Gong Bolong, Sisi Lain Kemilau Depok

Maret 2, 2008 at 11:13 am Tinggalkan komentar

Oleh Adek Alwi

Dikutip dari Suara Karya, Sabtu, 23 Februari 2008

SEBUAH kumpulan puisi diluncurkan akhir Januari 2008 lalu di Depok. Judulnya “Gong Bolong-Antologi Penyair Depok”. Apa, atau di mana menariknya; toh sejak dulu sudah ada antologi puisi berembel nama kota atau daerah, seperti “Antologi Puisi Penyair Kedu”, atau Yogya, atau Tegal, Purwokerto, Kudus dan sebagainya?

Pertama, setahu saya, karena ini antologi karya sastra pertama yang menyertakan nama kota Depok. Padahal, dibanding Tangerang yang riuh-gempita dalam atlas sastra Tanah Air satu dekade terakhir, misalnya, Depok barangkali lebih kaya menyimpan kaum sastrawan. Di kota ini bermukim Rendra, Sapardi Djoko Damono, Gerson Poyk, Hamsad Rangkuti, Adri Darmadji Woko, Danil Ilyas, Hardjana HP, Diah Hadaning, Arief Joko Wicaksono, Sitok Srengenge, Arya Gunawan, Mustafa Ismail dan seterusnya.

Tapi sesekali saja nama Depok terdengar di panggung sastra, misalnya jika ada aktivitas di Universitas Indonesia; di padepokan Rendra di Cipayung; atawa tahun ’90-an lewat Gorong-gorong Budaya.

Kedua, sebab Depok kota yang terus berbenah. Sejak 25 tahun terakhir jadi warga Lenteng Agung/DKI, yang “selemparan batu” saja dari Depok, saya satu dari sekian saksi kebangkitan Depok: bagian Kabupaten Bogor, kota administratif, kotamadia otonom! Penggal kedua 1970-an ketika Perumnas 1 (juga yang pertama di Indonesia) dekat pasar Depok usai dibangun, dan baru satu-dua ditempati, saya ditugasi abang menunggu rumah bagian dia. Jalan Nusantara sepi, pukul lima petang. Ingin Sinar Harapan ke Pasar Minggu. Naik bus Robur warna cokelat, bodinya tinggi macam truk.

Lalu Margonda Raya dilebar-benahi. Perumnas 2 berdiri. Perumahan-perumahan swasta muncul di arah Timur. UI pindah dari Rawamangun. Swalayan, supermarket, mal. Perkantoran, toko-toko, gedung. Perguruan-perguruan tinggi. Jalan baru. Megamal dan bangunan lain kian menjadi-jadi ketika UU No. 22 dan UU No. 25 tahun 1999 (dua UU yang populer disebut UU Otonomi Daerah) diluncurkan. Dan Depok jadi kotamadia otonom. Sehingga, “Kini,” ujar saya pada kenalan/famili dari daerah yang kami ajak cuci-mata ke Margonda, “hanya kapal terbang dan keretapi tak dijual orang di sini!”

* * *

NAH. Saya tak tahu apakah dua hal di atas ikut melatarbelakangi kelahiran “Gong Bolong – Antologi Penyair Depok”. Misalnya, karena belum ada antologi puisi berembel nama Depok; kotamadia yang dari luas wilayah, dan jumlah penduduk, tergolong terbesar di negeri ini. Atau, karena zaman otonomi daerah, “Gong Bolong” dimaksudkan sebagai penanda, identitas, sekaligus kompetisi kreatif-positif dengan kota/daerah lain. Seiring itu dimasudkan sebagai peringatan bagi pengambil kebijakan di Depok, agar tak melulu larut dalam pembangunan fisik, abai pada nonfisik.

Saya tak tahu. Tapi, bagi saya, kedua hal tadi menarik dikaitkan dengan kehadiran “Gong Bolong”. Apalagi dalam antologi yang berisi 80 sajak dari 10 penyair ini (A Badri AQT, Adri Darmadji Woko, Asrizal Nur, Diah Hadaning, Dianing Widya Yudhistira, Endang Supriadi, Jimmy S Johansyah, Rita Zahara, Rieke Dyah Pitaloka, Sihar Ramses Simatupang) saya tangkap peringatan atau pesan bagi pengambil kebijakan, andai mereka kelewat menggebu membangun fisik dan abai menangani sisi nonfisik atawa spritual.

Peringatan atau pesan itu misalnya terlihat pada puisi “Hamburger di McDonald”, “Guru di Depan Kelas” dari Adri Darmadji Woko; “Membangun Taman Teduh”, “Negeri Batu”, “Matahari Hati” dari Asrizal Nur. Saya kutip ujung “Membangun Taman Teduh” Asrizal Nur, yang didekasikan ke Nurmahmudi Ismail (walikota Depok): “apalah artinya kota terang/ bila hati kelam”. Nah!

Sementara Diah Hadaning mengingatkan bahaya jabatan yang berorientasi kepada kekuasaan tok, “yang tiada mengenal jerit orang pinggiran” lewat “Narasi Kursi Tua (I)”. Puisi ini berseri hingga (V). Sedang Jimmy S Johansyah berkisah tentang generasi muda korban pemimpin hipokrit, “dibantai para pesumpah laknat”, lewat puisi “dari panggung tujuhbelasan”. Dan Rieke Dyah Pitaloka, lewat sajak “LONDO ireng”, bertutur mengenai bahaya lebih luas lagi: mengambil mentah-mentah budaya Barat, “dan tanah dan air yang di atas dan yang di dalam bumi/ digadaikan budakbudak berkulit coklat berhati putih”. Akibatnya, “aku harus belajar dalam gelap” tulis Rieke. Sebab matahari lenyap, “barat menelannya, memuntahkannya dalam limbah kemiskinan”.

* * *

BANYAK cara menikmati sajak. Dan bagi saya dengan tak menghadapinya bagai teka-teki silang, tetapi membiarkan diri mengalir di dalam pesona kata. Dari situ suasana terbangun, rasa sedap bangkit, pemahaman tersusun. Namun, seperti galibnya puisi, yang terasa-terpahami kadang tak dapat diterang-jelaskan dengan gamblang, malah cair nikmat itu ketika dideskripsikan benar.

Demikianlah, selalu saya terpesona oleh kata yang mengalir sedap-jinak di tangan penyair; yang perlahan merambat membangun suatu dunia, suatu bentuk, bagai terhidang depan mata, di dalam rasa. Begitu pula pada antologi yang diterbitkan Yayasan Panggung Melayu dan Saung Budaya ini; kuratornya sahabat saya Remmy Novaris DM, yang juga menangani kover bersama Hari Ambari, pengantar ditulis kritikus Maman S Mahayana.

Pesona kata yang sedap serta jinak seolah lempung saja itu, misalnya terlihat pada sajak-sajak sobat lama dan rekan sealmamater saya, Adri Darmadji Woko, yang tak asing lagi di dunia sastra Tanah Air sejak 1970-an, dan kini makin arif-matang seiring jalannya usia. Sampai benar kepada saya pesan atawa nikmat sajak “Kehilangan Daun Gugur” itu, atau “Fragmen”, atau “Seolah Suara Berdiam di Lembah”, atau “Berburu Raksasa”, atau “Sepenggalah Waktu”…. yang diikutsertakan Adri dalam antologi ini.

Kata-kata jinak-sedap juga saya jumpai pada puisi-puisi Endang Supriadi, penyair produktif; belum pernah kami bertemu namun kerap bertelepon. Juga, terlihat di dua-tiga sajak Sihar Ramses Simatupang, semisal “Di Tapal Ke Enam”.

Sementara puisi A Badri AQT, Rita Zahara, terutama Dianing Widya Yudhistira yang juga produktif, agaknya tengah/terus menjadi, bak kota mereka, Depok.

Ya! Sungguh Depok beruntung dengan terbitnya kumpulan sajak “Gong Bolong – Antologi Penyair Depok” ini. Patut diapresiasi, terlebih oleh pengambil kebijakan, karena kini ada yang berkilau dari kota itu selain wujud fisiknya yang memukau; sesuatu yang bersumber dari lubuk dada, kedalaman pikir serta rasa.

Akhirul kata, inilah sebuah sajak Endang Supriadi, “Aku Terbaring”. Seperti saya, siapa tahu Anda ingin mengalir bersama pesona kata yang sedap, dan juga jinak:

aku terbaring di antara tebing-tebing
waktu. Mencabuti duri dari dalam diri
dan mengunyahnya agar jadi embun atau
kembang gula yang kutemukan pada masa
kecilku dulu

aku sendiri menunggu pantai surut
dari ombak, dan membiarkan angin membeku
di sudut-sudut dunia

aku terbaring dengan pekik segemerincing
gelang-gelang di kaki seorang bocah
yang sedang berlari. atau diam saat menyaksikan
tanah terbelah dan membiarkan pula jentik api
berterbangan di atas kepala

ini pesta siapa menghabiskan ruang-ruang
yang sepi. sehingga sejuta airmata tak bisa
memadamkan sejentik api? tuhan bikin apa
di balik karya-karya kita?

aku terbaring menakar sunyi, mereka-reka
kematian. adakah sesuatu yang hilang
di saat diriku ada? adakah sesuatu yang hadir
di saat diriku tak ada? dan siapa gerangan
yang datang saat aku terbaring, melucuti debudi kelopak
mata, mengendus aroma neraka?
* ADEK ALWI, pengarang/penyair dan wartawan

Entry filed under: KLIPING. Tags: .

Peluncuran Gong Bolong, Sepuluh Penyair Depok Membaca Puisi Surat Terbuka untuk SBY-JK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Mei »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

TELAH DIBACA

  • 102,396 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: