Pertemuan dengan Bahaa Taher

Oktober 12, 2008 at 1:21 pm 4 komentar

Kamis sore telepon seluler saya berdering. Ternyata dari Mbak Hanik, penerbit Republika. Isinya mengundang saya untuk datang ke kedubes Mesir dalam rangka silaturahmi dengan salah satu novelis dari sana, Mr Bahaa Taher, Sabtu 11 Oktober 2008, pukul satu siang.

Sabtu, pukul 11.30, saya meluncur dari rumah, di Pondok Petir Sawangan, diantar suami dan anak-anak meluncur ke Teuku Umar No. 68. Kami melewati Pondok Cabe, Lebak Bulus, terus berbelok ke Pondok Indah. Jalan cukup lancar. Hanya di daerah jalan Karang Tengah menuju jalan TB Simatupang agak macet sedikit, ya sekitar 300 meter.

Kami lurus lewat jalan arteri Pondok Indah, Pejompongan, Duku Atas, terus jalan ke arah Manggarai. Di lampu merah pertama, kami belok kiri, memotong rel kereta, terus lalu belok kiri di Masjid Sunda Kelapa. Belok kanan lagi, lalu lurus melewati Taman Suropati. Bertemu pertigaan, kami belok kiri. Beberapa meter dari situ, tampak mobil-mobil parkir. Ternyata itu adalah nomor 68, tempat yang kami cari.

Saya turun di situ, suami dan anak-anak, Fira, Rizki dan Edgin (bersama seorang pengasuh) melanjutkan perjalanan ke Taman Ismail Marzuki. Rencananya mereka akan ke planetarium. Masuk ke lobi kedutaan saya disambut hangat oleh mereka. Nuansa islami mengental di sini. Mereka memberi salam dengan salam yang biasa umat muslim ucapkan.

Lima menit setelah saya duduk, acara dimulai. Pertama-tama duta besar Mesir membuka dan memperkenalkan novelis Mr Bahaa Taher. Beliau mengucapkan terimakasih kepada hadirin yang sebagian adalah penulis, penerbit, guru sastra arab juga jurnalis. “Saya senang berkunjung ke Indonesia dan ini kunjungan pertama kali. Saya ingin memanfaatkan kehadirannya di Indonesia untuk bertemu dengan penulis Indonesia,” katanya.

Seorang dosen sastra Arab dari sebuah universitas di Jakarta menjadi penanggap pertama dalam pertemuan itu. Ia mengaku mengalami kesulitan menemukan karya sastra Arab terkini. Alhasil yang diberikan kepada mahasiswa lebih banyak karya-karya lama.

Ada juga pertanyaan dari salah satu penerbit kepada duta besar Mesir adakah karya berupa pemikiran dari penulis Indonesia yang sudah dialihbahasakan ke bahasa arab? Sementara banyak penulis arab yang karya-karyanya dialihbahasakan ke bahasa indonesia dan laku di pasaran.

Menjawab seorang ibu, mantan jurnalis yang anaknya berusia 17 tahun sudah menerbitkan buku, Mr Taher mengatakan, di Mesir banyak sekali penulis, menulis sejak kanak-kanak dan remaja. “Tetapi baru bisa memiliki buku atau diterbitkan setelah menunggu usia 40 tahun bahkan sampai limapuluh tahun.”

Wah, dalam soal ini, Indonesia lebih beruntung. Masih anak-anak dan remaja sudah bisa punya buku. DWY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Mudik Heroik Reunian

4 Komentar Add your own

  • 1. irfan  |  November 26, 2008 pukul 9:28 pm

    salam,
    wah asyik sekali. sayang sepertinya tidak ada publikasinya ya…

    Balas
  • 2. dianing  |  Desember 4, 2008 pukul 4:12 am

    Iya Mas, thank’s. Salam.

    Balas
  • 3. Anonim  |  Mei 27, 2012 pukul 10:26 pm

    uda lama banget ya, 2008…:(

    Balas
    • 4. dianing  |  Mei 29, 2012 pukul 2:43 pm

      Yoi 🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

TELAH DIBACA

  • 103,887 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: