Sastra Mutakhir dan Degradasi Peran Sastrawan

Juni 5, 2007 at 12:26 pm 2 komentar

Sumber: Republika, Minggu, 03 Juni 2007

Bagian Pertama dari Dua Tulisan

Ahmadun Yosi Herfanda
Redaktur sastra Republika

Kesastraan Indonesia terkini menampakkan perkembangan yang cukup menarik untuk dicermati. Pada ragam fiksi, fenomena fiksi seksual sudah menampakkan tanda-tanda antiklimaks, dan disusul dengan makin maraknya fiksi sejarah dengan tafsir-tafsir baru. Pada sisi lain, fenomena fiksi Islami terus melahirkan karya-karya best seller, meski secara permukaan juga menampakkan tanda-tanda kejenuhan pasar.

Berbeda dengan ragam fiksi yang perkembangannya hampir selalu disambut pembicaraan yang cukup gegap gempita (terutama tentang kecenderungan fiksi seksual), perkembangan ragam puisi tampak adem-adem saja. Padahal, ratusan ‘penyair baru’ terus berlahiran, ribuan puisi terus ditulis dan disebar ke berbagai rubrik sastra di media massa, jurnal dan majalah khusus sastra, serta buku-buku antologi puisi (bersama) dan kumpulan sajak (tunggal).

Sepinya perbincangan ataupun polemik tentang puisi, bisa jadi karena secara estetik maupun tematik tidak ada ‘pencapaian baru’ yang mengejutkan dan mampu menghentak perhatian para pengamat dan kritisi sastra. Para pengamat atau kritisi sastra masih melihat sajak-sajak yang bertebar itu hanya memiliki kualitas estetik yang rata-rata, atau standar layak muat di media massa saja, dengan tema-tema yang cenderung stereotype. Alias, tidak ada ‘kejutan estetik’ baru, yang menonjol di antara ribuan sajak yang dipublikasikan itu.

Namun, bisa jadi sebenarnya ‘prestasi estetik baru’ itu telah ada di antara kesemarakan tersebut. Tetapi, persoalan yang sesungguhnya adalah tidak adanya kritisi atau pengamat sastra yang kini dapat berperan sebagai ‘penemu yang jeli’ seperti peran yang dilakukan HB Jassin ketika menemukan sekaligus membesarkan Chairil Anwar dan Taufiq Ismail, serta menempatkan masing-masing pada posisi terhormat sebagai pelopor Angkatan 45 dan Angkatan 66.

Pasca HB Jassin sebenarnya ada beberapa kritisi atau pengamat sastra yang cukup jeli, sungguh-sungguh dan independent, serta sempat menulis beberapa buku kritik sastra. Misalnya, Subagio Sastrowardoyo yang menghasilkan buku Sosok Dalam Sajak, kemudian A Teeuw yang menghasilkan buku Tergantung Pada Kata.

Hampir bersamaan dengan mereka, ada Korrie Layun Rampan, yang menghasilkan beberapa buku — namun kini Korrie ‘meninggalkan dunia sastra’ dan memilih menjadi anggota DPRD Kutai Barat. Pasca-Korrie, saat ini juga ada Maman S Mahayana yang rajin menulis kritik sastra. Namun, agaknya Korrie maupun Maman belum menemukan karya besar yang monumental dari generasi sastra Indonesia terkini.

Upaya untuk menarik perhatian para pengamat dan kritisi sastra sebenarnya telah dilakukan oleh sejumlah penyair. Binhad Nurrohmat, misalnya, mencoba mencari perhatian dengan puisi-puisi bercitraan seputar selangkangan. Namun, hanya sempat menimbulkan ‘percikan’ sesaat, karena kemunculannya terkesan ‘menunggang’ kecenderungan fiksi seksual yang dimulai oleh Ayu Utami dengan novel Saman-nya yang disambut maraknya pembicaraan tentang fiksi seksual di Tanah Air.

Perhatian justru berhasil diperoleh oleh Joko Pinurbo, yang bermain-main dengan citraan-citraan sederhana seputar sarung dan celana. Setidaknya, tema-tema keseharian yang sepele dan citraan-citraan unik yang dipilih Joko berhasil menarik perhatian para juri Khatulistiwa Literary Award 2005 yang menghadiahinya penghargaan cukup bergengsi tersebut.

Keberhasilan Ayu Utami (juga Djenar Maesa Ayu dan Dinar Rahayu) dengan fiksi-fiksi seksualnya, ditambah keberhasilan Joko Pinurbo dengan tema-tema sepele dan citraan-citraan seputar sarung dan celana, di satu sisi harus diakui memang cukup menyegarkan kembali tradisi sastra Indonesia yang menampakkan tanda-tanda kejenuhan. Tapi, pada sisi lain juga makin menegaskan telah berakhirnya ‘peran kepujanggan’ bagi sastrawan. Sastrawan ‘membebaskan diri’ dari peran-peran ideal, seperti memberikan pencerahan dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada masyarakat pembaca.

Kecenderungan tersebut tentu juga dapat dibaca sebagai terjadinya ‘degradasi peran sastrawan’ dalam masyarakat. Sastrawan jatuh dari peran pencerahan ke peran yang sekadar menghibur. Sastra jatuh dari peran yang transenden ke peran yang sangat profan. Bahkan, pada kasus Ayu Utami, sastra menjadi pendorong dereligiusitasi (baca: gerakan anti peran agama) dalam masyarakat, khususnya dalam masalah seksual. Gagasan Ayu Utami yang ingin ‘membebaskan seks’ dari peran agama makin tampak jelas jika kita membaca esei-eseinya, terutama yang dimuat di Majalah X-Magazine.

Tepat sekali hasil analisis Katrin Bandel dalam buku Seks, Sastra, Perempuan (2006), bahwa sensasi yang muncul atas novel-novel seksual Ayu Utami adalah berlebihan. Karena, karya-karya itu sebenarnya biasa-biasa saja. Menurut Katrin, sensasi berlebihan itu justru malah merugikan sastra Indonesia. Sebab, sensasi itu malah mengalihkan perhatian masyarakat dan pengamat sastra dari karya-karya yang sesungguhnya lebih bagus dan lebih pantas untuk diperbincangkan.

Menyusul berkembangnya fiksi seksual, sebenarnya berkembang pula fiksi Islami yang dipelopori oleh para penulis Forum Lingkar Pena (FLP) dan berhasil menjadi bacaan alternatif yang lebih sehat bagi masyarakat. Di antara karya para penulis FLP, seperti karya Asma Nadia, Pipiet Senja, dan Habiburrahman El-Shirazy, bahkan berhasil mencapai best seller. Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy, misalnya, kini dapat melampaui angka penjualan novel Saman karya Ayu Utami, dengan terjual lebih dari 250.000 eksemplar.

Di luar fiksi seksual dan fiksi Islami, sebenarnya tetap banyak ditulis juga fiksi-fiksi yang tetap bermain pada tema-tema kemanusiaan yang universal (humanisme universal). Tidak kurang pula fiksi-fiksi yang mengeksplorasi kearifan serta kekayaan budaya lokal, seperti karya-karya Ahmad Tohari, Kuntowijoyo, Wisran Hadi, Taufik Ikram Jamil, dan Dianing Widya Yudistira. Sementara, Seno Gumira Ajidarma, selain mengangkat dunia pewayangan, juga banyak menggarap tema-tema sosial. Belakangan, banyak muncul juga novel-novel yang mengangkat sejarah, seperti Dyah Pitaloka (2005) karya Hermawan Aksan dan trilogi novel Gajah Mada (2006-2007) karya Langit Kresna Hariadi.

Fiksi-fiksi yang tidak mengandalkan sensasi seksual yang mengatasnamakan ‘pembebasan kaum perempuan’, seperti asumsi Katrin Bandel, bisa jadi lebih bagus dan lebih berarti bagi pertumbuhan sastra Indonesia. Tetapi, agaknya, perhatian media dan pengamat sastra, untuk sementara ini, lebih tertuju pada fiksi-fiksi seksual. Kecenderungan itu dapat dianggap sebagai ‘kerugian besar’ bagi sejarah sastra Indonesia, karena tidak mendapatkan catatan yang jujur, tajam, dan objektif atas perkembangan sastra Indonesia yang sesungguhnya.

*Tulisan ini adalah Pengantar untuk Sesi Diskusi Pesta Penyair Indonesia 2007, Sempena The 1st Medan International Poetry Gathering, di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan, 26 Mei 2007.
( )

Iklan

Entry filed under: KLIPING.

Kematian yang Indah Segera Terbit: Novel Perempuan Mencari Tuhan

2 Komentar Add your own

  • 1. Qinimain Zain  |  September 7, 2008 pukul 1:53 am

    (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

    Balas
  • 2. Anonim  |  Oktober 14, 2013 pukul 3:19 am

    Contoh sastra indonesia mutakhir

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Juni 2007
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

TELAH DIBACA

  • 105,258 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: