Peluncuran Gong Bolong, Sepuluh Penyair Depok Membaca Puisi

Februari 15, 2008 at 12:11 pm Tinggalkan komentar

Sumber: Tabloit Parle 14 Februari 2008
PARLE – Depok, diam-diam menjadi kota penyair. Dalam obrolan santai dengan Sitok Srengenge, ia menyebutkan Rendra dan Sapardi Djoko Damono tinggal di kawasan Depok. Dari dua tokoh itu sudah cukup bagi predikat Depok. Dan bukankah Sitok Srengenge yang penyair juga tinggal di Depok?
Rabu malam, 30 Januari 2008, Cafe Zoe di Jl. Margonda Raya dihadiri banyak penggiat sastra. Di teras samping kafe yang merangkap toko buku dan persewaan komik, 10 penyair Depok secara bergiliran membacakan karya puisinya di panggung. Karya mereka terhimpun dalam sebuah antologi puisi Gong Bolong . Yang diterbitkan oleh Yayasan Panggung Melayu bekerjasama dengan Saung Budaya Depok. Sebelum pembacaan berlangsung, musik gamelan membuka pesta peluncuran menghangatkan suasana malam berhujan itu.

Siapa 10 penyair Depok yang ”dipilih” oleh Remmy Novaris (selaku editor antologi)? Mereka adalah Endang Supriyadi, Dianing Widya Yudhistira, Diah Hadaning, Adri Darmadji Woko, Sihar Ramses Simatupang, Rieke Dyah Pitaloka, Rita Zahara, Jimmy S. Johansyah, A. Badri A.Q.T, dan Asrizal Nur.

Secara usia, 10 penyair itu memiliki rentang yang lebar. Angkatan senior tentu saja Diah Hadaning dan Adri Darmadji Woko. Sihar Ramses dan Rieke Dyah Pitaloka adalah kelompok yang mewakili kaum muda. Gagasan untuk menyatupadukan mereka didasari oleh keinginan untuk mendokumentasikan potensi masyarakat seniman Depok di bidang sastra. Mengapa hanya 10 penyair? Secara bercanda Remmy menjawab, ini bukan sedang melakukan seleksi dari kualitas karya, namun lebih kepada pemberian kesempatan dan keterbatasan biaya.

Alin, malam itu memandu jalannya acara. Seseorang dipanggil untuk mengambil bunga yang tergantung di sekitar panggung. Pada pepucuk bunga itu terdapat nama penyair yang mendapat giliran membaca puisinya. Hadir dalam acara itu antara lain: Zen Hae (Ketua Komite Sastra DKJ), Henny Purnamari (pengelola komunitas budaya FixMix), Sitok Srengenge (pemilik penerbitan KataKita), Arif Wicaksono (penggagas buku Symphony Indonesia ), Hamsad Rangkuti (cerpenis), Dharmadi (penyair), Rahmat Ali (novelis) dan beberapa pejabat lokal.

Pilihan tempat di Cafe Zoe (singkatan dari Zona of Edutainment) sungguh tepat. Kafe dan taman bacaan milik Arif, yang justru alumni fakultas teknik Universitas Indonesia itu, berdiri sekitar dua tahun lalu. Konon para pengunjungnya termasuk kalangan intelektual yang lebih suka buku ketimbang dugem . Malam itu lebih semarak karena salah satu penyairnya, Rieke Dyah Pitaloka, merupakan selebritis yang paling banyak diminta menandatangani buku antologi. Dengan hidangan kopi, teh, dan kue-kue basah, para hadirin cukup terhibur menikmati pembacaan puisi dan musik gamelan.

Selamat untuk para penyair! Sebagai langkah awal bagi masyarakat sastra Depok, antologi ini diharapkan dapat memberikan warna tersendiri. Mengenai nilai dari sajak-sajak yang termuat dalam buku itu diserahkan saja kepada publik pembaca. Pengantar dari Maman S. Mahayana, mungkin akan membantu pembaca mengapresiasi. Faktanya, puisi sampai hari ini, bersifat sangat personal.

(Kurnia Effendi)

Iklan

Entry filed under: KLIPING.

Dianing Widya Yudhistira Usung nilai-nilai keperempuanan Gong Bolong, Sisi Lain Kemilau Depok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

TELAH DIBACA

  • 103,197 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: