sudah nggak lihat waktu, suaranya kencang. Melebihi orang hajatan.” Panjang lebar Sandra berujar. Aku melangkah masuk ke dalam. Sandra mengikutiku. “Tadi siang ibu-ibu mendatangi rumahnya.” Jantungku seperti berpindah tempat. “Katanya sih sekedar mengingatkan.” “Kamu ikut?” Kali ini Sandra mendadak diam. Ia menatapku cukup lama. Membuat aku heran. Tak biasanya Sandra menatapku seperti ini. Sandra ke dapur sambil berujar bahwa perempuan yang suka berkaraoke itu ibu-ibu. Para tetangga merasa terganggu. Ternyata, peringatan tetangga itu tidak membuat perempuan itu berhenti berkaroke. Malam itu, hingga dua belas, masih terdengar suaranya. Seperti tidak lelah. Sandra gelisah. Sebentar-sebentar membalikkan badannya ke arahku. Sebentar kemudian membelakangiku. Sebentar kemudian menutup wajahnya dengan selimut, seolah ingin menghindari suara karaoke itu. Dari dalam selimut ia berteriak: “Berisik…!” Tak lama, terdengar ketukan pintu. Sandra membuka selimut. Memandangiku. “Siapa, malam-malam begini bertamu?” Aku hanya mengangkat bahu. Ketukan itu kemudian diiringi dengan panggilan namaku. Aku sangat mengenal suara itu. Itu tetangga kami. Aku tercenung ketika membuka pintu. Semua tetanggaku berkumpul di depan rumahku. “Maaf menganggu Pak… Kami mengajak Bapak untuk sama-sama mengingatkan kembali tetangga kita itu,” kata Pak Maun, kordinator gang kami. “Mendingan kita suruh pindah saja ibu itu, tidak perlu peringatan lagi,” sahut salah satu dari mereka. “Sudah diberi peringatan, tapi tidak berubah juga,” kata yang lain. “Iya, kayaknya memang ia meremehkan kita,” sahut seorang ibu. “Suaranya sih merdu, tapi lama-lama terganggu.” Aku tercengang mendengar kata-kata mereka. Diam sejenak, lalu aku berkata: “Lebih baik kita tegur lagi secara baik-baik.” Tetapi mereka sudah kadung marah. Seperti dikomando, mereka beranjak ke rumah itu. Pak Maun tidak berhasil mencegah. Aku hanya geleng-geleng kepala. Suara tetangga kami lebih keras dari pada suara Pak Maun seorang diri. * * * Hari-hari dan malam-malam berikutnya, tidak terdengar lagi suara perempuan itu berdendang. Selepas pukul 08.00 pagi, setelah bapak-bapak dan sebagian ibu-ibu pergi bekerja, gang kami menjadi sunyi. Begitu pula selepas pukul 21.00, gang tempat tinggal kami benar-benar sepi. Gang kami hanya tampak hidup pada sore hari dan selepas magrib. Bapak-bapak yang baru pulang kerja cari angin sambil ngobrol-ngobrol di mulut gang. Selebihnya, orang-orang larut dalam kesibukan masing-masing. Ibu itu sudah pergi, tapi tidak ada yang tahu kapan ia pergi. Rumah itu kini kosong. Tak jelas, apakah ia hanya pergi sementara atau betul-betul pindah dari gang kami. Tapi warga tampaknya tidak perduli apakah ibu itu pergi sementara atau selamanya. Diam-diam aku merasa kehilangan suara ibu itu. Sebetulnya, beberapa lagu yang dia nyanyikan itu kesukaanku, lagu yang penuh kenangan. Itu sebabnya, aku tidak langsung ke kamar mandi saat bangun pagi, tapi bergolek-golek dulu di tempat tidur sambil mendengar nyanyiannya. Tapi, sudah berapa pagi, aku merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak lengkap. Dan pagi ini, aku merasa menjadi puncak kehilangan itu. Aku betul-betul ingin mendengar suara perempuan itu menyanyikan beberapa lagu yang kusukai. Tapi tentulah itu sebuah harapan yang sangat sia-sia. Maka, begitu terbangun, aku langsung ke kamar mandi. Belum sempat aku menutup kamar mandi, suara Sandra memanggilku. Aku melongokkan kepala mencarinya. “Tetangga sebelah mobilnya hilang,” katanya. “Hilang?” Aku mengurungkan niat ke kamar mandi dan melangkah ke luar rumah. Dari teras rumah, aku lihat sejumlah orang lalu lalang. Begitu sampai di tubuh gang, kulihat sebuah mobil polisi parkir di sana. Sejumlah tetangga, termasuk Pak RT, sedang berkumpul di depan rumah Pak Romi. Pak Romi yang kehilangan mobil itu, rumahnya berselang empat rumah dari rumah kami. Ia tampak sedang berbicara dengan polisi. Kemudian tak hanya Pak Romi yang ikut kehilangan. Sepeda motor Pak Roy juga digondol maling di terasnya. Bahkan, aku juga kena: dua stel pakaian kerja yang baru dua-tiga kali pakai lenyap dari jemuran di halaman rumah.

*** Depok, Mei 2008

Entry filed under: CERPEN. Tags: .

Bahasa Tinju

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

November 2008
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

TELAH DIBACA

  • 102,396 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: