Hendak kemana Cahaya?

Mei 31, 2008 at 4:04 pm 4 komentar

Dulu ketika sinetron Cahaya baru saja ditayangkan di RCTI, saya senang melihatnya. Predikat bagus pun saya berikan untuk sinetron ini. Karena, memang awalnya Cahaya memiliki konflik yang ok, tetapi dikemas dengan model komedi. Lucu dan segar. Dalam hitungan bulan sinetron ini memiliki rating bagus, yang diakui oleh salah satu pemainnya Naysila Mirdad. Terlalu cepat tanpa ia duga.

Sayang, seperti penyakit yang biasa hinggap di dunia persinetronan kita. Ketika rating bagus maka sinetron sengaja dipanjang-panjangkan. Hingga melupakan mutu. Dan itu sangat mengganggu. Bila dulu saya senang menonton Cahaya sekarang saya jadi malas melihatnya. Kenapa cerita yang awalnya menarik dan nama-nama pemain yang oke, sinetronnya jadi kedodoran begini?

Jalan cerita yang ada dalam Cahaya sekarang sepertinya hendak mengatakan kalau penulis skenarionya sudah kebingungan bagaimana untuk meneruskan jalan cerita. Hingga cerita jadi ngawur. Bermula dari Talita yang kehilangan Raka, karena Raka kembali ke Cahaya. Lalu Talita berteman sama Satria, karena Satria belum bisa merebut hati Cahaya. Talita pun akhirnya jatuh cinta pada Satria. Di waktu yang sama, Cahaya mulai bisa menerima Satria. Konflik yang rumit seperti ini terasa dipaksakan. Cinta mencintai kok muter-muter dilingkaran yang sempit (diantara Cahaya-Raka-Talita-Satria). Seolah dunia ini begitu sempit.

Saya menghela napas sejenak untuk mengingat-ingat jalinan cerita yang mulur mungkret, mbulet, alias bertele-tele. Usai itu Talita menerima Sakti yang sebelumnya menolak mentah-mentah. Terus Cahaya menerima cinta Satria bahkan sampai menikah, sebelumnya Cahaya hampir menikah dengan Raka. Kok bisa hati berpindah-pindah tempat dengan mudahnya? Inilah kelemahan yang lain dalam sinetron Cahaya.

Terakhir yang saya lihat Cahaya sudah menikah dengan lelaki lain bernama Firman yang ternyata adalah teman Satria. Sungguh aneh jalinan cerita di sini. Ada tokoh yang tiba-tiba dimunculkan, lalu dihilangkan tanpa alasan jelas. Seperti ibu kandung asli Cahaya yang diperankan Dian Nitami. Tokoh ini sekarang menghilang, padahal selayaknya ibu kandung ketika anaknya menikah mestinya disertakan.

Bagaimana nasib Satria? Satria sekarang menikah dengan perempuan lain yang kurang ia cintai. Kok bisa laki-laki menikah dengan perempuan yang tak ia cinta? Apakah Cahaya ingin menampilkan sosok laki-laki yang lemah? Karena sepanjang cerita Satria sering menangis.
Ada lagi tokoh yang tiba-tiba muncul, nenek Satria yang tak manusiawi buanget itu. Apa mungkin ada sosok nenek yang sampai hati mencelakai istri cucu tersayangnya? Terasa sinetron ini tidak menghormati akal sehat pemirsa.

Ah, Cahaya Cahaya hendak kemana engkau?

Entry filed under: Catatan. Tags: .

Sintren Singgah di RRI Usai BBM, Ramai FPI.

4 Komentar Add your own

  • 1. avizz  |  Juni 5, 2008 pukul 7:51 am

    sama dong. aku jg ngrasa aneeeeeeeeeeeeeh bgt liat nich sinetron. kapan selesainya. kalo ceritanya siiip sih gapapa. kalo gni? Eva yang dl ada jg lgsg gak ada. ah ribet. mending liat cinta fitri aja. ok. setuju. 085230486589

    Balas
  • 2. dianing  |  Juni 7, 2008 pukul 4:02 pm

    yah gitu deh sinetron kita, yang ok bisa dihitung jari. tx

    Balas
  • 3. ranto medah  |  Juni 8, 2008 pukul 8:06 pm

    saya keluarga dari ba pak lk ara mau minta puisi boleh

    Balas
  • 4. dianing  |  Juni 9, 2008 pukul 1:23 am

    Puisi-puisi bapak LK Ara bisa dibaca di blognya: http://lkara.wordpress.com.
    Salam.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2008
S S R K J S M
« Mar   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

TELAH DIBACA

  • 102,406 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Semoga di dekat kita tak ada anak yang terlantar sekolahnya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Saya tak kuasa membayangkan tubuhnya yang menua masih mencuci/menyeterika demi sekolah cucu. @spirit_kita 10 hours ago
  • Beruntung nenek yg buruh mencuci dan menyeterika, masih semangat menyekolahkan cucunya, meski sesungguhnya nenek tak berdaya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Ada remaja yg ditinggalkan ayah dengan tak menafkahi ibunya sama sekali, sementara sang ibu tak peduli dengan pendidikan anak. @spirit_kita 10 hours ago
  • Dalam minggu ini dapat cerita juga melihat sendiri, bagamana sebagian anak kita kesulitan mendapatkan pendidikan. @spirit_kita 10 hours ago

%d blogger menyukai ini: