Cari Pahala apa Ridha?

September 2, 2008 at 1:07 pm Tinggalkan komentar

Sudah dua hari ini Mbak In gak datang ke rumah. Apakah ia sedang sakit? “Namanya juga puasa Bun, mungkin sekarang sedang menyiapkan buka puasa,” ujar Fira anak saya. Benar juga pendapat Fira, meskipun Mbak In punya dua pembantu rumah tangga ia masih suka turun tangan soal pekerjaan rumah. “Pembantu itu kan sifatnya hanya membantu Jeng. Kalau bisa kita kerjakan sendiri ya kita kerjakan sendiri. Jangan mentang-mentang kita gaji seenaknya kita suruh-suruh pembantu,” ujar Mbak In panjang lebar suatu ketika.
Aku lihat Fira sudah siap-siap berangkat les, aku menyuruhnya untuk menutup pintu dengan alasan ingin istirahat siang sebentar, tetapi baru saja Fira membuka pintu menyelinap Mbak In dengan wajah kusut. Aku menautkan kening. Mungkinkah bulan puasa begini ia bersemangat juga membicarakan carut-marut negeri ini?
Mbak In duduk di kursi yang itu-itu juga. Selalu di situ tak pernah ia duduk di kursi lain, padahal satu set kursi di ruang tamu ada empat kursi dan satu meja. Tak lama kemudian Mbak In bercerita kalau ia sedang gundah karena keinginan liburan ke Bali bisa jadi dia batalkan. Alasannya Bali sekarang tak seindah Bali dulu. Rasanya kok janggal kalau di Bali tepatnya di Klungkungan ada tawur antar warga, padahal Bali itu sejak dulu dikenal tenang, damai, indah pokoknya yang baik-baik. Hingga bom meluluhlantakkan Bali. Sekarang eh kok ada tawuran. Aneh, benar-benar aneh. “Sebenarnya Indonesia itu ramah-ramah gak to penduduknya Jeng?” Aku menggerakkan kedua bahuku. “Sudahlah sekarang kita bicara soal puasa saja deh Mbak. Biar tak pening,” ajakku.
Mbak In setuju tetapi tak lama kemudian kalimat-kalimatnya yang panjang membuat aku termenung. Kurang lebih Mbak In berujar begini, kita ini sering manja. Sering minta diperhatikan. Mentang-mentang puasa rumah makan gak boleh jualan di siang hari, alasannya untuk menghormati orang puasa. Kita ini orang kambuhan, kalau ramadhan tiba ramai-ramai beramal, menyantuni orang miskin. Lalu gotong royong membersihkan masjid. Televisi tiba-tiba islami semua. Usai ramadhan? Yach mudah-mudahan tetap bersemangat. “Yang menyedihkan lagi Jeng,” lanjutnya. “Saya sering dengar dari para ustadz kalau kita tambah rajin beribadah Tuhan akan memberi kita banyak pahala. Terus ibadah kita ke TUhan itu pamrih untuk mendapatkan pahala atau untuk mencari ridhanya.
Aku terdiam, ternyata selama ini ibadah saya acakadut alias belum benar.
Dianing WY

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Belajar Puasa ala Anak Saleh Sapi juga Makhluk Tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

September 2008
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

TELAH DIBACA

  • 105,232 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: