Burung Hantu

Januari 29, 2008 at 12:07 pm Tinggalkan komentar

Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 Mei 2004


Cerpen Dianing Widya Yudhistira

MALAM mengental di atas randu. Dedaunan mendesah luruh. Dingin dan senyap saling berpelukan. Aku rapatkan kedua sayapku ke tubuhku. Dingin kali ini, seperti hendak membunuhku.

Di langit bulan telanjang. Ketampanannya senantiasa membuat bintang-bintang bertekuk lutut. Aku iri pada bulan. Tampan dan tulus. Cahayanya terbagi rata ke umat manusia, tanpa membedakan orang-orang elite, borju ataupun gembel. Bulan tak pernah berpikir apakah orang-orang itu bajingan atau pahlawan. Ia hanya berpikir bagaimana bercahaya.

Aku sering berkhayal menjadi bulan atau matahari atau manusia. Pasti aku bisa melakukan sesuatu yang berguna. Sayang, kalimat sakti Tuhan menjadikan aku Burung Hantu. Akhirnya sepanjang masa aku merutuk-rutuk pada Tuhan, mengapa Ia lebih suka menjadikan aku Burung Hantu.

Aku tidak seperti bulan yang mampu memberi cahaya di malam hari. Aku bukan matahari, yang bisa menerangi bumi tatkala manusia sibuk mencari nafkah. Aku juga bukan manusia, yang memiliki kesempatan besar dalam hidup. Aku hanya seekor Burung Hantu yang tersisih.

Sayup-sayup terdengar zikir. Pelan dan teratur, hingga melahirkan simponi dalam benakku. Zikir itu terus mengalun. Suaranya makin lama makin menggemuruh. Kian dekat denganku. Dingin menusuk-nusuk tubuh. Aku menggigil. Cemas.

“Aku akan mati,” keluhku.

Angin dingin kian menusuk-nusuk tubuhku.

“Tidak! Aku tidak ingin mati malam ini.”

Randu terbangun oleh teriakkanku. Nyaliku ciut. Aku takut ia akan melemparkan aku hingga ke radius kilometer. Tidak. Randu itu menyambut zikir teman-temannya.

Ya, suara zikir itu ternyata berasal dari masyarakat pohon yang ada di sekelilingku. Aku lihat Randu membasuh kedua tangannya, berkumur, membersihkan hidungnya. Oh, persis yang manusia lakukan tatkala mendengar adzan. Randu itu bersujud dan berzikir.

Tubuhku bergetar menyaksikan kepasrahan masyarakat pohon. Aku tak lagi merasakan dingin. Aku menunduk. Benakku luruh. Dengan kedua sayapku aku menadah ke langit. Memohon maaf atas khilafku.

Tubuh Randu menghangat. Tubuhku ikut menghangat. Aku kepakkan kedua sayapku. Aku ingin menikmati zikir masyarakat pohon ini lebih lama.

Pelan-pelan zikir itu menjauh, lirih. Semakin lirih lalu menghilang. Aku melenguh. Tak ada lagi desah dedaunan. Angin enggan bertiup. Randupun membisu. Aku jadi rindu dengan dingin yang menusuk-nusuk tubuhku.

Bayang siapa yang memanjang di tanah. Berjalan menuju ke arahku. Berhenti tepat di bawah Randu. Jantungku berdetak kencang. Perempuan cantik

“Untuk apa dia ke hutan malam-malam begini,” gumamku.

Ups. Bukankah ia Cleoprata. Perempuan cantik bersuamikan Pangeran.

Lalu siapa laki-laki yang ada di sampingnya? Bulan luruh di hadapanku. Ia seperti ingin beranjak dari dua sosok manusia itu. Aku pastikan laki-laki itu bukan suaminya. Pertanyaan menggantung di benakku. Apa yang hendak mereka lakukan di hutan ini.

Bulu-buluku rontok. Cleopatra dan bukan Pangeran itu menuntaskan malam. Aku ingin terbang dari Randu ini. Entah apa yang membuatku seolah tertanam dan menyatu dengan rantingnya. Setiap kali aku ingin terbang, Randu ini selalu bergetar.

Aku mengutuk penglihatanku. Aku menyesal pernah mengagumi Cleopatra. Angin menyapaku dengan tanya mengapa wajahku luruh. Aku menjawab dengan helaan nafas yang berat. Ternyata kekaguman hanya melahirkan luka-luka.

Bulan mendekatiku dengan cahayanya.

“Mengapa kau masih di sini.”

“Aku tak punya hak untuk ke sana.”

“Kau pernah mengaguminya.”

“Sudah berlalu.”

“Andai aku jadi kau aku ikuti sejauh ia melangkah.”

Tiba-tiba angin menyapaku. Membalutku dan menerbangkan aku ke menara tertinggi. Sedetik kemudian aku berada di depan Cleopatra. Ia bersama suaminya. Aku dengar mereka saling membentak, tapi aku tidak tahu bahasa mereka. Kalau saja aku memahami bahasa manusia pasti aku tahu yang mereka bicarakan. Ya kalau saja aku punya kelebihan itu.

Angin menampar kedua sayapku. Rasa sakitnya sampai ke ulu hati. Keajaiban menyentuhku. Aku bisa memahami pembicaraan mereka.

“Aku bersumpah jadi perempuan tua renta penuh keriput.”

Tubuhku bergetar. Usai itu aku tak bisa lagi memahami bahasa mereka.

Angin kembali menyapaku. Menerbangkan aku ke hutan. Di bawah Randu aku merasa sangat lelah. Cleopatra itu mengusik pikiranku. Ia berani bersumpah atas cintanya yang ia duakan. Apakah manusia selalu mencintai perselingkuhan? Ah, persetan dengan itu. Tapi mengapa aku kini selalu ingin dekat dengan Cleopatra?

***

Malam menggantung di wajah Cleopatra. Seberkas cemas terlukis di wajahnya. Aku merasakan kecemasannya. Bagaimana mungkin perempuan seindah dia akan berubah menjadi tua. Kulitnya yang selicin madu itu akan dipenuhi lipatan-lipatan keras, kasar, bila sumpahnya menjadi nyata.

Cleopatra bercermin ke seribu kali. Cahaya bulan jatuh tepat di tubuh Cleopatra. Ia seperti tak pernah berhenti bercermin dan meraba kulit wajahnya.

“Lidah lebih tajam dari mata pedang,” bisik bulan.

“Bagaimana kamu tahu.”

“Bukankah cahayaku mengikuti siapapun.”

Mula-mula aku melihat bagian bawah mata perempuan itu mulai berkerut. Gerakannya sangat halus. Kerutan itu terus merambat ke dahi, memutar lalu turun ke pipi, hidung, mulut, dagu, leher, tangan, terus lipatan itu bergerak hingga ke seluruh tubuhnya.

Kerutan yang bergerak lembut dan indah di mataku itu semakin cepat dan cepat. Semakin lama kerutannya semakin jelas. Kerutan-kerutan itu terus bergerak dengan berulang-ulang. Bila telah sampai ke ujung kaki, kerutan itu akan naik menyusuri tubuh Cleopatra.

Cleopatra berteriak-teriak. Ia histeris. Berulangkali di bawah cahaya bulan, aku melihat gerakan lipatan itu terus bergerak seakan tak mau berhenti. Aku ngeri. Takut melihat wajahnya yang tampak sangat tua. Cleopatra kini seperti perempuan yang berumur ratusan tahun. Wajahnya penuh lipatan-lipatan keras. Wajahnya mengeras. Mengapa Tuhan menghukum Cleopatra seperti itu.

“Tuhan tak pernah menghukum siapapun.”

“Ia jadi makhluk mengerikan,” pekikku.

“Lipatan itu tak akan berhenti.”

“Bagaimana kamu tahu.”

“Sebelum ia mengakui kesalahannya.”

Aku berharap Cleopatra mengakui kesalahannya. Sia-sia. Cleopatra terus berteriak-teriak sepanjang malam. Bersumpah tak pernah melakukan perbuatan naif itu.

Malam bergemuruh hebat. Angin bertiup kencang, diringi kilat yang bekelebat di udara. Hujan deras. Pelan-pelan cahaya bulan susut.

***

Suami Cleopatra terpaku. Matanya terbuka lebar, demikian juga dengan mulutnya. Ia tak mengenali lagi perempuan didepannya. Yang ada di benaknya hanya sebuah pertanyaan siapa sosok perempuan sangat tua itu.

Aku mulai kangen dengan angin, pepohonan di hutan, terlebih Randu. Aku juga kangen pada ketampanan bulan. Aku ingin cepat berada di hutan bertemu mereka.

***

Senja mulai turun ketika aku kembali ke hutan. Angin dan bulan berebut menyapaku. Randu dan pohon lainnya berebut mempersilahkan aku untuk bertengger di rantingnya. Senang juga diperhatikan oleh mereka.

Alangkah terpananya aku ketika aku temukan Cleopatra ada di hutan ini.

“Ia akan menemanimu,” bisik angin.

“Kau mengaguminya bukan,” goda Bulan.

“Aku hanya mengagumi perempuan cantik.”

Dari ujung sana ada bayang mengerikan di tanah. Sosok manusia dengan tubuh yang aneh. Wajahnya masih manusia tetapi tubuhnya persis tubuh anjing.

“Laki-laki itu,” teriakku.

Aku ingat betul wajahnya. Tetapi mengapa sekarang ia berekor?

Aku dengar Istighfar bulan, angin juga pepohonan. Ada sesuatu yang mereka keluhkan.

Diam-diam. aku tersenyum untuk sosokku yang indah. Tuhan tidak menciptakan sesuatu untuk sia-sia. Aku baru menyadari aku jauh lebih baik ketimbang dua manusia itu. Buktinya, bulan angin dan pepohonan senantiasa senang bersamaku. Kami hidup dalam harmoni yang selaras. Sedang manusia seringkali lupa nama dan alamat sendiri. ***

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2004051704291845

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Gus, Acep, dan Farida Penulis Terbaik Baca Puisi Penyair Depok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 104,296 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: