Serpihan Hati Nanine

September 7, 2007 at 12:16 pm 2 komentar

Dianing Widya Yudhistira

Sumber: Tabloid NOVA, Agustus 2007

“MAUKAH kamu jadi istriku?”
Mata Nanine terbelalak bulat penuh. Mata yang seperti bunga mawar tengah mekar itu menambah keelokan wajahnya. Alis matanya seperti bulan sabit di langit malam. Hidungnya yang mancung seolah mengabarkan ada darah timur tengah mengalir dalam tubuhnya. Satu lagi, pipinya berhiaskan lesung pipit.
Nanine hampir tersedak mendengar permintaan Reza. Kepalanya tak mengangguk atau menggeleng. Terlebih bibirnya, hanya diam. <!–more–>
“Nine,” panggil Reza dengan nada mendesak. Nanine gugup. Reza menggunakan gerakan matanya sebagai isyarat ia ingin jawaban.
“Aku …”
Reza meraih tangan Nanine. Buru-buru Nanine menarik tangannya. Seorang pelayan sudah membawakan pesanan dua porsi roti pangang isi keju, juga dua gelas jus melon.
Nanine segera sibuk dengan roti panggang di hadapannya. Ia berharap Reza tak mengusiknya dengan pertanyaan rumit itu. Rumit? Ya, baginya segala yang menyangkut pernikahan adalah peristiwa yang maha rumit.
Nanine benci pernikahan. Karena menikah ibunya harus bekerja luar biasa kerasnya. Ibu yang hanya guru SMA negeri itu harus berjuang sendiri tanpa ayah. Ayah meminta ibu merestui permintaan gila. Ingin menikah lagi.
Ketika itu ia baru duduk di kelas satu SMP. Kedua kakak laki-lakinya kelas dua STM dan smester pertama kuliah di perguruan tinggi negeri. Ibu menentang keras permintaan ayah untuk menikah lagi. Nanine dan kedua kakaknya serta keluarga besar ayahnya menentang keras keinginan ayahnya, tetapi itu tak menggoyahkan ayah Nanine untuk memiliki istri muda.
Memang ketika itu usaha dagang kain batik ayah Nanine tengah berada di masa keemasan. Banyak pedagang dari Jakarta yang belanja kain batik ke ayah Nanine. Materi yang berlimpah membuat ayah Nanine lupa diri. Sampai hati menduakan cinta ibunya.
“Keadilan seperti apa yang hendak kau tawarkan,” ucap ibunya disela-sela pertengkaran sengit.
“Materi bisa saja kamu bertindak adil, tapi bagaimana dengan hatiku.”
Kalimat ibunya membuat bathin Nanine meretas. Siapapun perempuan yang dimadu pasti terluka. Ayahnya tetap menikah lagi. Parahnya pendidikan Nanine dan kedua kakaknya tak diperhatikan lagi oleh ayahnya.
Untuk membiayai sekolah Nanine dan kedua kakaknya tak mungkin ibunya hanya mengandalkan gaji sebagai guru SMA negeri. Maka hal baru pun ibu Nanine coba. Dari membuka warung makan di malam hari, berdagang baju dari pintu ke pintu, hingga akhirnya ibu Nanine membuka warung sembako. Itupun kedua kakaknya ikut bekerja sebagai buruh di sebuah bengkel motor dan dan menjadi penjaga kounter hp.
Nanine ingat betul masa itu adalah masa-masa sulit. Perpisahan ibu dan ayahnya menyisakan trauma. Ia benci laki-laki. Ia bertekad kelak akan hidup sendiri. Tak perlu kehadiran sosok suami.
Untuk apa menikah. Bila pernikahan kelak hanya melahirkan luka. Suami meminta restu ingin menikah lagi. Apa tidak mungkin ia akan mengalami peristiwa yang sama dengan ibunya. Nanine kecut. Lebih baik berkalang tanah dari pada hidup dipecundangi laki-laki. Yang ia tahu dalam kasus apapun perempuan selalu di pihak yang lemah. Ia tak mau menjadi perempuan yang lemah. Tak menikah bukan dosa, pikirnya. Juga bukan aib. Toh, ia menikmati kehidupannya sekarang. Punya pekerjaan, tidak menggantungkan hidup pada ibu atau kakak-kakaknya.
“Nine.”
Nanine terus melahap roti panggangnya, ia pura-pura tak mendengar panggilan Reza.
“Nine.”
“Ya.”
Reza menatapnya.
“Maaf aku sangat lapar, jadi tak ingat kalau di depanku ada kamu,” ujarnya mangalir begitu saja. Membuat Reza menautkan kening. Tak biasanya Nanine berbicara dengan nada seperti itu. Tak peduli.
“Aku ingin jawabanmu.”
Nanine menelan rotinya. Mengesip jus. Menatap Reza dengan seribu kekuatan. Sesungguhnya Nanine tak pernah kuasa menatap mata laki-laki di depannya. Jauh di lubuk hatinya ia mengagumi Reza. Kalaupun ada istana megah yang bertahta di hatinya, itulah Reza. Sayang, Reza terlampau sempurna baginya. Ia tak ingin kecewa karena perasaannya.
“Aku ingin jawabanmu,” ulang Reza.
“Aku malas bicara soal nikah, Re. Maaf.”
“Empat tahun Nine, bukan waktu yang pendek untuk saling mengerti.”
Nanine menyapu bibirnya dengan kertas tissu.
“Dan kamu masih belum mengerti juga.”
“Apa?”
“Aku tak punya pikiran untuk menikah.”
“Kamu pikir aku akan melakukan poligami seperti ayahmu.“
Nanine menatapnya.
“maaf,” ucap Reza lirih.
“Tak apa.”
Reza meraih tangan Nanine.
“Aku serius.”
Nanine menggeleng.
“Tidak Re.”
Sejenak suasana hening.
“Lihat wajahku, apakah ada garis-garis kerakusan di sini. Hingga dalam hidup tak cukup satu istri.”
“Sekarang kamu berkata seperti ini, sama ketika ayah melamar ibu. Berapa tahun kemudian kamu akan mencampakkan perempuan yang kau nikahi. Aku tak mau. Aku tak sudi. Lebih baik tak menikah Re.” Nanine mengucapkannya dengan nafas naik turun. Reza memejamkan mata. Bila tak ia sudahi, bukan tak mungkin pertengkaran akan tersulut.
* * *.
Nanine duduk dengan lesu di atas tempat tidurnya. Pertanyaan Reza tentang kesediaannya menikah menusuk-nusuk benak.
“Aku bersedia jadi istrimu, Reza. Sangat,” ucapnya lirih lalu menelan air ludah. Tapi bayang-bayang sikap ayahnya beberapa tahun lalu sangat kuat menghantuinya.
“Aku tidak mau. Titik.”
Tapi bagaimana kalau Reza menikah dengan perempuan lain?
“Peduli amat,” pekiknya.
Kamu akan kehilangan ia selamanya.
“Biar saja,” ucapnya ketus.
“Nanine,” panggil ibunya diantara ketukan pintu. Nanine mempersilahkan ibunya masuk. Seperti biasa seuntai senyum mengembang dari bibir perempuan yang rambutnya mulai memutih. Ibunya duduk di sisinya.
“Bagaimana kabar Reza?”
Nanine menautkan kening kuat-kuat. Adakah ibunya tengah mengarahkan pembicaraan ke Reza?
“Nine.”
“Baik-baik saja Bu.”
Terdengar helaan nafas ibunya.
“Sampai kapan kamu bersikukuh tak menikah.”
Nanine menatap ibunya lekat-lekat, lalu terdengar lagi helaan nafas ibunya. Sejenak ibunya menunduk lalu berbicara panjang lebar, bahwa Reza telah menemuinya, memohon restu untuk menikahi Nanine.
Nanine diam. Suasana jadi hening.
“Kau tak ingin tahu sikap ibu, Nine?”
Nanine memandangi lagi mata ibunya yang masih memancarkan sisa-sisa keindahan masa lalu.
“Ibu setuju bila kamu menikahi Reza.”
Nanine menggeleng-geleng disertai helaan nafas yang kasar.
“Jangan libatkan ayahmu dalam hal ini.”
Nanine masih memandangi mata ibunya. Kali ini seolah bertanya ia harus bersikap bagaimana.
“Bila ayahmu menduakan ibu, bukan berarti Reza akan melakukan hal sama.”
“Kalau Reza melakukan hal yang sama?”
Suasana hening.
“Pokoknya Nanine tidak akan pernah menikah seumur hidup. Buat apa menikah bila kelak ditinggalkan. Tidak Bu, Nanine tidak akan menikah dengan Reza atau siapapun.”
“Kau siap hidup sendirian sampai renta?”
Nanine diam.
“Tanpa pendamping hidup, tanpa anak, tanpa keturunan. Kau siap kesepian sepanjang hayat?”
Nanine menghela nafas.
“Manusia membutuhkan kehadiran orang lain, Nine.”
Nanine diam.
“Tak ada manusia yang sanggup hidup sendiri.”
“Bagaimana kalau Reza …”
“Kalaupun itu terjadi, itulah hidup. Penuh masalah, dan masalah itulah yang menandakan kita masih hidup. Kesulitan, kepahitan bukan untuk dihindari tapi untuk dihadapi. Jangan jadi pengecut.!”
Nanine seperti ditampar keras. Selama ini ia memang takut menikah karena takut ditinggalkan seperti ibunya. Ibunya beranjak dari duduk. Nanine memandangi punggung ibunya hingga ibunya keluar kamar.
Sendiri ia di dalam kamar. Reza sangat baik padanya, Reza bisa menerima ia apa adanya, Reza sayang padanya dan ingin menikahinya. Pantaskah ia menghukum Reza dengan menolak permintaan Reza? padahal kesalahan itu ayahnya yang melakukan.
Seharian penuh Nanine membolak-balikkan hati dan pikirannya. Antara menerima Reza menjadi suaminya juga ketakutan bila kelak Reza meninggalkannya. Menikah lagi dengan perempuan yang lebih muda dan cantik. Atau ia tolak saja Reza, tapi bagaimana masa tuanya nanti? Tanpa anak, tanpa suami, hanya sendirian. Bisakah ia menjalani hidup sendirian.
Nanine memandangi dinding kamar yang sepi. Sesepi hatinya kini.

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Sintren, Riwayatmu Kini… Khatulistiwa Jaring Penulis Muda

2 Komentar Add your own

  • 1. Hairani Pardjo Rani_pasca@yahoo.co.id  |  Agustus 27, 2009 pukul 3:14 am

    Wanita yang tegar walau badai datang diiringi topan dan guntur…

    Balas
    • 2. dianing  |  September 11, 2009 pukul 2:17 pm

      Terimakasih mba Hairani…Salam.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Nov »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

TELAH DIBACA

  • 103,858 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: