FPI dan Keraguan Pemerintah

Juni 4, 2008 at 3:52 am 1 komentar

Tindak anarkis FPI kemarin di Monas menuai kecaman dari berbagai pihak. Dampak dari kekerasan FPI sendiri membuat saya miris. Kekerasan baru pun hadir di sejumlah daerah, semisal di Yogyakarta serta beberapa daerah lain. Saya menyayangkan mengapa mereka yang semula menetang tindak anarkis malah membalas dengan kekerasan juga. Sesungguhnya bila kekerasan FPI dibalas dengan kekerasan juga, tak akan menyelesaikan masalah.
Mestinya pemerintah bertindak cepat menyelesaikan masalah FPI.
Kekerasan yang dilakukan FPI selama ini sudah jadi modal pemerintah untuk melakukan langkah tegas. Kekerasan yang mereka lakukan sudah sangat meresahkan. Maka itu, saya bisa memahami dengan keinginan orang-orang yang menuntut FPI dibubarkan.
Yang mengganjal dalam pikiran saya, mengapa pemerintah terkesan membiarkan masalah ini berlarut-larut. Pemerintah seperti ragu bertindak. Ada apa? Apakah pemerintah sengaja membiarkan isu FPI ini menjadi lebih besar, untuk menenggelamkan isu kenaikan BBM yang diprotes banyak pihak. Jika memang pemerintah menggagendakan hal ini, sungguh tega betul pemerintah terhadap rakyatnya. Saya sangat kecewa.

Iklan

Entry filed under: Catatan.

Usai BBM, Ramai FPI. Temu Sastra Indonesia di Jambi

1 Komentar Add your own

  • 1. heruyaheru  |  Juni 28, 2008 pukul 5:08 am

    lha kapan sih SBY bisa tegas pada islam fundamentalis?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

TELAH DIBACA

  • 103,873 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @ummychasan: @detikcom Ketiganya kami cintai dan hormati, mrk bekerja u rakyat. 2 hours ago
  • RT @mesjkt: @detikcom Ke3nya adalah orang2 yg saya kagumi:jujur,bersih,berintegritas tinggi dan kerja kerasnya ikhlas buat bangsa dan negar… 2 hours ago
  • RT @virusmotivasi: Kadang seseorang menyalahkan orang lain hanya karena tak temukan kata yg tepat tuk ucapkan maaf. Dan karena itu kegagala… 2 hours ago
  • RT @virusmotivasi: Kadang kamu memilih tuk sendiri, bukan berarti kamu tak ingin dicintai, itu hanya berarti kamu butuh waktu tuk sembuhkan… 2 hours ago
  • RT @ilhamkhoiri: Afi Nihaya itu baru lulus SMA, masih 19 tahun, anak pedagang cilok, tapi catatannya inspiratif untuk bangun Indonesia yg d… 2 hours ago

%d blogger menyukai ini: