Novel: Sintren

Agustus 29, 2008 at 10:54 am 3 komentar

BAGIAN 1

peluncuran novel sintren

EMAK memasang muka masam di depan Saraswati. Padahal hari masih terlampau pagi bagi siapapun untuk mengungkapkan kemarahan. Melihat Saraswati memakai seragam sekolah, Emak memelototkan mata. Berkacak pinggang.
“Ganti baju!” kata Emak garang.
Kalimat pendek itu serasa petir menghujam ke jantung Saraswati.
Saraswati hanya tertunduk sembari membetulkan tali sepatunya yang sudah uzur.
“Ganti baju!” kali ini dengan setengah berteriak.
Saraswati tak berani mengangkat kepalanya apalagi menatap wajah emak. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana muka garang emak. Pasti mata emak yang sudah kecoklatan itu bertambah coklat ketika mendelik. Saraswati jadi ingat pada sosok raksasa yang hendak menangkap timun mas. Sosok timun mas yang mungil berhadapan raksasa yang sangat besar dan dengan mata mendelik. Saraswati bergidik.
“Ganti bajumu, budek.”
Kalimat emak menggelegar lagi. Meskipun bulu roma Saraswati menegang, ia putuskan pagi ini tidak boleh absen lagi. Ia tidak mau tinggal kelas. Ia ingin tetap menjadi anak nomor satu di kelasnya. Ia ingin menjadi bintang kelas. Pagi ini aku harus masuk, apapun yang terjadi.
“Tidak dengar kamu?”
Pelan-pelan Saraswati mengangkat kepalanya. Menatap wajah ibunya dengan nyali ciut.
“Saya ingin masuk sekolah, Mak.”
“Tidak tahu malu! Uang sekolahmu nunggak sampai tiga bulan, kamu masih mau masuk. Mau ditaruh dimana mukamu?”


bersambung

BAGIAN 5




Salah satu panjak sintren melihat kembali sajen yang disiapkan. Berkali-kali dilihat, seolah-olah tak yakin kalau sajen yang diperlukan sudah benar. Larasati pun ikut melihat. Setelah ia mengangguk dengan panjak sintren, barulah panjak sintren itu yakin kalau sajen sudah lengkap. Mbah Mo segera membacakan doa agar pertunjukkan malam ini tanpa rintangan.
Waktunya tiba. Sintren sudah bisa dimulai. Penabuh tethe menyentuhkan stik kecil ke atas tethe. Melahirkan simponi tersendiri.. Kian lama simponi itu seperti mengabarkan kesenyapan. Angin bertiup merayapi udara di sekitar tanah lapang. Seperti menyapu setiap pandang para penonton. Tak lama kemudian wangi melati, mawar, cempaka kenanga juga dupa menyambangi penonton. Sekarang semua sudah menyatu dengan sintren. Yang berdiri di situ tak akan pernah beranjak dari situ hingga sintren selesai.
Penabuh tethe mengubah nada dalam iringannya kemudian disusul suara gendhang. Tak lama kemudian para panjak melantunkan tembang-tembang pengiring sintren. Tembang-tembang yang harus sesuai dengan keberadaan sintren. Sekarang ini sintren tengah dikurung di bawah sangkar ayam. Demikian kalau dilihat oleh mata telanjang biasa, tetapi bila dilihat oleh mata orang pintar, saat ini Saraswati tengah duduk sendiri dengan ditunggui anak-anak kecil. Sementara tubuhnya dipinjam anak-anak kecil lain untuk dimain-mainkan seperti boneka. Saraswati kelak tidak menari-nari seperti dilihat mata biasa, tetapi ia hanya digerak-gerakkan oleh anak-anak kecil itu. Yang tampak oleh orang-orang adalah raga Saraswati, sedang jiwanya tengah lelap.
Kembang-kembang mbako.
Kocomoto abang ijo.
Sintren metu kembange ngrampyo.
Begitu tembang itu dialunkan para panjak berulang-ulang. Hingga saatnya sangkar ayam dibuka. Sosok Saraswati dengan balutan busana sintren menebarkan pesonanya. Tak ada yang tak terpana dengan penampilan Saraswati sekarang.
Sehelai jarik batik berwarna keemasan melilit dari tubuhnya yang aduhai. Dari pinggulnya hingga hampir menyentuh mata kaki. Jarik itu dikenakan dengan lilitan longgar hingga raga Saraswati bisa bebas bergerak menarikan sintren. Sementara itu kebaya brokat dengan warna senada membalut bagian atas tubuhnya. Kebaya brokat yang tranparan itu mampu menampakkan lekuk tubuh Saraswati. Pakaian dalam yang dikenakan Saraswati itu menggetarkan dada setiap penonton laki-laki. Juga mengundang decak kagum para kaum hawa. Dada Saraswati tampak penuh dengan pakaian dalam warna putih itu.
Warna kulit saraswati malam itu bersinar. Kulitnya tak lagi hitam tetapi kuning langsat dan bersih. Saraswati sekarang memang lain. Dengan berbusana sintren, ia bukan Saraswati yang pendiam dan kurus, serta tipis karena buah dadanya yang rata. Sekarang senyum Saraswati menebarkan pesona penuh goda. Bibirnya semakin seksi dengan kacamata besar warna gelap. Tubuh Saraswati tak seperti semalam sebelumnya. Malam itu tubuhnya tampak lebih berisi dan padat. Saraswati sangat sintal.
Satu gerakan kepala ke kanan saja membuat penonton yang kebanyakan kaum adam itu histeris. Panjak-panjak sintren seperti mendapat angin dengan histeria penonton. Mereka terus menembangkan tembang-tembang pengiring sintren.
Mbang cepoko putih-cepoko putih.
Sintren Saraswati mulai menggerakkan kepala ke kiri lalu menghentakkan kekinya yang mulus.
Mbang cepoko putih-cepoko putih.
Salah satu penonton diantara mereka sudah tak sabar lagi menahan keinginan untuk berjoged bareng dengan sintren. Laki-laki berwajah tirus itu segera melempar saputangan ke arah sintren. Di dunia lain, begitu sapu tangan melayang ke udara menuju raga Saraswati, anak-anak kecil yang memegangi raga Saraswati melepaskan raga Saraswati dan menepi.
“Hup.”
Saputangan itu menyentuh lengan Sintren, seketika sintren jatuh seperti pingsan. Segera laki-laki yang melempar saputangan disuruh ke dapan. Sintren Saraswati segera berdiri, dan di alam lain anak-anak kecil kembali menggerak-gerakkan raga Saraswati.



bersambung

BAGIAN 7

Orang kampung tumplek di sepanjang jalan yang terbentang membelah persawahan itu. Mereka hanya berdiri melihat ke arah pohon Mengkudu. Tak satupun dari mereka yang berani turun ke sawah, apalagi mendekat ke pohon mengkudu.
“Minggir, sudah-sudah turunkan cepat.”
Entah dari mana datangnya serombongan polisi itu. Mereka, laki-laki berseragam coklat-coklat itu dengan sigap turun ke sawah dan mendekat ke pohon Mengkudu. Beberapa orang-orang kampung berusaha mencegah, tetapi sia-sia. Polisi-polisi itu terus menuju ke pohon Mengkudu.
“Ayo turunkan,” suruh salah satu diantara mereka.
Belum sempat tubuh Kartika diturunkan, terdengar bunyi gedebag-gedebug. Tiga polisi yang kekar itu tersungkur ke tanah. Pingsan. Padahal fisik polisi sangat teruji. Beberapa yang lainnya hanya bengong melihat polisi yang teruji fisiknya itu jatuh pingsan. Orang kampung juga terkejut melihat polisi-olisi itu pingsan di tanah sawah yang kering.
“Tempat ini singit, angker,” bisik seseorang. Entah siapa.
Semua yang ada di kerumunan itu merinding. Tanah kering yang pecah-pecah di sekeliling pohon Mengkudu itu menambah suasana mistis. Apalagi angin yang bertiup meruapkan aroma aneh. Antara wangi melati, mawar, cempaka, kenanga, cendana dan kemenyan.
“Turunkan!” perintah salah satu polisi itu lagi.
Polisi-polisi itu bergerak lagi mendekati pohon Mengkudu untuk menurunkan tubuh Kartika yang menjuntai dengan selendang warna ungu. Saraswati tertegun. Selendang itu. Ia pernah melihat selendang itu melilit di pinggang Kartika. Kartika yang suka mengajar menari Jawa di balai desa pernah memakai selendang dengan warna unik. Tanpa sedikitpun lukisan di selendang itu.
Di tengah-tengah usaha Polisi menurunkan tubuh Kartika, Saraswati bergelut dengan ingatannya. Jauh sebelum ia menjadi sintren, Kartika pernah berujar aneh padanya.
“Kelak kamu akan melihat tubuh Ibu mengenakan selendang ini di pohon Mengkudu.”
Saraswati hanya mengatakan kalau pohon itu singit atau wingit. Kala itu Kartika hanya tersenyum. Kartika bahkan berkata akan membuktikan pada orang-orang kalau pohon Mengkudu itu bersahabat.
Sekarang Saraswati hanya bisa menekuri tanah tempat ia berpijak. Kartika benar-benar mendekati pohon Mengkudu itu, juga mengenakan selendang warna ungu, tetapi bukan di pinggangnya melainkan di lehernya. Lalu apa maksud Kartika bila pohon Mengkudu itu telah bersahabat dengannya?
Polisi berhasil menurunkan tubuh Kartika yang kaku. Tampak ibu Kartika yang baru tiba terkulai di tanah. Ibu Kartika meracau hebat. Menyesali kepergian Kartika yang mendadak. Saraswati menatap dengan tatapan sembilu. Tanpa ia duga ibu Kartika menudingnya dengan kasar.
“Ini karena kamu!”
“Saya.”
“Kamu, kamu …”


bersambung

Judul buku : Sintren
Penulis : Dianing Widya Yudhistira
Penerbit : Grasindo, 2007
Tebal : 296 halaman

Novel ini:
– Lima besar Khatulistiwa Literary Award 2007
– Sebelumnya pernah dimuat bersambung di Republika pada 2004.

Iklan

Entry filed under: NOVEL.

Menyambut Ramadhan Belajar Puasa ala Anak Saleh

3 Komentar Add your own

  • 1. Arsyad Indradi  |  September 6, 2008 pukul 1:37 pm

    Sayang aku belum baca bukunya namun setelah baca tulisan ini ada gambaran tentang buku tsb. Trims.

    Balas
  • 2. maya  |  Mei 2, 2009 pukul 6:45 am

    wah…. tulisan yg keren dan dalam
    hmm.. knp novel ini justru kurang menguak di perbukuan kita..??
    knp justru laskar pelangi..??

    aih.. aih….

    Balas
    • 3. dianing  |  Mei 15, 2009 pukul 3:24 pm

      Terimakasih mbak Maya, atas apresiasinya. Mungkin belum rejeki saya. InsyaAllah, selanjutnya adalah karya saya … Salam.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Agustus 2008
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 103,230 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Salut untuk pak Ahok, tampak lugas, santai, realistis tak terbawa emosi. Malam yang cukup berkeringat di Metro TV :) 1 day ago
  • Bahagia itu sederhana, seperti menjawab pertanyaan teman mahasiswa via WA,yg menggunakan novel Nawang, untuk tugas kuliah terakhir/ skripsi. 1 day ago
  • RT @spirit_kita: 4 Maret 2017 Spirit Kita membayar angsuran biaya ujian sebesar Rp 700.000 untuk Yara. SMK AMEC, Keperawatan. Trims 2 weeks ago
  • RT @spirit_kita: 11 Maret 2017 Spirit Kita mendapat donasi dari Sahabat @spirit_kita , Rp 25.000 langsung ke @dianingwy . Terimakasih sahab… 2 weeks ago
  • Berjanji lalu tak bisa menepati. Meminta maaf lalu berulangkali melakukan salah yang sama. 3 weeks ago

%d blogger menyukai ini: