Bayang-bayang Wening

Oktober 24, 2008 at 4:31 pm 4 komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Sumber NOVA, No. 1076 6-12 Oktober 2008

Senja mengapung di sudut langit. Semburat warna keemasannya memantul ke lantai teras rumah, menciptakan bayang-bayang Wening. Bayang-bayang yang barangkali kian mengabur dimakan waktu, hingga hanya meninggalkan kenangan. Si bungsu itu telah meninggalkan rumah kemarin pagi bersama suaminya.
Aku hela napasku yang mulai memendek. Menatap langit senja yang redup. Beberapa detik lagi matahari benar-benar lingsir. Di udara aku lihat tinggal beberapa burung yang melintas, mereka pasti sedang menuju ke sarang, menikmati kehangatan tempat berteduh serta keciap anak-anak.
Aku jatuhkan pandanganku pada lantai teras rumah yang warnanya mulai memudar. Lalu ujung kaki kursi malas itu, yang biasa dipakai Wening, seperti mengatakan padaku bila anak bungsuku itu juga punya hak hidup mandiri, lepas dari pelukan ibunya. Ia berhak tinggal dimana pun, bahkan jauh dari aku. Apalagi bersama suaminya.
Aku kian dalam menekuri lantai teras. Maafkan ibu, Wening. Selama ini aku terlampau mengekangnya. Tidak memberi kesempatan padanya sedikitpun untuk jauh dariku. Bahkan, aku tidak mengizinkannya kost di dekat kampus. Aku menolak argumennya tentang efisiensi waktu bila tinggal dekat dengan kampus. Aku selalu punya argument yang lain, yang mematahkan argumennya.
“Kan ada mobil yang bisa kamu pakai. Lagipula ke kampus tak jauh dari rumah, juga tak macet.”
Perbedaan pendapat antara kami selalu aku yang memenangkan. Wening pun terpaksa menerima keinginanku agar tetap tinggal di rumah. Setiap pagi, ia melaju ke kampus di bilangan Depok, menyetir mobil setengah tua milik ayahnya. Aku ingat betul bibirnya manyun ketika menerima keputusan itu.
Tapi tahukah ia, semua itu aku lakukan karena aku takut kesepian. ‘Kamu tahu kan ayahmu kalau sudah memegang buku, atau di depan televisi yang menayangkan wayang orang, lupa dengan sekelilingnya. Termasuk ibu. Seolah di dunia ini hanya dia saja yang tinggal. Ibu seperti tak ada dalam pikirannya.’
Entah berapa kali aku menghela napasku yang mulai memendek. Memandangi kursi malas warna abu-abu. Aku ingat betul kursi malas itu ia beli dari honor noveletnya yang dimuat bersambung di sebuah majalah wanita. ‘Hmm, kamu begitu bahagia kala itu begitu tahu novelet pertamamu dimuat di majalah itu. Setelah itu, namamu pelan-pelan membesar dan melambung. Sejumlah pengarang lelaki pun memuja-mujimu. Tak jelas, apakah mereka memuji karyamu atau justru kecantikanmu.’
Wening memang cantik. Dari semua anakku, memang hanya dia yang berkulit putih. Ketiga kakaknya kulitnya khas Asia, sawo matang, ikut kulit ayahnya. Beda dengan Wening, yang lebih mirip aku. Wajahnya senantiasa segar, seperti orang baru saja mandi, apalagi bila ia sedang riang.
Aku sempat mengkritiknya ketika membeli kursi malas itu. “Buat apa? Mau bermalas-malasan seperti ayahmu?”
“Di kursi ini aku bisa baca sepuas-puasnya,” begitu alasannya.
Aku melangkah mendekati kursi yang seolah ada sosok Wening di situ. Biarpun hanya benda mati, kursi itu mampu menebarkan aroma keringat Wening. Membuat kangenku terpintal. Aku raba sandaran kursi malas itu, di mana Wening selalu setengah merebahkan tubuhnya lalu membaca.
Ia membaca apa saja hingga adzan maghrib menghentikannya. Usai shalat maghrib, Wening akan kembali ke kursi itu untuk membaca. Kursi malas ini dihadapkan ke langit lepas, di teras rumah bagian belakang.
Terkadang, ia tak hanya membaca. Aku sering menemukannya tengah memandangi langit. Bila sehabis subuh aku dan ketiga kakaknya lebih suka jalan-jalan, ia lebih senang berdiam di kursi itu dengan tubuh tegak memandang ke langit. Entah apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya ketika menikmati wajah pagi. Yang aku tahu wajahnya begitu tenang saat melihat cakrawala.
Dari keempat anak-anakku, Wening berbeda dengan yang lainnya. Ia lebih suka di rumah sejak kanak-kanak. Mengurung diri di dalam kamar menghabiskan buku yang ia dapatkan dari ayahnya atau ia pinjam dari perpustakaan. Bila salah satu diantara kami pergi, yang ia minta selalu buku bacaan sebagai oleh-oleh.
Aku pernah mengkhawatirkannya karena tak mau bergaul dengan anak-anak di lingkungan kami tinggal. Aku takut ia menjadi pribadi yang penyendiri, tak peduli dengan sekelilingnya. Ternyata tidak. Biarpun di rumah ia hampir bisa aku katakan tak punya teman, di sekolah ia aktif. Setiap kenaikan kelas ia selalu masuk tiga besar. Selalu menjadi pengurus kelas juga aktif di pramuka serta majalah sekolah.
Aku tersenyum bangga, di luar sekolah ia juga punya prestasi. Sejak duduk di sekolah dasar, tulisan tangannya berupa puisi sudah muncul di media anak-anak. Masuk ke sekolah menengah pertama ia masih menulis puisi dan masih dimuat di media anak. Menjelang kelas tiga ia mencoba menulis cerpen remaja. Secara mengejutkan cerpen pertamanya dimuat di majalah remaja.
“Bun mau minta beli apa? Donat J.Co, Kebab Turki, Burger atau Sandwich, Pizza…”
Waktu itu Wening memandangku dengan wajah ceria. Ia tunjukkan cerpen remaja pertamanya di majalah itu. Aku memandanginya dengan decak kagum dan syukur. Aku sama sekali tak bisa menulis. Dulu, bila ada tugas mengarang dari guru bahasa Indonesia, aku orang yang pertama kali menautkan kening kuat-kuat. Mengarang itu pekerjaan paling susah. Membaca karangan orang lain pun aku tidak suka. Lalu dari mana bakat menulis itu mengalir ke tubuh Wening?
Aku raba kayu coklat yang dibuat sebagai tangan kursi. Di sinilah Wening biasa menjejakkan siku-sikunya saat membaca. Aku mencium aroma keringat Wening.
Suamiku bukan penulis, ia hanya pegawai negeri di sebuah Departemen Kesehatan. Tujuh tahun lalu memasuki masa pensiun. Kedua orang tua kami masing-masing, tak ada yang suka menulis. Bahkan kakek nenekku, hanya seorang petani nun jauh di Batang sana. Kota kecil di Jawa Tengah yang hampir setiap orang di Jakarta ini tak mengenalnya. Padahal kota ini tertera jelas di peta Jawa Tengah, berdampingan dengan kota Pekalongan.
Aku mencoba mengingat kembali sembari meraba lembut tangan kursi malas ini. Ups, Buyut Tu’i. Ya, aku ingat sekarang. Buyut Tu’i lah yang mewariskan kegemaran menulis itu pada Wening. Kata ibuku, biarpun Buyut tak pernah mengirimkan tulisannya ke koran-koran, Buyut hampir setiap hari menulis puisi. Biasanya Buyut menulis setelah pulang dari Sawah di sore hari, atau seusai membuat bekal untuk orang-orang yang bekerja di sawah, di tengah hari.
“Gethuk saja,” ucapku saat terkenang kembali pada Wening yang kemudian ia sambut dengan derai tawa.
“Kalau gethuk, yang jual termasuk makhluk langka Bun. Untuk Bunda akan Wening usahakan.”
Mengingat itu aku ingin menangis. Beberapa hari kemudian, ia benar-benar membawakan sebungkus gethuk. Ia tak mau mengatakan di mana ia beli gethuk itu, belakangan aku mengetahuinya kalau ia harus ke Pasar Minggu untuk mendapatkannya. Ya, gethuk makanan dari singkong itu menjadi barang mahal di Jakarta.
Aku menghela napas dalam-dalam. Di usia belasan tahun ia sudah sering membantu keuangan kami dengan riang. Setiap kali ia mengirim karyanya selalu minta doa restuku agar karyanya dimuat. Kegairahannya menulis kian menjadi ketika ia menjejakkan kaki di bangku kuliah.
Aku pandangi kursi malas abu-abu peninggalan Wening ini untuk kesekian kali. Ia harus pergi karena diboyong suaminya.
“Rumah terasa sepi Ning,” keluhku. Tak ada lagi yang bisa aku omelin saat menyuruhnya makan atau mandi. Dua hal ini yang seringkali membuat aku uring-uringan, merepet padanya sepuas hati. Wening susah sekali makan dan mandi. Ia sering mandi sore ketika matahari benar-benar terbenam.
Sesungguhnya aku menyesal bila memarahinya. Merasa berdosa karenanya, suamiku pun sering mengingatkan kalau Wening bukan lagi anak kecil.
Aku tengadahkan wajahku ke langit. Senja telah sempurna. Aku mulai bingung harus melakukan apa sekarang. Waktu terasa sangat lambat berjalan. Aku tak punya kegiatan. Bagun tidur hanya menanak nasi. Untuk lauk, suamiku sering melarang aku masak.
“Waktunya istirahat biar aku beli sayur sama ikan di warung,” ujarnya setiap kali aku hendak menyentuh telenan dan memegang pisau di tangan kanan. Usai itu hanya menyapu rumah dan pekarangan yang tak begitu luas. Usai itu…, ah aku merasa waktu terbuang percuma.
Bila dua puluh lima tahun silam aku direpotkan karena harus menyiapkan makan pagi untuk suami yang hendak ke kantor, juga ketiga anak-anakku yang sudah sekolah, serta menjaga Wening yang masih bayi. Bila azan subuh mendahului aku dari terjaga, alamat diri bekerja di dapur dengan perasaan riuh rendah. Berharap Wening tak terbangun saat itu. Terlambat bangun sering membuat aku bingung akan mengerjakan apa dulu. Beda bila aku terjaga pukul empat dini hari, semua bisa aku selesaikan dengan tenang.
“Masuklah, hari hampir malam.”
Aku menoleh, tak biasanya suamiku, memperdulikanku.
“Di luar banyak angin,” ujarnya lagi. Lalu terdengar langkahnya mendekatiku. Aku merapatkan baju tebalku. Lama kami hanya saling diam sambil menatap langit senja. Aku menoleh padanya, dari samping wajah tirusnya masih menyisakan ketampanan di masa muda.
“Pak.”
“Ya,” jawabnya tanpa menoleh ke arahku. Aku mengumpulkan seribu kekuatan untuk menyampaikan keinginanku.
“Aku ingin Wening dan suaminya tinggal di sini, bersamaku.”
Suamiku menghela napas mendengarnya.
“Kau lupa bagaimana dulu kita susah payah membangun keluarga? Ibuku menginginkan kita tinggal di rumah, sementara kita ingin pisah, ingin mandiri. Tak enak bukan ikut orang tua terus. Aku ingat betul kamu bilang ribet.”
Aku menunduk. Menelan ludah. Tak bisa berkutik. Terdengar lagi helaan napasnya.
“Biarkan Wening menemukan kehidupannya sendiri, seperti ketiga kakaknya. Ia sudah cukup lama mengalah dengan keinginanmu.”
Panjang lebar suamiku berargumen, sementara aku hanya terdiam dan mendengar, tak tahu harus bicara apa. Sebetulnya, aku ingin suamiku tahu, betapa selama ini aku merasa sendiri. Sebab, ia lebih sibuk dengan dirinya sendiri. Setelah Wening pergi, maka makin lengkaplah kesendirianku.

Depok, Agustus 2008

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Waktu Bahasa

4 Komentar Add your own

  • 1. eka  |  Oktober 27, 2008 pukul 3:18 am

    mbak… bagus bangets… 🙂

    Balas
  • 2. dianing  |  Oktober 27, 2008 pukul 7:00 am

    Makasih mbak, salam ya buat si kecil.

    Balas
  • 3. fitri  |  Mei 16, 2012 pukul 6:35 am

    bgus bgt mba,,,bener2 sesuai bgt dgn kehidupan ini

    Balas
    • 4. dianing  |  Mei 29, 2012 pukul 2:41 pm

      Terimakasih mba Fitri 🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 106,142 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: