Heterogenitas Puisi Indonesia Mutakhir

Juni 12, 2007 at 4:09 am 5 komentar

Sumber: Republika, Minggu, 10 Juni 2007

Bagian terakhir dari dua tulisan.

Ahmadun Yosi Herfanda, Redaktur sastra Republika

Dibanding dunia fiksi, lebih sulit untuk merumuskan perkembangan perpuisian Indonesia mutakhir, karena tidak adanya mainstream yang kuat. Yang lebih tampak pada perpuisian Indonesia mutakhir adalah keberagaman tema dan gaya pengucapan. Heterogenitas tema dan gaya itu tampak pada sajak-sajak yang dipublikasikan di surat kabar, majalah sastra, maupun buku-buku antologi puisi dan kumpulan sajak.

Kenyataan itu menegaskan bahwa keberagaman gaya dan tema menjadi ciri utama perpuisian Indonesia mutakhir, yang sebenarnya juga menjadi ciri Angkatan 2000 — angkatan sastra Indonesia mutakhir versi Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Versi lain dari Angkatan 2000 dengan rumusan ciri estetik yang berbeda juga sempat dimunculkan oleh Korrie Layun Rampan.

Sayangnya, kelahiran angkatan sastra terbaru itu kurang mendapatkan posisi yang kuat dalam sejarah sastra Indonesia, karena ciri estetik yang ‘menyatukannya’ dianggap kurang meyakinkan. Korrie, sebenarnya sudah mencoba merumuskan ciri estetik yang menyatukan angkatan tersebut, namun karena wajah heterogen sastra Indonesia lebih tampak di permukaan, ciri estetik yang dikemukakan Korrie kurang meyakinkan untuk menandai lahirnya sebuah angkatan baru.

Pada awal 1990-an sempat muncul gaya Afrizalian, yang nyaris menjadi mainstream yang kuat. Gaya Afrizalian — sajak-sajak mosaik bercitraan dunia urban industrial — dibarengi maraknya sajak-sajak gelap dengan simbolisasi yang berlapis dan sulit ditafsirkan. Tetapi, bersamaan dengan itu, sajak-sajak imajis yang bening, serta sajak-sajak religius-sufistik dan sajak-sajak sosial yang transparan, juga tetap banyak ditulis.

Kemudian, di seputar reformasi politik 1998, perpuisian Indonesia lebih dimaraki oleh sajak-sajak sosial, yang disebut sebagai ‘sajak-sajak peduli bangsa’. Fenomena sajak-sajak sosial ini bahkan berhasil menggeser fenomena Afrizalian dan sajak-sajak gelap. Penyair-penyair yang semula tampak ‘mengharamkan’ tema sosial-politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri dan Acep Zamzam Noor, misalnya, bahkan ikut menulis sajak-sajak kritik sosial yang tajam dan lugas.

Pasca-maraknya sajak-sajak sosial, sejak awal tahun 2000 hingga kini, perpuisian Indonesia kembali pada kemerdekaan masing-masing penyair dalam mencipta. Gaya dan tema sajak-sajak Indonesia mutakhir — seperti dapat kita amati pada rubrik-rubrik sastra surat kabar, majalah Horison, Jurnal Puisi, serta berbagai kumpulan dan antologi puisi — kembali beragam. Heterogenitas tema dan gaya pengucapan kembali mewarnai perpuisian Indonesia.

Belakang, muncul sajak-sajak (naratif) yang panjang, seperti banyak dimuat Harian Kompas. Tetapi, sajak-sajak pendek tetap banyak bermunculan di rubrik-rubrik sastra surat kabar lain, seperti Republika, Media Indonesia, Suara Pembaruan, dan Koran Sindo. Sehingga, sajak-sajak panjang versi Kompas belum dapat dianggap sebagai mainstream.

Selain itu, masih ada kesan yang kuat bahwa tradisi perpuisian Indonesia mutakhir kembali terperangkap ke dalam orientasi kuantitatif, seperti yang disebut oleh Budi Darma sebagai ‘kesemarakan yang tanpa prestasi estetik’ — sebutan Budi Darma ketika melihat maraknya buku-buku antologi puisi yang diterbitkan oleh komunitas-komunitas sastra di Tanah Air sejak awal 1990-an.

Asumsi Budi Darma itu bisa benar, bisa pula salah. Sebab, bisa jadi sebenarnya prestasi estetik itu ada, namun tidak terlihat jelas, karena kita tidak memiliki kritikus sastra yang tajam dan jeli dalam melihat sajak-sajak yang ada. Lagi-lagi, kita merasakan kekurangan kritikus sastra, atau bahkan krisis kritik sastra. Tradisi kritik sastra kita belum mampu mengimbangi booming puisi Indonesia mutakhir.

Sajak-sajak Indonesia paling mutakhir yang berhasil menarik perhatian para pengamat sastra — setidaknya dewan juri Khatulistiwa Awards 2005 — justru sajak-sajak bertema keseharian yang sepele, dengan citraan-citraan di seputar sarung dan celana, karya Joko Pinurbo. Penyair asal Yogyakarta ini berhasil meraih salah satu penghargaan bergengsi, Khatulistiwa Literary Award 2005.

Berjayanya fiksi-fiksi seksual dan sajak-sajak bertema keseharian yang sepele, seperti telah disinggung di atas, menandakan bahwa tradisi kesastraan Indonesia belakangan ini ‘terjatuh’ atau ‘terdegradasi’ dari posisi yang semula transenden ke posisi yang profan. Karya sastra rata-rata tidak lagi membawa pesan-pesan luhur yang diorientasikan untuk mencerahkan masyarakatnya.

Dalam kecenderungan seperti itu, karya sastra terkesan sekadar dikemas sebagai bacaan yang menghibur sekaligus untuk mencari sensasi permukaan. Kalaupun mau dilihat secara ideologis, khususnya fiksi-fiksi seksual, sastra mutakhir justru cenderung dimanfaatkan untuk mendegradasi posisi luhur peradaban manusia sendiri.

Dalam novel Saman, misalnya, posisi hubungan seks yang dianggap sakral oleh agama dengan dilindungi oleh lembaga perkawinan, cenderung hendak dibebaskan dari campur tangan agama, dan cenderung hendak dibiarkan ‘bebas untuk dinikmati’ seperti orang menikmati es krim atau pizza hut.

Pada sisi lain memang ada mainstream fiksi Islami, tetapi karena gayanya yang ngepop (pop-Islami), sejauh ini belum terlalu diperhitungkan oleh para pengamat, akademisi maupun kritisi sastra, sebagai bagian penting dari pertumbuhan sastra Indonesia. Sebagian penulis fiksi Islami yang terkesan bersikap ‘hitam putih’ dalam memandang persoalan manusia (masyarakat) juga malah cenderung memberikan citra yang sektarian pada tradisi fiksi Islami.

Meskipun begitu, masyarakat pembaca karya sastra di Indonesia patut berterima kasih pada para perintis tradisi fiksi Islami, seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Maimon Herawati — tiga pendiri FLP — karena fiksi-fiksi Islami dapat menjadi alternatif bacaan yang lebih sehat di tengah maraknya fiksi seksual yang cenderung anti-moral serta teenlit yang mengadopsi begitu saja moral pergaulan yang serba bebas ala remaja Amerika.

Bagaimanapun, fiksi-fiksi Islami, seperti karya-karya Asma Nadia, Pipiet Senja, Gola Gong, dan Habiburrahman El-Shirazy, tetap menjadi pilihan terbaik bagi bacaan remaja dan kaum muda Islam, ataupun keluarga Muslim, di Tanah Air.

Di tengah kecenderungan profanisasi sastra di satu sisi, dan sektarianisasi sastra pada sisi yang lain, saya kira penting sekali untuk direaktualisasi gagasan-gagasan sastra transendental ataupun sastra profetik, seperti yang pernah dikemukakan oleh Kuntowijoyo dan Emha Ainun Nadjib.

Reaktualisasi sastra transendental itu penting agar tradisi sastra tidak ikut terseret ke peradaban satu dimensi yang hanya memuja materi dan kenikmatan duniawi, agar sastra Indonesia tetap menjadi penyeimbang untuk dapat tetap menjaga dimensi-dimensi keilahian dan kekhalifahan manusia di muka bumi.

Tulisan ini merupakan pengantar untuk Sesi Diskusi Pesta Penyair Indonesia 2007, Sempena The 1st Medan International Poetry Gathering, di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan, 26 Mei 2007. (Ahmadun Yosi Herfanda )

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=296110&kat_id=364

Iklan

Entry filed under: KLIPING.

Segera Terbit: Novel Perempuan Mencari Tuhan Perempuan Mencari Tuhan

5 Komentar Add your own

  • 1. wisnu murti  |  Mei 7, 2008 pukul 1:44 am

    blognya bagus juga lho mbak,kita tukeran link mau gak?

    Balas
  • 2. orang cantik di selulu dunia  |  September 22, 2008 pukul 2:18 pm

    bgs bgs bgs bgs

    Balas
  • 3. Anonim  |  Januari 2, 2013 pukul 6:00 am

    isinya bermanfaat banget

    Balas
    • 4. dianing  |  Januari 18, 2013 pukul 3:20 am

      Terimakasih,salam.

      Balas
  • 5. http://bing.com  |  Februari 15, 2013 pukul 1:02 pm

    How long did it acquire u to publish “Heterogenitas Puisi Indonesia Mutakhir ”?
    It also has plenty of superior info. Many thanks
    ,Tricia

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juni 2007
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

TELAH DIBACA

  • 105,258 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: