Senandung di Makam

Juli 23, 2008 at 2:32 am 1 komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Sumber: Tabloid NOVA, 7-13 Juli 2008

AKU benci makam sejak dulu. Karena makam senantiasa menciptakan kesenyapan, aroma samboja, kehilangan, juga kekalahan manusia pada takdir. Lihatlah gundukan tanah dengan batu nisan yang angkuh itu, ia seolah berkata, kelak manusia akan dilahapnya tanpa perlawanan.
Kalau saja bapak masih hidup, aku tak sudi memasuki makam. Kalau saja ibu tidak terus memaksaku, aku bisa menekan perasaanku agar tidak ke makam. Tapi ibu sering memaksa, dengan kata-katanya yang sengit, seolah-olah aku tidak mencintai Bapak. Padahal, aku sangat sayang padanya.

“Yang penting doa kita, Bu. Kita tak perlu harus datang ke sana.”
“Sangat lain kalau kita berdoa di depan makamnya, Wening. Jauh-jauh dari Jakarta, kurang sempurna kalau tak mengunjungi makam bapakmu,” ucap Ibu panjang lebar.
Aku diam. Aku tak akan pernah menang bila berdebat dengan ibu. Lagi-lagi aku mengikuti saja keinginan Ibu untuk ke makam dengan perasaan tersiksa. Dan selalu saja aku menghadapi sebuah tempat yang membuat seluruh ototku tegang, kesunyian yang teramat sangat, dan perasaan tak menentu. Berkali-kali aku mencoba menentramkan diri, tapi selalu saja yang kutemui adalah suasana yang makin sunyi, makin melambungkan aku ke dalam ketidaktentraman.
Ragu-ragu, aku mendekat ke makam bapak. Duduk. Menyingkirkan daun-daun kering di atas gundukan tanah yang ditumbuhi rumput, berdoa sejenak, lalu tubuhku seperti melayang melesat pergi dari sana. Aku tak kuat berlama-lama di sana, untuk sejenak menghayati kematianpun aku tak berani.
Bagiku hidup terasa bertuba ketika kita berpikir tentang kematian, atau ketika kita takut menghadapi kematian. Hingga hari berbilang, aku malas pulang kampung.
* * *
PERASAANKU makin tersiksa ketika ibu meneleponku kemarin malam. Ia memintaku pulang untuk menghadiri acara nyewu, selamatan seribu hari kematian bapak. Bukan cuma aku enggan ke makam, juga aku tidak tertarik acara-acara ritual seperti itu. Toh, jika ingin berdoa tidak harus dikemas dalam ritual-ritual segala. Cukup berdoa saja, sendiri-sendiri di rumah masing-masing, atau maksimal bersama keluarga saja.
“Untuk apa sih Bu mengadakan selamatan nyewu-nyewu segala.”
“Ini yang terakhir kali, Wening. Pokoknya kamu pulang.”
Ibu memutuskan telepon. Aku paling tak suka bila pembicaraan diputus secara sepihak. Aku telepon balik ke kampung. Aku katakan pada ibu tak perlu keluarga repot-repot mengadakan acara nyewu. Hanya menghabiskan biaya dan tenaga.
“Kamu tak perlu memikirkan biaya. Semua ibu yang tanggung.”
“Yang penting doa kita, Bu.”
“Dengar Wening. Semua kerabat dan tetangga sudah ibu undang dan kamu yang terakhir.”
“Wening tak pulang,” aku terbawa emosi, lupa bila yang sedang berbicara denganku adalah ibu.
“Baik.”
Aku menelan ludah. Ketegasan ibu membuatku mati kutu. Sejenak aku mengernyitkan dahi. Kali ini ibu tak lagi merajuk mengharap kepulanganku seperti hari-hari kemarin.
“Selamanya kamu tak usah pulang.”
Terdengar gagang telepon ditutup seiring geram. Aku lunglai.
* * *
Malam telah larut, tetapi aku belum juga bisa tidur. Sekarang aku merasa semakin jauh dengan ibu. Selama ini kami sering berseberangan. Dalam segala hal ibu terlalu tunduk dengan tradisi, sedang aku lebih suka berpikir yang rasional.
Bila Ibu jadi akan menyelenggarakan acara nyewu, ketiga kakakku, semua sudah berkeluarga harus pulang kampung. Bayangkan saja mereka harus mengajukan cuti, menyiapkan dana untuk pulang, juga meminta izin sekolah anak-anak. Merepotkan.
Kalau alasan Ibu acara ini untuk mendoakan almarhum Bapak, mengapa harus repot? Tuhan menerima doa semua umatnya tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Tanpa harus menguras tenaga dan pikiran banyak orang. Tapi ibu tetap ibu. Argumenku sering bablas tak berbekas di hadapannya.
Aku pandangi langit-langit kamar.
“Selamanya kamu tak usah pulang.”
Kalimat ibu seperti hendak melemparku ke jurang. Seruncing apapun hubungan kami karena perbedaan pendapat, aku tak berani membangkang ibu.
* * *
Aku tetap pulang meski terlambat. Dari balik jendela bus, wajah langit Jakarta menuju Batang, hanya ada satu lukisan. Wajah ibu yang geram dengan mata melotot di ambang pintu.
* * *
Aku susuri jalan menuju kampung. Tak banyak yang berubah, selain pohon Asam Kranji yang sekarang lebih rindang, berjajar sepanjang jalan Yos Sudarso. Kali yang membentang menuju ke lautpun masih seperti dulu. Dangkal. Pihak pemda sangat jarang mengeruk kali. Biasanya kali dikeruk saat akan turun hujan, itupun tidak setahun sekali.
Aku gelisah di depan pintu rumah yang sedikit terbuka. Terdengar suara percakapan ketiga kakakku, juga riuh rendah keponakanku. Ibu entah di mana?
“Akhirnya kau masih ingat jalan pulang, Wening.”
Aku menoleh ke belakang, kedatangan Ibu begitu tiba-tiba. Bahkan langkah kakinya tak aku dengar. Mata Ibu membulat penuh. Menatapku tajam seolah hendak menelanku.
“Maaf ,” ujarku tak kuasa menatap mata Ibu. Aku persis terpidana yang siap dieksekusi. Meskinya aku sampai di rumah kemarin pagi.
“Ibu tahu kamu sangat sibuk, lagipula acara matangpuluh, nyatus, nyewu itu kuno.” Suara Ibu terasa berat dan tegas. Aku menunduk menekuri lantai teras.
“Tapi dia bapakmu, Ning. Bapakmu” ucap Ibu lagi dengan menekankan kata Bapakmu. Aku memutar haluan. Berlari dari hadapan Ibu.
“Ke mana,” teriak ibu.”
“Ke makam bapak,” ujarku tanpa menoleh.
* * *
Bau melati, kenanga dan mawar meruap. Waktu berlari sangat cepat. Kemarin adalah hari keseribu kepergan bapak. Tak ada yang menarik. Gundukan tanah ini tak berbeda dengan makam yang lain. Bisa jadi usai seribu hari kepergian bapak gundukan tanah ini kian tak menarik. Sekali lagi aku membenci makam. Aku tak ingin berlama-lama di sini, tapi senandung siapa yang terdengar sayup-sayup? Suaranya teramat lembut, sepertinya seorang perempuan.
sukma datan adoh, makuwon ing kahenengan
ramening asamun, atebih yen tinebihna,
inggih celak yen cinelakna ugi
(artinya: sukma tidak jauh dari kita dan ada dalam diri kita. Dia akan kita temukan ketika manusia mampu mencapai kesunyian dalam keramaian. Tuhan tak jauh dari kita dan dekat dengan kita, tergantung kita.)
Perempuan itu terus mengulang senandungnya. Kian lama, kian menentramkan. Bahkan aku ingin senandung itu tak pernah putus, karena ia membawaku ke negeri yang jauh. Negeri yang damai, negeri yang hijau dengan ribuan pohon pinus, kicau burung serta gemericik air. Kian lama senandung itu kian membuatku betah di sini.
Aku mencari-cari suara itu. Seorang perempuan tengah baya sedang duduk di atas batu sambil membelai seekor kucing putih berbulu lembut. Ia terus bersenandung, sambil dan terus membelai kucingnya.
Tampaknya perempuan itu sangat menyayangi kucingnya. Aku belum pernah melihat orang sedemikian lembut, penuh kasih terhadap kucing. Aku sendiri takut dengan kucing. Ah senandung itu lagi-lagi membawaku kembali ke negeri yang jauh. Negeri yang damai, hijau dengan ribuan pinus, kicau burung serta gemericik air.
“Hampir maghrib Mbak.”
Aku dengar teguran seseorang tetapi aku terlena mendengar senandung perempuan itu. Aku terus mendengarkan dan melihat perempuan itu.
“Mbak Wening. Sebentar lagi gelap.”
Perempuan itu membiarkan rambutnya dipermainkan oleh angin.
“Mbak Wening!”
Aku tersentak.
“Maaf,” ujar penunggu makam.
Aku tak suka diganggu
“Sebentar lagi maghrib, Mbak.”
“Maghrib?”
“Ya.”
Aku lihat sekeliling. Ribuan pohon samboja, matahari lingsir, wajah langit redup. Lalu menjatuhkan pandang ke bawah. Sebuah nisan berdiri angkuh bertuliskan nama bapak.
“Astaga.”
“Mbak Wening lebih baik pulang sekarang, maaf.”
Aku mengangguk. Keluar makam dengan pertanyaan menggantung di dada.
Aku ingat betul sampai di rumah jam enam pagi, langsung ke makam bapak. Perasaan hanya sebentar tetapi mengapa sekarang sudah maghrib?
Hingga memasuki halaman rumah, aku masih merasa heran. Dari sini aku lihat Ibu tengah gelisah. Itu bisa aku lihat dari sikap duduk Ibu yang tak tenang. Wajahnya menyiratkan kegelisahan. Aku menghela napas. Adakah Ibu tengah memikirkan aku?
Hati-hati aku menghampiri pintu.
“Dari mana saja kamu.”
Baru kali ini ibu tak menyebut namaku.
“Makam.”
“Setelah dari makam kamu ke mana saja.”
Untuk kedua kalinya ibu tak menyebut namaku, melainkan menyebutku dengan kata ganti kamu.
“Wening dari makam Ibu, tak ke mana-mana.”
Ibu menatapku. Menggeleng-geleng.
“Kapan kamu berhenti jadi anak badung.”
“Kapan sih ibu percaya pada Wening,” keluhku.
“Begitu kamu ke makam, ibu ke sana. Kamu tak ada.”
Aku menatap ibu. Menautkan kening. Kalau benar ibu ke makam pasti bertemu denganku. Aku sendirian sepanjang hari di makam bapak. Tak ada orang lain, kecuali senandung perempuan dan seorang juru kunci.
* * *
Waktu berjalan lamban. Malam tak juga berganti. Padahal aku sangat ingin ke makam. Memanjatkan doa untuk Bapak, lalu mendengarkan kembali senandung perempuan itu.
“Wening,” ibu memanggil dari ambang pintu kamar. Tak lama terdengar helaan napasnya. Dari caranya menghela napas, ibu hendak mengurai kesalahanku. Itu yang sering ibu lakukan terhadapku. Hingga kadang aku merasa asing dan dibedakan olehnya.
Betapa tidak. Aku bungsu, kata orang anak bungsu sering mendapatkan kasih sayang berlimpah. Kenyataan, justru ketiga kakakku yang mendapat perhatian lebih dari ibu. Alasannya, karena mereka penurut, tidak sepertiku.
“Meskinya kamu pulang sehari sebelum acara nyewu Bapakmu.”
Ibu mengucapkannya tanpa memandangku.
“Sekarang Wening sudah di rumah.”
“Terlambat, apa artinya.”
“Wening masih bisa berdoa untuk Bapak, biarpun tak hadir pada malam itu.”
Ibu menghela nafas lagi lalu beranjak meninggalkan aku. Aku memandangi punggungnya. Kapan sih ibu menghargai pendapatku, kalau aku tak suka dengan ritual nyewu itu. Aku lebih suka berdoa dalam keheningan. Untuk berdoa tak perlu ada orang lain yang tahu.
Dadaku bergemuruh hebat. Teriakan ayam jantan terdengar. Aku lega. Pagi menjelang. Aku beranjak dari kamar, mencuci muka dan keluar rumah. Tak aku hiraukan ibu yang tengah menyapu halaman. Aku ingin cepat sampai ke makam.
Baru selangkah aku memasuki makam, senandung itu sudah terdengar. Senandung yang lain. Kali ini seperti mengabarkan kehilangan. Begitu ngelangut, sedih tak terperi. Senandung itu… Aku melangkah dengan tulang-tulang seperti lepas dari tubuh. Bahkan akupun antara sadar dan tidak.
Aku belum pernah sesepi ini sebelumnya. Senandung itu merajam darah dan nadiku. Aku belum pernah merasakan rindu seperti ini. Rindu yang tak akan pernah sampai. Aku putus asa. Lunglai di depan pusara. Senandung itu berhenti.
“Bapak,” panggilku lirih.
Senandung itu terdengar lagi. Kali ini membangkitkan ingatanku. Masa kanak-kanak bersama bapak. Bapak pernah mengajakku pergi memancing di tepi pantai. Waktu itu usiaku baru menginjak sembilan tahun. Aku mencintai laut, apalagi saat siang hendak berganti malam. Makanya aku ikut bapak memancing. Meski aku perempuan.
Aku terlalu asik bermain-main di atas bebatuan. Di atas bebatuan inilah banyak pemancing ikan duduk. Kakiku terpeleset dan jatuh ke air. Senandung perempuan itu kian mengentalkan ingatanku saat tubuhku tergulung ombak. Aku berteriak kencang memanggil bapak. Bapak melempar kail, ikan tangkapan tumpah. Bapak secepat kilat terjun ke air. Berenang mengejar tubuhku. Saat-saat aku berada diantara hidup dan mati. Aku pasrah. Aku siap mati.
Sejak itu aku takut pada laut, air, juga kematian. Aku selalu tersiksa bila ingat saat-saat tergulung ombak. Ternyata, menghadapi kematian itu sangat tersiksa. Aku jadi benci dengan hal-hal yang berhubungan dengan kematian. Aku ingin mengubur kenanganku saat-saat nyaris mati.
Kemanapun aku pergi, sebisa mungkin aku menghindari makam. Jika aku akan melewati, aku lebih suka menunduk atau menutup mata. Aku tak sudi memandangi makam.
Aku dengar lagi senandung perempuan itu. Kali ini seperti membawaku pada keheningan, kesendirian. Tanpa sanak-kadang, juga orang-orang tercinta. Senandung itu seperti tengah mengejekku: dengan cara apapun aku tak bisa menghindari makam.
Aku menghela napas. Memang, pada akhirnya aku tak bisa menghindari makam. Setiap kali pulang kampung, ibu akan menyuruhku berziarah ke makam bapak. Terlebih pada saat lebaran tiba. Ketiga kakakku pulang bersama keluarga. Tiga lebaran ini mereka selalu berziarah ke makam bapak. Aku, jelas tak bisa menghindar. Aku turut dengan mereka. Apalagi bila bola mata ibu melotot.
Selama tiga kali lebaran itu juga aku harus menjalani ritual yang menyiksa benakku. Berziarah ke makam bapak.
Aku tersentak. Kemana gerangan perempuan itu. Aku cari-cari ia dengan pandanganku ke segala penjuru makam. Tak ada, tetapi sayup-sayup senandungnya aku dengar. Kali ini seperti mengabarkan suasana di pintu kubur. Dalam senandung itu aku dengar jerit tangis, isak, juga rintihan sesal.
“Bapak.”
Aku peluk makam bapak.
Senandung itu terdengar lagi. Aku tak peduli dari mana asalnya. Saat ini yang aku inginkan adalah berlama-lama di makam bapak, berdoa sepanjang waktu untuknya, sambil terus mendengarkan senandung itu. ***
Depok, Mei 2008

Entry filed under: CERPEN. Tags: .

Pernikahan Angin Merdeka di era 2008

1 Komentar Add your own

  • 1. fajarpagi  |  Agustus 12, 2008 pukul 10:34 am

    makam adah kehidupan yang sunyi. ketika rindu datang menusuk kadang disana ada jawaban.cerpen yang bagus.


    terimakasih Mas Fajar, salam. Dianing WY

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 102,406 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Semoga di dekat kita tak ada anak yang terlantar sekolahnya. @spirit_kita 12 hours ago
  • Saya tak kuasa membayangkan tubuhnya yang menua masih mencuci/menyeterika demi sekolah cucu. @spirit_kita 12 hours ago
  • Beruntung nenek yg buruh mencuci dan menyeterika, masih semangat menyekolahkan cucunya, meski sesungguhnya nenek tak berdaya. @spirit_kita 12 hours ago
  • Ada remaja yg ditinggalkan ayah dengan tak menafkahi ibunya sama sekali, sementara sang ibu tak peduli dengan pendidikan anak. @spirit_kita 12 hours ago
  • Dalam minggu ini dapat cerita juga melihat sendiri, bagamana sebagian anak kita kesulitan mendapatkan pendidikan. @spirit_kita 12 hours ago

%d blogger menyukai ini: