Minyak

Oktober 19, 2008 at 12:43 am Tinggalkan komentar

PAGI-pagi tetangga depan rumah mengeluhkan langkanya air mineral ukuran galon. “Saya sudah mencari kemana-mana nggak ada, akhirnya beli yang isi ulang dari pada gak ada,” begitu ujar pembantu yang disuruh tuannya membeli air minum yang dimaksud. Beruntung tuannya bisa memaklumi.
Saya yang kebetulan sedang menyuapi si kecil di depan berubah bertanya apakah di warung Bella gak ada? “Gak ada Bu, di Jl. Angsana juga gak ada. Aku tenang-tenang saja karena baru kemarin mengganti galon air mineral, jadi masih penuh. Tidak dengan sore harinya ketika Mbak In datang bertamu sambil mengeluhkan hal sama. “saya sudah keliling Pamulang, Jeng. Nihil.”
Aku langsung berpikir untuk memesan lagi satu galon air mineral lewat telephon. Toko langganan saya mengabarkan kalau air mineral yang saya inginkan, kosong. Saya sebut air mineral merk lain, sama. Kosong. Yang ada isi ulang. Saya tak biasa memakai isi ulang, maka saya tak memesan satupun air isi ulang.
“Mau jadi apa sih bangsa ini.” Aku terhenyak. Gerutuan Mbak In bernada serius. “Gas ukuran 12 kg langka, disusul gas ukuran 3 kg. Sekarang air mineral gitu loh, ikut-ikutan langka.” Aku ke belakang dengan tujuan membuat semangkuk sup buah untuk Mbak In. Mudah-mudahan semangkuk sup buah bisa meredamkan Mbak In. Kalau sudah menyinggung soal sosial, situasi negara, gaya bicaranya suka meledak-ledak. Apalagi akhir-akhir ini berita tentang korupsi masih bertengger di papan atas. Umpatan-umpatan yang terekam dan beredar di kalangan masyarakat, justru datang dari orang-orang yang meskinya menegakkan keadilan di negeri ini.
Aku menghela napas di sela-sela menyiapkan sup buah. Hingga aku hidangkan ke Mbak In, ternyata dugaanku meleset. Kalimat-kalimatnya terus deras meluncur. Mbak In tampaknya kecewa berat. “Sekarag coba Jeng pikir, para mahasiswa dulu demo, ibu-ibu juga demo minta BBM jangan dinaikkan. Toh, pemerintah bersikukuh menaikkan kebutuhan khalayak ramai itu. Rakyat ini sudah tergencet kian digencet dengan kenaikan harga yang fantastik. Ironisnya pemerintah itu seperti mengebiri rakyat. Mentang-mentang orang kecil nggak tahu minyak dunia sudah turun? Pemerintah nggak menurunkan harga BBM, padahal BBM itu ibaratnya jantung kehidupan rakyat. Kalau BBM naik, harga kebutuhan pokok ikut naik. Pemerintah sekarang kalau menaikkan BBM gak tanggung-tanggung. Main pukul saja, kurang memikirkan nasib rakyat. “
Seperti biasa aku mengangguk-angguk saja. “Sekarang Jeng, ketika harga minyak dunia turun mengapa presiden tak serta merta menurunkan harga minyak. Sementara Malaysia sudah dua kali menurunkan harga BBM. Saya kok merasa negeri kita ini telah kehilangan rasa manusiawinya.” Mbak In sejenak berhenti bicara. “Sup buahnya Mbak, dicoba.” Mbak In hanya mengangguk. “Saya kok jadi berpikir, pengen jadi warga negara lain saja,” ujarnya lirih.
Saya menelan ludah. DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Reunian Minyak Tanah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 104,942 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: