Seraup Gizi buat Pujangga

Januari 24, 2008 at 9:37 am 1 komentar

buku
Sumber: Koran Tempo, Minggu 20 Januari 2008

Mekanisme penjurian masih dipertanyakan.

Setelah tertunda satu bulan, prosesi pengumuman pemenang Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2007 berjalan sama seperti tahun lalu. Jumat malam lalu, di sebuah mal di Jakarta, tanpa banyak basa-basi, apalagi baca puisi atau diskusi, para pemenang penghargaan sastra berhadiah terbesar di Tanah Air itu diumumkan. Kering dan datar.

Tak meleset dari dugaan, pemenang kategori prosa jatuh kepada Gus tf Sakai dengan kumpulan cerpennya, Perantau. Kategori puisi menjadi milik Acep Zamzam Noor dengan kumpulan puisinya, Menjadi Penyair Lagi. Adapun kategori baru, penulis muda, digenggam Farida Susanty, 18 tahun, lewat buku Dan Hujan pun Berhenti. Gus tf tak dapat hadir menerima hadiah. Zen Hae, pengarang kumpulan puisi Paus Merah Jambu, yang juga nomine kategori puisi, datang mewakilinya dengan membacakan sambutan Gus tf, yang dikirim lewat surat elektronik. Tahun lalu pemenang puisi Dorothea Rosa Herliany juga tidak hadir menerima hadiah.

Dalam suratnya, Gus tf mengatakan bahwa Penghargaan Sastra Khatulistiwa berharga untuk penulis-penulis yang belum terkenal. Ia mengkritik sistem penjurian yang memungkinkan karya-karya buruk menang. “Jika saya menang, hanya ada dua kemungkinan. Pertama, juri mungkin salah hitung dan sebaiknya menghitung ulang. Kedua, mungkin saya betul-betul beruntung,” tulis lelaki 42 tahun asal Payakumbuh, Sumatera Barat, itu.

Setelah melewati tiga tahap seleksi, Perantau karya Gus tf mengalahkan empat nomine lainnya, yaitu novel Edensor (Andrea Hirata), novel Janda dari Jirah (Cok Sawitri), kumpulan cerpen Linguae (Seno Gumira Ajidarma), dan novel Sintren (Dianing Widya Yudhistira).

Untuk kategori puisi, Menjadi Penyair Lagi karya Acep Zamzam Noor menyisihkan empat nomine lain, yaitu Angsana (Soni Farid Maulana), Dongeng untuk Poppy (M. Fadjroel Rahman), Kepada Cium (Joko Pinurbo), dan Paus Merah Jambu (Zen Hae).

Acep menyambut gembira kemenangannya itu. “Ini adalah gizi buat penyair, karena penyair itu sering kekurangan gizi,” ujarnya sambil tersenyum di atas panggung. Penyair berusia 48 tahun itu menyebut dirinya sebagai penyair amatir karena menjalani aktivitasnya hanya sebagai hobi.

Gizi yang dimaksud anak tokoh Nahdlatul Ulama, Kiai Ilyas Ruhiyat, ini adalah hadiah uang Rp 100 juta untuk masing-masing pemenang kategori prosa dan puisi. Sementara itu, pemenang kategori penulis muda mendapat Rp 25 juta. “Lumayan, uang ini menjadi honor setelah 20 tahun menulis puisi,” kata Acep.

Di kategori penulis muda, yang baru digelar tahun ini, Dan Hujan pun Berhenti karya Farida Susanty mengalahkan sembilan nomine lain, yaitu Contra Veritas (Adilla Anggraeni), Datuk Hitam (Bahril Hidayat), Dinner with Saucer (Dimas Rio), Dungeon (Theresia D.R. Pratiwi), Joker. Ada Lelucon di Setiap Duka (Valiant Budi Yogi), Keroncong Cinta (Ahmad Faishal), Pulang (Happy Salma), Saraswati (Kanti W. Janis), dan Zauri: Legenda Sang Amigdalus (Dian K.).

Penggagas penghargaan ini, Richard Oh, mengatakan bahwa penambahan kategori tersebut dilakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap penulis muda. “Kami perlu kasih mereka (penulis muda) dukungan sebagai sumber inspirasi,” ujar pemilik toko buku QB itu.

Koordinator tim juri, Donny Gahral Adian, mengatakan bahwa nilai yang diberikan tim juri kepada Gus tf hanya berbeda tipis dengan nilai yang diberikan kepada pemenang urutan kedua, Cok Sawitri. Begitu pula dengan nilai yang diperoleh Acep Zamzam Noor, cuma berselang sedikit saja dari pemenang peringkat kedua, Zen Hae.

Penyelenggaraan Khatulistiwa yang sudah ketujuh kalinya ini tak lepas dari kritik. Selain Gus tf, pemenang kategori prosa tahun lalu, Gde Aryantha Soetama, melontarkan kritik soal mekanisme penjurian.

Pemenang, kata Gde, lebih sebagai hasil pilihan sejumlah pemilih, bukan hasil penilaian. Para penilai tidak pernah bersua untuk membahas pilihan-pilihan mereka. Tidak ada debat, tanpa perselisihan, bukan pula berkat kesepakatan. “Pemenang ditentukan oleh tabulasi angka-angka.”

Donny tidak membantah jika dikatakan mekanisme penjurian memang banyak menuai protes. Namun, ia mengatakan hanya mewarisi sistem yang sudah berjalan selama bertahun-tahun. Apalagi waktu yang diberikan kepadanya sangat pendek untuk menyusun mekanisme penjurian baru. “Ya… inilah yang terbaik dari yang terburuk dengan waktu yang mepet,” katanya. EFRI RITONGA | AGUSLIA HIDAYAH

<strong>Sastra (Cuma) untuk Sastrawan
</strong>

Lain pilihan juri lain pula pilihan pembaca. Sang pemenang, Perantau terbitan Gramedia Pustaka Utama, sejak cetak pertama Maret 2007 baru terjual 1.285 eksemplar. Nomine lainnya bernasib serupa. Linguae, karya Seno Gumira Ajidarma, yang dicetak pertama kali Maret 2007, baru laku 2.129 eksemplar.

Novel perdana Dianing, Sintren, terbit awal 2007, juga baru menembus angka sekitar 2.000 eksemplar, dan Janda dari Jirah yang dicetak pertama kali Juli 2007 baru mencapai 1.383 eksemplar. Satu-satunya nomine yang penjualannya sukses hanya Edensor, terbit pertama kali Mei 2007, yang terjual sekitar 20 ribu eksemplar.

Editor fiksi Gramedia, Mirna Yulistianti, mengatakan bahwa karya yang masuk nominasi atau bahkan menang dalam kompetisi belum tentu laku dijual. Sejauh ini selera juri dan selera masyarakat adalah dua hal berbeda. “Di Indonesia, minat baca masih rendah, apalagi minat baca sastra,” tuturnya.

Pembaca sastra masih sedikit jumlahnya dibanding pembaca fiksi populer. Prosa yang diminati pembaca, kata dia, adalah novel atau cerpen ringan serta yang menghibur, tidak sulit “dikunyah”, dan bikin pusing, seperti chicklit, teenlit, atau roman percintaan, dengan bahasa yang lugas, sedikit puitis, dan mudah dicerna.

Donny, yang juga Kepala Kantor Perencanaan dan Pengembangan Universitas Indonesia, menyarankan, setelah ajang penghargaan memilih pemenang, dilanjutkan dengan sosialisasi karya-karya tersebut kepada pembaca, sehingga karya pemenang bisa dikenal dan dimengerti.

Kemenangan Perantau, yang tergolong karya cerpen “sulit”, sebuah karya yang terlalu metaforikal, dia mengatakan, akan membuat pesan-pesan yang ingin disampaikan penulis tidak sampai kepada pembaca. “Pesan sastra seharusnya dimengerti semua orang,” ujarnya. Meski begitu, ia menghargai pilihan ini sebagai kekayaan sastra Indonesia. EFRI

Iklan

Entry filed under: KLIPING.

Khatulistiwa Awards untuk Gus TF Sakai dan Acep Zamzam Noer Gus, Acep, dan Farida Penulis Terbaik

1 Komentar Add your own

  • 1. zulfikar  |  Februari 28, 2008 pukul 7:54 pm

    horas….. semoga sukses

    ——Terimakasih, salam.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 104,942 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.


%d blogger menyukai ini: