Usai Pesta Merah Putih

Agustus 17, 2008 at 5:09 pm 2 komentar

Baru pulang nih dari merayakan hari ulangtahun negeri kita di lingkungan RT. Di sela-sela obrolan dengan tetangga ada yang setengah curhat sama saya. Rasanya kok ada yang mengganjal, kata salah satu tetangga saya itu. Apa gerangan yang mengganjal, tanya saya.
Di sela-sela lagu dangdut entah apa judulnya, lagu itu dipersembahkan oleh ibu RT yang kebetulan suaminya hari ini juga ulang tahun. Jadi ya secara tak sengaja setiap ulang tahun dari Sabang sampai Merauke ikut merayakan ulang tahunnya.
Balik ke soal curhat tadi, dia bilang kita ini kok rasanya zalim dengan saudara kita yang lain. Kita bisa makan setiap hari dengan gizi yang cukup, sementara masih banyak saudara kita yang kelaparan. Kita bisa membayar iuran untuk perayaan kemerdekaan ini dengan harga tigapuluh lima ribu. Seandainya saya jadi ketua RT, kata dia, saya akan alokasikan dana itu untuk memberikan paket sembako kepada mereka yang jelas membutuhkan bantuan. Itu akan sangat berarti. Ketimbang dengan makan-makan, nyanyi-nyanyi, rasanya kok gak ada manfaatnya. Lebih cendrung pada hura-hura. Panjang lebar dia berkata, sementara saya terpekur. Mengiyakan setiap kalimatnya.
Dalam acara itu juga, diantara lagu dangdunt dari ibu RT hati saya nelangsa. Saya ingat tayangan global TV tadi sore. Saat-saat penurunan bendera pusaka. Diakhir tayangan, diputar cuplikan masa perang mempertahankan kemerdekaan. Seperti perang di Surabaya, tampak juga Jendral Sudirman yang ditandu saat merebut kembali kota Yogya, pendudukan tentara sekutu di Jakarta hingga penyerahan kedaulatan pemerintah Belanda kepada Indonesia. Tak terkatakan perngorbanan orangtua-orangtua kita dulu. Saya menghela napas lagi, kali ini amat terasa sesak. Di berbagai media kasus korupsi mengganas di negeri tercinta ini. – Ya Tuhan, ampuni kami.
Dianing WY, Depok Agustus 2008

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Memaknai Kemerdekaan Pengibaran Sang Merah Putih

2 Komentar Add your own

  • 1. bocahbancar  |  Agustus 18, 2008 pukul 4:43 pm

    Memang ya, kalo kita pikir-pikir kita tuh memang lum merdeka. Tapi paling ga peringatan ini sebagai media yang bisa mengingatkan kita, kalo PR negara ini masih banyak(Tentunya harus digawangi oleh para pemimpin yang The right man in the right place). Numpang comment ajah he he..

    Balas
  • 2. dianing  |  Agustus 22, 2008 pukul 3:10 pm

    Saya setuju dengan anda soal sosok ideal pemimpin, cuma kok saya agak pesimis ya. Apakah negeri kita masih memiliki pemimpin yang anda maksud. Harapan saya sih masih ada, sebelum negeri ini benar-benar hilang dari peta dunia.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Agustus 2008
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 105,232 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: