Memaknai Kemerdekaan

Agustus 16, 2008 at 2:49 pm Tinggalkan komentar

Nggak terasa ya besok kita akan merayakaan bersama hari kemerdekaan republik ini. Dari tahun ke tahun kita memiliki cara yang sama untuk merayakannya, seperti mengadakan lomba makan kerupuk, memasukkan belut ke botol, bawa kelereng, memasukkan pensil ke botol.
Ada juga panjat pinang, adu bantal, merias wajah bunda oleh anak-anak, juga balap karung, main bola dengan mengenakan baju daster oleh para suami. Begitu cara kita memperingati hari yang agung ini. Saya agak miris sebenarnya. Apakah dengan cara seperti ini memaknai kemerdekaan?

Memperingati jerih payah Cokroaminoto, Bung Karno, Sudirman, Tan Malaka dan berjuta pejuang negeri ini?. Saya pikir ada cara lain yang lebih cerdas dan meski mulai dipikirkan serta direalisasikan. Seperti lomba yang mengacu pada kecerdasan pikir, kepekaan terhadap sekeliling. Tidak hanya sekedar ha ha hi hi, setelah itu lupa. Apa sih yang telah kita berikan kepada negeri ini.

Lebih miris lagi ketika dana yang kita keluarkan hanya untuk pesta pora, makan-makan bersama satu RT, dengan karaoke bersama. Kita tak riskan menikmati ikan bakar sambil bernyanyi bersama  sampai pagi. Sementara tak jauh dari kita banyak orang-orang yang kelaparan. Sulit beli beras karena sempitnya lapangan pekerjaan. Tak tersentuhkah kita pada nasib saudara kita yang memerlukan uluran tangan kita.

Saya ingin mulai detik ini, bagaimana setiap event-event penting seperti hari jadi kota, kemerdekaan kita rayakan dengan mengumpulkan dana untuk menyantuni kaum papa. Karena itu jauh bermakna, daripada untuk kegiatan yang kurang mendidik dan pesta pora yang jelas jauh dari semangat pendahulu kita. Merdeka. Meredeka melakukan sesuatu dan bertanggungjawab.  Met Ulang Tahun Indonesiaku.

 Dianing Wy, Depok Agustus 2008

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Perempuan yang Sendiri Usai Pesta Merah Putih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Agustus 2008
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

TELAH DIBACA

  • 102,396 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: