Bahasa

Oktober 27, 2008 at 7:16 am Tinggalkan komentar

Mbak In senja menjelang waktu magrib masuk, berkunjung ke rumah dengan busana muslim. Ia tampak jauh lebih cantik dan fres. Sangat sejuk memandang wajahnya yang dibalut kerudung itu, apalagi padu padan warna busananya pas.
Ketika Mbak In duduk, ia berkata agar aku tak usah repot buat minuman atau menyediakan makanan kecil. “Aku hanya sebentar,” ucapnya lagi. Mbak In memandangi televisi kami yang waktu itu tak nyala, “Tumben gak lihat berita Jeng.” “Capek, beritanya muter-muter” ucapku sekenanya. “Muter-muter?” “Ya gak jauh dari korupsi, politisi yang mendadak jadi model, yang gres tawuran yang dilakukan oleh mahasiswa, calon intelektual. Emang hanya segelintir tapi kok tetap saja mengenaskan,” ucapku mulai tertular oleh kalimatnya yang panjang kalau sudah bicara soal sosial.
Mbak In mengangguk-angguk. “Jeng,” panggilnya kemudian sambil menatapku. “Aku baru saja mendebat ustad yang ngasih pengajian di masjid” Aku terkejut. “Kenapa?” Mbak In tampak menenangkan diri. “Gini Jeng,” berhenti sejenak lalu menghela napas. “Ustad itu bilang, orangtua sekarang lebih suka memberi les bahasa Inggris dengan biaya mahal sekalipun, ketimbang menuntun anaknya berbahasa Arab. Dia memberi kesan gak bagus gitu lho Jeng sama bahasa Inggris. Seolah-olah dengan berbahasa Arab kita bisa masuk surga, lebih beriman, bla bla bla. Anyel aku. Sedangkan anak saya sekolah di sekolah Islam, dia minta les bahasa Inggris karena suka. Kami mendukung. Pertimbangan saya Jeng, dengan pandai berbahasa Inggris dia tak punya kesulitan bila kuliah di luar negeri. Selain itu hampir setiap kantor yang ditanya bisa bahasa Inggris nggak? Saya jarang dengar perusahaan nanya bisa bahasa Arab gak.” Saya menghela napas, Mbak In bicara seperti tak ada titik apalagi koma. Tapi ok, aku siap menampung lagi kalimat-kalmatnya. “Mestinya ustad itu ya gak usah menjelekkan bahasa manapun, toh kepandaian bahasa Inggris menunjang seseorang mendapatkan pekerjaan. Dengan bekerja bisa memenuhi kebutuhan sendiri, kalau lebih rezeki berbagi kepada yang membutuhkan. Iya kan Jeng.” Iya Mbak.” Kami diam sejenak. “Emang sih Jeng, setiap orang siapapun ia, memiliki pilihan sendiri-sendiri.” “Maksud Mbak?” “Ya, kita meski ikhlas melihat orang lain itu orang lain, bukan saya.” Aku mengangguk. Azan maghrib mengalun. “Maghrib Jeng, saya pulang dulu.” Aku mengangguk lagi. Beranjak dan mengantarnya hingga ke halaman.
DWY

Iklan

Entry filed under: Uncategorized.

Bayang-bayang Wening Tetangga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 104,302 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: