Pernikahan Angin

Juli 12, 2008 at 5:26 pm Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Ini cerpen lama, saya bikin pada 1990-an, dan pernah dimuat di Majalah Horison. Tadi, ketika sedang surving, saya menemukan kembali cerpen itu pada sebuah blog [  http://goesprih.blogspot.com/2008/04/dyaning.html ]. Terima kasih kepada pemilik blog tersebut. Saya ingin kembali menampilkan cerpen itu di sini, sekalian menyimpannya.  Salam [Dianing]

Aku di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja. Senja kali ini
berwajah pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung gagak bergaun
hitam. Menari di depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan.
Seperti mengabarkan sesuatu yang ganjil.

Angin masih terlalu cinta dengan
kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahan-lahan aku sapu anak rambut yang
tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan tarian yang terluka. Entah
tentang apa.

Ketika senja berangkat ke malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan
tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi
batinku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku.

Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan
tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedauan. Gunung-gunung membisu.
Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus
kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua, melayang di udara. Jatuh. Terkulai di
tanah basah. Kesunyian kian lengkap.

Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung lengan cakrawala.
Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya dengan bebatuan. Tak ada yang
menemaniku, malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara malam ini. Hanya burung
Hantu yang mau menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu
bercerita tentang bulan dan bintang. Yang memberi aku kedamaian. Ya. Seekor
burung hantu. Menghampiriku. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari
kemarin. Mata itu redup.

Burung hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan aku temukan di sana.
“Selamat malam, Dianing.”

“Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.”
“Engkau sesungguhnya, Dianing.”

Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano sekarang Dianing.”

Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku.

“Pergilah ke hutan Para, Dianing.”

Aku menautkan kening.

“Kau akan tahu.”

Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku
dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan Para.

Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu
penglihatanku. Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat
pohon. Membisu dan gelisah.

“Inikah hutan.”

“Ya. Hutan Para.”

Suara burung hantu.
“Apa yang aku tahu.”

“Ikuti aku.”

Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu.

Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat
gulita. Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang
memburu dan aku akrab dengannya. Terpadu dengan deru nafas yang lain. Entah
nafas siapa. Aku langkahkan kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang
benderang. Astaga!!

Lismatano, laki-lakiku bergumul dengan tubuh perempuan lain. Gila!!!

Seketika itu angin kembali meliukkan tubuhnya dengan dahsyat. Memintaku kembali.
Entah dalam waktu seberapa detik menerbangkan aku. Yang jelas kurang dari satu
detik aku kembali berada di ketinggian menara.

Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di layar
komputerku yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di
sampingku.

“Untuk apa kau bawa aku.”

“Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.”

Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati segala luka hati dengan tulus.
Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.

“Apakah aku terlambat, Dianing.”

“Sama sekali tidak.”

“Mengapa batinmu begitu luruh.”

“Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.”

Burung hantu tersenyum. Mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia
yang melindungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lismatano.
Tak kan lagi aku melakukan kesalahan yang sama.

Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia
mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin.

“Selamat malam.”

Aku membalasnya dengan menguap.

“Selamat malam, Dianing.”

Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku.

“Tidurlah dengan damai.”

Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam.

Di ketinggian menara ini.

Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpaku. Sejuk.
Perlahan-lahan aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan.
Hamparan luas rumput hijau. Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di
sana. Di hamparan rumput itu mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di
hamparan luas rumput hijau itu, para bidadari tersenyum ramah.

“Oh kehidupan yang menyenangkan.”

Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini.
Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang
menghalangi nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia
bersayap dengan baju serba putih.

“Aku akan menjemputmu, Dianing.”

“Menjemputku!?”

“Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.”

Aku tak mengerti.

Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku.

“Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.”

“Ia masih terlalu muda.”

“Kehendak Tuhan.”

Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara
aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka.

Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali
padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang
aku tahu, sungguh tubuhku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan
hebat itu lepas kembali ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merintih,
terpuruk, lelah.

Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang
terluka. Ia berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku
ajang perebutan roh. Sosok bersayap itu menghendaki rohku. Burung hantu ingin
rohku tetap menyatu dengan jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit.

Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan
sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku
benar-benar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku,
kini telah diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan
berhenti.

Aku saksikan jasadku dimandikan bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang
menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika
jasadku dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat.

Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika
jasadku mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku
tersandung semak belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata
dengan tanah. Tertanam sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi
langit.

Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di
depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan
Lismatano. Aku merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam
yang lain ini aku masih mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan
menikahiku.

Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul
burung hantu. Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku.

“Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.”

“Tentang apa.”

Aku menatap burung hantu.

“Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”

“Maksudku melihat dunia.”

“Ya.”

“Baik karena cintaku aku merestui Dianing. Aku izinkan ia suatu ketika turun ke
dunia.”

Aku terpana.

Burung hantu mengepakkan sayapnya. Tersenyum dan memberi salam padaku. Aku
membalasnya dengan anggukan tulus.

“Aku tunggu kedatanganmu di dunia, Dianing.”

“Bila Tuhan mengizinkan.”

“Tentu.”

Burung hantu terbang. Ia menembus awan, mega, bintang, bulan menuju ke dunia.

UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia. Atas izin Tuhanku. Aku lewati langit
demi langit. Gemerlap bintang menyambutku, langit cerah. Bulan bulat penuh. Ia
bugil di malam yang damai itu. Aku bertemu dengan mega.

“Cukup lama kami menunggu, Dianing.”

“Oh ya.”

“Cepatlah kau temui burung hantu. Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu.”

“Ya.”

Aku lihat burung hantu terpekur sendiri. Aku lihat wajahnya sepi. Seperti
menunggu kedatangan.

“Gerangan siapa membuatmu sepi.”

Matanya berpendar. Indah sekali. Ia menjerit.

“Dianing.”

“Ya.”

Kami berpelukan. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria.

Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di
matanya. Seperti berabad-abad lalu.

“Boleh aku tahu dukamu.”

Burung hantu menatapku. Tatapan yang sulit aku urai.

“Maukah kau ke hutan Para.”

“Hutan Para!?”

“Lismatano ada di sana dengan perempuan itu.”
Aku lunglai.

Tiba-tiba begitu sepi.

“Dianing,” panggil burung hantu lirih.
“Untuk apa.”

Burung hantu masih bertengger di pohon randu.

“Bila kau berkenan. Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia.”
Aku luruh.

“Bukankah mereka telah menikah.”

Burung hantu menggeleng.

Aku terpana.

“Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu.”
“Lalu?”

“Lismatano memilih jalan buruk. Tak sekedar gelap, terjal dan mendaki.”

“Bicaralah.”

“Mereka seatap tanpa ikatan.”

“Maksudmu…”
“Ya.”

Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif. Serumah tanpa
ikatan sah sebagai suami istri.

“Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri.”

Aku kembali ke hutan Para. Lismatano, laki-laki yang pernah aku dambakan jadi
suamiku. Telah berpaling dengan perempuan lain. Hidup bersama tanpa kata yang
jelas. Di hutan Para itu aku kembali menyaksikan Lismatano bergulat dengan
perempuan yang sama. Pergulatan yang dahsyat. Aku tak kuasa melihatnya. Tapi,
entahlah mengapa tiba-tiba aku terpaku di depan mereka.

Lismatano dan perempuan itu terus bergulat. Saling menumpahkan nafsu. Deru nafas
memburu. Tiba-tiba… Aku tak percaya melihatnya. Tubuh Lismatano mengeras. Ia
berubah jadi batu. Ya. Lismatano telah membatu. Kini tak bisa bergerak. Ia dalam
keadaan yang mengerikan ketika membatu. Tubuhnya tumbuh lumut. Lebat dan kotor.
Aku terpana. Ngeri. Perempuan itu.

“Yuniz nama perempuan itu, Dianing.”

Aku hanya mengangguk. Ia tak membatu, tetapi tubuhnya berubah. Ia berkaki empat.
Besar. Tubuhnya berbulu sangat lebat. Perempuan itu berubah binatang yang sangat
mengerikan. Aku yang terpaku. Mulutnya lebar ke arahku. Siap menerkamku. Tapi
burung hantu segera menerbangkan aku.

Aku di atas pohon randu. Lismatano telah membatu dan berlumut. Sementara
perempuannya berubah binatang.

“Mengapa dengan mereka.”

“Itulah yang pantas mereka terima.”

Aku menghela nafas.

“Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka.”

Aku menekuri tanah.

Aku berada di ketinggian menara. Sebentar lagi aku harus kembali. Menikah dengan
Lismatano hanya sebuah impian yang abadi. Kini aku hanya bisa merasakan sentuhan
angin. Merasakan cinta dan kasih sayangnya. Ya. Dan aku kini mulai belajar untuk
damai dan bahagia dalam sendiri.***

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Maghfur Saan Senandung di Makam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 104,302 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: