Buku Terbaik Versi KLA

Januari 13, 2008 at 9:56 am 1 komentar

Sumber: Tabloid PARLE, 12 Januari 2008
Untuk yang ketujuh kalinya, sejak 2001, Khatulistiwa Literary Award (KLA) menyelenggarakan anugerah buku sastra tahunan, di pengujung 2007 ini. Buku-buku yang dinilai terbagi atas prosa dan puisi, dihitung sejak Juni 2006 sampai dengan Mei 2007. Untuk tahun ini, hadiah ditambah untuk kategori peserta muda dengan buku pertama mereka.
Demikianlah, pada bulan Oktober 2007 telah terpilih 10 kandidat dengan istilah Long List. Menjelang akhir November dari 10 diperas menjadi 5 kandidat (short list) untuk prosa dan puisi, tetapi bagi pengarang dengan buku pertama (di antaranya Happy Salma dengan kumpulan cerpen Pulang) tetap bertahan 10 kandidat. Penobatan pemenang utama untuk ketiga kategori akan diumumkan pada 18 Januari 2008 di atrium Plaza Senayan, sekaligus penyerahan hadiah sebesar masing-masing 100 juta rupiah, dan 50 juta rupiah untuk kategori buku pertama.
Anugerah sastra KLA ini, meski selalu menerbitkan pro kontra, tetap ditunggu-tunggu oleh para sastrawan (cerpenis, novelis, dan penyair). Bahkan ada kecenderungan para pengarang untuk menjadwalkan bukunya agar terbit sebelum bulan Mei agar dapat “berlaga” dalam kompetisi KLA di tahun yang sama. Hadiah sastra berupa uang seratus juta rupiah memang langka di Indonesia. Richard Oh sebagai penggagas tradisi ini patut mendapat dukungan. Keunikan KLA terdapat pada cara penilaiannya.
Rasanya pembaca sudah tahu, bahwa untuk menjadi peserta kompetisi KLA, para penerbit harus mendaftarkan buku-buku yang diandalkan kepada panitia. Jika penerbitnya alpa, atau buku yang diterbitkan secara indie, biasanya sang pengarang mengajukan sendiri sebagai peserta. Panitia dan Koordinator Dewan Juri akan memilih sejumlah juri (dibagi menjadi 3 tahap) sebagai pembaca pertama dari berapa pun buku yang terdaftar atau yang diusulkan oleh juri untuk mendapatkan 10 calon pemenang. Mengapa unik? Pemilihan juri demikian rahasia, sehingga antara juri yang satu dengan yang lain tidak saling tahu. Mungkin saja mereka sebenarnya saling mengenal dan karib, tetapi masing-masing diminta untuk tutup mulut dengan tugasnya itu.
Dari sepuluh menjadi lima pun ditunjuk sejumlah juri berbeda yang tidak saling mengetahui. Setelah lima besar, memasuki babak ketiga, dipilih kembali sejumlah juri yang berbeda, untuk menyusun rank (urutan). Posisi pertama dengan nilai akumulasi tertinggi adalah sang pemenang. Untuk tabulasi dan pengesahan nilai ditangani oleh lembaga independent yang terpercaya kerahasiaannya.
Juri yang terdiri dari sastrawan (yang bukunya tidak ikut serta dalam kompetisi), book reviewer, dosen sastra, kritikus, redaksi budaya, dan lain-lain, kadang-kadang turut tercengang mengetahui hasil akhirnya. Boleh jadi selalu ada khaos dalam penilaian tersebut, namun nyatanya tak pernah berubah sistemnya sejak awal penyelenggaraan. Akhirnya toh kita terima saja para juara itu, antara lain Goenawan Mohamad dengan Sajak-Sajak Lengkap-nya (2001), Remy Sylado dengan novel Kerudung Merah Kirmizi (2002), Hamsad Rangkuti dengan kumpulan cerpen Bibir dalam Pispot (2003). Pada 2004 terdapat 3 pemenang (Seno Gumira Ajidarma, Linda Christanty, dan Sapardi Djoko Damono). Joko Pinurbo (untuk antologi puisi Kekasihku) dan kembali Seno Gumira Ajidarma (untuk novel Kitab Omong Kosong) memenangkan anugerah KLA 2005. Kumpulan cerpen Mandi Api karya Gde Aryantha Soetama dan antologi puisi Santa Rosa karya Dorothea Rosa Herliany meraih anugerah KLA 2006. Kita tunggu siapa yang akan menggapai puncak di tahun 2007 ini?

Untuk prosa, di sana ada Andrea Hirata (Edensor), Gus tf (Perantau), Cok Sawitri (Janda dar Jirah), Seno Gumira Ajidarma (Linguae), dan Dianing Widya Yudhistira (Sintren). Untuk puisi, Soni Farid Maulana (Angsana), Acep Zamzam Noor (Menjadi Penyair Lagi), Zen Hae (Paus Merah Jambu), M. Fadjroel Rachman (Dongeng untuk Poppy), dan Joko Pinurbo (Kepada Cium).
Saya bukan dewan juri, oleh karena itu sangat bebas mencari calon pemenang berdasarkan selera. Memang, penilaian paling tanpa beban tentu berdasarkan citarasa pribadi. Untuk puisi saya memilih Menjadi Penyair Lagi dan Dongeng untuk Poppy. Jika ditimbang keduanya demikian kontras dalam cara ungkap maupun penjelajahan proses kreatifnya. Acep Zamzam seolah-olah menggunakan batinnya dalam menggoreskan pena. Sekalipun berdarah-darah, “luka”-nya tampak bening dan dalam. Sementara Fadjroel Rachman menulis puisi-puisinya bagai merancang sebuah konstruksi, dengan sepenuh pikiran. Luka yang ditunjukkan arang-keranjang. Untuk kedua buku itu saya memperoleh suasana dan rasa hanyut yang tak pura-pura. Ada kenikmatan ketika membacanya lalu mengulanginya, dan kadang-kadang menemukan tafsir baru yang membuat terperangah.
Dalam prosa, masing-masing buku memiliki latar dan gaya yang berbeda. Edensor merupakan bagian ketiga dari novel tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Berbeda dengan Laskar Pelangi yang sarat muatan persahabatan dan petualangan, Edensor lebih mirip kisah perjalanan sang backpacker ke Eropa. Dengan gaya bercerita yang segar, Andrea membawa pembaca pada pengalaman yang lucu sekaligus mengharukan. Untuk memperkuat memoarnya, buku itu bahkan dilengkapi dengan foto-foto. Kehadiran ilustrasi berupa foto membuat novel itu menjadi diary atau oleh-oleh dari bepergian.
Dianing Widya Yudhistira lahir dan dibesarkan di Batang, Jawa Tengah. Sebuah kota, seperti juga Slawi dan Banyumas, yang memiliki kesenian tradisional Sintren. Dalam novel Sintren, Dianing mencoba mengangkat tarian magis itu dalam kisah cinta segitiga. Di sana, seperti umumnya cerita lokal pedesaan, ada persaingan antar-tetangga yang memperebutkan simpati seorang juragan. Terlepas dari cerita cinta yang tumbuh sejak usia sekolah dasar, pengarang memang ingin melestarikan Sintren sebagai seni tari tradisional yang menggunakan jin, yang kini semakin terpinggirkan oleh modernitas dan agama. Eksotisme lokal menjadi kekuatan novel ini.
Linguae, kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma, secara teknis bercerita tak diragukan lagi. Bagaimanapun Seno adalah cerpenis paling terampil. Gabungan antara gagasan dan kemampuan teknis, membuat cerpen-cerpen Seno enak dibaca. Meskipun belakangan seperti sering memaksakan diri, sehingga tampak segala yang singgah di kepalanya (peristiwa atau berita) dapat diolah menjadi cerita pendek. Kali ini, ia ingin menyampaikan betapa pentingnya lidah bagi manusia.
Gus tf dengan kumpulan cerpen Perantau, sedikit berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Antologi ini terkesan berat karena ada proses berpikir yang mungkin kelewat serius saat menulis. Seperti juga dalam menulis puisi, Gus tf tidak semata menggelincirkan ide atau inspirasi secara alamiah. Ada upaya untuk memasang cadar agar kisah tidak terlalu transparan dan kelihatannya berharap para pembaca turut menjadi pencerna yang tak sambil lalu. Kesengajaan atau bukan, Gus tf patut kita hargai. Perubahan atau perkembangan bagi seorang pengarang adalah kemajuan untuk tidak statis dalam berekspresi. Sebagai pengarang Payakumbuh, sesungguhnya Gus tf telah berhasil memadukan gaya antara tradisi Minang dan sastra modern.
Bagaimana kalau saya memilih Cok Sawitri? Janda dari Jirah ditulis oleh Cok dengan sangat puitis. Sebagai pengarang asal Bali, ketika menggali prasasti sejarah dan menyampaikannya dengan aura magis, tak dapat dipungkiri: inilah kisah Calon Arang yang penuh misteri itu. Uniknya, tak satu kata pun dalam novel itu menyebut nama Calon Arang. Membaca Rangda ing Jirah seakan-akan menyelam dalam dongeng atau legenda dengan intrik politik (perebutan kekuasaan di Kerajaan Kediri semasa kekuasaan Airlangga) disertai kesaktian tokoh-tokoh zaman lampau. Perbedaan yang ditunjukkan oleh Cok untuk Janda dari Dirah adalah sosoknya yang cantik dan anggun. Padahal ada tafsir yang menggambarkan Calon Arang serupa Leak. Sebenarnya, mengenai Jirah atau Dirah ini, Cok Sawitri telah banyak mengungkapkannya dalam sejumlah puisi.
Sekali lagi ini soal selera saja. Apakah pengarang Bali “tak boleh” berturut-turut tampil sebagai pemenang setelah Gde Aryantha Soetama pada tahun lalu? Hanya Ernst & Young, sebagai tabulator, yang boleh tahu paling awal.

(Kurnia Effendi, penulis cerpen dan peneliti LPKP)

Iklan

Entry filed under: KLIPING.

Khatulistiwa Literary Award untuk Buku Prosa dan Puisi Terbaik Khatulistiwa Awards untuk Gus TF Sakai dan Acep Zamzam Noer

1 Komentar Add your own

  • 1. beli buku online murah  |  Februari 21, 2014 pukul 11:13 am

    Hi there to all, it’s truly a pleasant for me to pay a visit this web site,
    it consists of important Information.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 104,296 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: