Rame-rame Jadi Caleg

Agustus 25, 2008 at 4:11 pm Tinggalkan komentar

Tadi siang diantara kantuk yang memberat, ada yang mengetuk pintu. Aku membuka dengan malas. Ternyata seorang tetangga sekaligus sahabat yang suka ngomong panjang lebar soal apa saja. Apa saja bisa jadi soal di tangan dia. Dari wajahnya saja sudah terlukis ada masalah yang ingin ia sampaikan. Ia masuk setelah aku persilahkan. Tak lupa ia memberi salam. Setelah aku balas salamnya, ia langsung ngeloyor duduk dengan lungIai.
Aku duduk di sampingnya. “Ada apa lagi Jeng?” “Pusing,” jawabnya singkat. “Perlu aku ambil obat pusing?” Tak aku kira ia menatapku tajam. “Negeri ini dodol,” ujarnya lagi dengan mimik lucu. Sejenak ia membetulkan posisi duduknya. Menatapku lagi. Aku menunggu kalimat lanjutan dari dia. “Kamu ngikuti berita soal anak-anak petinggi partai yang rame-rame ikut caleg.” Aku mengangguk-angguk. “Ada yang aneh nggak?” Sekarang aku yang menatapnya.
“Ya wajar kalau anak petinggi partai terjun ke dunia politik terus maju jadi caleg.”
“Terus apa artinya dulu para mahasiswa ramai-ramai menurunkan Soeharto. Bukankah dulu nepotisme ingin dihapuskan? Kok sekarang ditumbuhkan lagi. Edan to.” Aku manggut-manggut.
“Sekarang coba Mbak pikir,” ujarnya sambil menunjuk kepalanya sendiri. “Korupsi di negeri kita ini sudah menggila, kalau kelak korupsi dilakukan oleh salah satu keluarga caleg apa jadinya?” “Maksudnya?” tanyaku. “Orang kita itu Mbak paling nggak bisa memperkarakan saudaranya sendiri ke meja hijau. Riskan. Meski tahu banyak orang dirugikan karena korupsi yang dilakukan saudaranya itu. Ngerti to sampeyan?” Kali ini aku terdiam. Ya, orang kian sering memilih tutup mulut atau melindungi bila ada salah satu saudara terlibat tindak pidana. Kalaupun berbicara jujur bisa dicap durhaka. Repot!
Dianing WY.

 

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Di Pintu Itu Artis Kita, Masa Kini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Agustus 2008
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 102,406 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Semoga di dekat kita tak ada anak yang terlantar sekolahnya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Saya tak kuasa membayangkan tubuhnya yang menua masih mencuci/menyeterika demi sekolah cucu. @spirit_kita 10 hours ago
  • Beruntung nenek yg buruh mencuci dan menyeterika, masih semangat menyekolahkan cucunya, meski sesungguhnya nenek tak berdaya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Ada remaja yg ditinggalkan ayah dengan tak menafkahi ibunya sama sekali, sementara sang ibu tak peduli dengan pendidikan anak. @spirit_kita 10 hours ago
  • Dalam minggu ini dapat cerita juga melihat sendiri, bagamana sebagian anak kita kesulitan mendapatkan pendidikan. @spirit_kita 10 hours ago

%d blogger menyukai ini: