Sintren

Mei 24, 2007 at 12:54 pm 1 komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Sumber: Republika, 18 Oktober 1998

NAMA yang sederhana. Saraswati. Untuk kesekian kalinya aku bidikkan kamera pada sosoknya. Tubuhnya indah dengan balutan busana sintren. Tarian yang memiliki daya magis.

Semula aku mencibir penuturan Bondan. Tak mungkin seorang gadis yang diikat dan dimasukkan ke karung dalam waktu sekejap bisa membebaskan diri sekaligus ganti pakaian.

Entah mengapa penari sintren itu mengusik benakku. Parasnya tak begitu cantik. Biasa saja. Tinggi badannya sedang. Ia hanya berpendidikan sekolah dasar.

Ayah Saraswati adalah segelintir seniman yang ingin melestarikan budaya daerah. Dari Ayahnya, Saraswati lahir dan besar di lingkungan sintren. Mbah Mo, nama ayah Saraswati, sedari muda sering menerima pesanan pertunjukan sintren. Mencari penari sintren bukanlah pekerjaan gampang. Mbah Mo harus tahu benar penari yang ia ajak. Hingga akhirnya ia gunakan anaknya sendiri untuk menari sintren.

Aku menyayangkan sikap Mbah Mo. Melarang Saraswati sekolah. Padahal dari sorot matanya, aku yakin ia perempuan yang cerdas.

“Berontak?.”

Aku mengangguk.

“Saraswati tak bisa keluar dari kekuatan itu, Yud. Ia sudah masuk ke dunia lain,” tutur Bondan.

Aku tutup kamera. Memasukkan ke dalam tas. Menyelinap ke bilik rombongan sintren. Aku memperkenalkan diri. Kesempatan berbincang dengan Saraswati aku dapatkan. Aku terpana saat bertatapan dan mendapatkan seulas senyumnya. Luar biasa daya tariknya.

Di akhir pembicaraan, aku aku dikejutkan dengan pernyataannya. Bahwasanya aku bisa menjadi sintren. Sintren laki-laki.

“Kamu akan menikmati keindahan yang tak pernah dinikmati laki-laki lain.”

Aku menautkan kening. Tenggelam dalam kalimatnya.

Seharusnya aku tak perlu mempermasalahkan kalimat Saraswati. Menjadi sintren laki-laki. Beapa naif. Tapi, aku tiba-tiba selalu diburu bayang-bayang Saraswati. Kesibukan sebagai wartawan tak mampu menumbangkan bayang-bayang Saraswati. Setiap kali menepisnya, sosoknya kian menguat dalam benakku.

Aku tak pernah belajar untuk kangen. Terlebih kangen terhadap perempuan. Terlebih lagi perempuan yang menjadi sintren. Hingga hari-hariku terasa mampat. Aku harus melupakan Saraswati. Aku tak mungkin menjadikan perempuan itu menjadi perempuanku.

Perempuanku? Yang aku tahu perempuan senantiasa menuntut laki-lakinya untuk dperhatikan secara berlebih. Sementara perempuan sendiri, sering tidak mau mengarkan kalimat-kalimat lelakinya. Selalu egois. Menang sendiri. Mungkinkah Saraswati demikian?

Pagi. Aku asik di depan komputer. Mengejar tulisan yang harus selesai hari ini. Ada sosok perempuan di samping komputer. Barangkali tengah memperhatikan naskah di tangannya. Aku tak acuh dengan sosok itu.

Waktu yang lama membuat aku mengangkat wajah. Mataku nanar. Mulutku memanggil sebuah nama. Aku tak tahu mengapa ia ada di depanku. Padahal alamat dan nama tak pernah aku beritahukan padanya. Ia tersenyum. Meletakkan naskah ke meja. Ketika aku tanyakan kabar kampungnya, perempuan itu tersenyum lagi. Dan ketika aku tanyakan kabar kegiatannya, perempuan di depanku menautkan kening kuat-kuat.

“Kamu perlu istirahat, Yud.”

Perempuan itu kemudian membalikkan tubuhnya. Beranjak. Aku tak merelakan begitu saja.

“Saraswati.”

Langkahnya terhenti. Memandangiku lama-lama kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Aku terpintal rasa heran. Perempuan itu mendekatiku kembnali.

“Kamu terlampau lelah, Yudha.”

Kalimat yang sama. Aku pejamkan mata. Ketika membuka, perempuan di depanku bukan Saraswati. Aku terkejut.

“Namaku masih Kartika, kampungku Palopo, pekerjaan wartawan.”

Aku merasa bodoh. Kartika membalikkan kembali tubuhnya. Aku melenguh.

Aku pandangi langit-langit kamar. Peristiwa di kantor membuatku tak habis pikir.

“Kamu perlu istirahat Yud.”

Terngiang kembali. Mataku lelah Tulang-tulang terasa nyeri. Angin dari celah-celah kamar memanjakanku. Pelan-pelan terlena.

Suara yang pernah aku kenal, terdengar sayup-sayup. Kian jelas. Suara musik dan nyanyian yang mengiringi pertunjukkan sintren. Aku menautkan kening. Tanganku meraih guling. Aku terkejut. Tubuh perempuan. Darahku berdesir. Saraswati pulas di sampingku. Aku cubit lenganku berkali-kali. Sakit. Aku pejamkan mata berkali-kali. Aku tidak mimpi,

Aku raba pelan-pelan wajahnya yang sederhana. Membelai rambutnya yang wangi. Benar-benar Saraswati. Aku tak berani lagi menyentuhnya. Bulu kudukku menegang. Bagaimana ia bisa masuk ke kamarku. Gila!

“Mas Yudha.”

Suara laki-laki. Aku menoleh. Terpaku memandangi Gilang, adikku. Lalu siapap yang aku belai rambutnya dan aku waba wajahnya?

“Kamu.’

“Kakak sakit?”

Aku hanya mengehal nafas. Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Suara yang tadi terdengar tak lagi ada.

Ketika membuka pintu kamar, aku mencium aroma masakan. Tak biasanya Gilang memasak. Dan di rumah ini tidak ada perempuan. Aku bergegas ke dapur. Di ruang tengah, Gilang tertidur pulas dengan suara dengkurnya. Aroma dari dapur melilit laparku.

Aku merinding. Jelas sosok di dapur adalah Saraswati. Lama memandangnya dari ambang pintu. Aku melangkah lagi ke ruang tengah. Gilang dengan dengkurnya. Aku ke dapur lagi. Saraswati tengah menggoreng telur. Aku ke ruang tengah, Gilang masih pulas. Entah berapa kali aku mondar-mandir antara dapur dan ruang tengah. Gilang terbangun. Memintaku merebus mie. Aku tersenyum. Bukankah Saraswati telah memasak.

Aku ternganga di dapur. Tak ada siapapun di sana. Tak ada kesibukan apapun di sana. Tak ada satuppun makanan di sana. Aroma yang tadi aku nikmati mendadak hilang tanpa bekas. Aku menunduk. Sakitkah aku?

Bayang-bayang Saraswati tak sekedar mengusik benakku. Sosoknya hadir di pelupuk mata. Lalu menghilang dan berubah sosok lain. Aku bisa gila karenanya. Aku putuskan ke Cirebon. Aku ingin menuntaskan semuanya.

Saraswati menghadapiku tanpa rasa canggung. Tak terkejut dengan kedatanganku. Biasa saja. Ia katakan bahwasannya kelak aku akan datang lagi untuk melamarnya.

“Percayalah.”

“Hari ini aku melamarmu,” tantangku.

Saraswati tersenyum.

“Sanggup menjadi suamiku.”

Aku tak paham dengan kalimatnya.

‘Tak kecewa,” ucapnya lagi.

Dan entah kalimat apa lagi yang telah dia lontarkan.

Akhirnya aku nikahi Saraswati. Sebuah pernikahan dengan latar belakang yang saling berjauhan. Baik dari pendidikan maupun profesi.

“Kau mesti siap menghadapi Saraswati.”

Kalimat mertuaku. Kalimat yang belum aku ketahui maknanya.

Tujuh tahun usia perkawinanku dengan Saraswati.Dalam waktu sepanjang itu, akku belum pernah menikmati tubuhnya. Setiap kali menyentuhnya, Saraswati senantiasa menelak. Istri tak selamanya menyerah terhadap suami dan suami tak selamanya punyak hak untuk menuntut. Demikian kalimat yang berulang-ulang dari mulutnya.

Perkawinan seperti lipstik bagi Saraswati. Perempuan desa yang menurutku lugu ternyata keras kepala. Saraswati terus menari sebagai sintren bahkan semakin gila dengan dunianya. Ia tak pernah menganggapku ada. Semua kalimat-kalimatku baginya angin lalau.

Tetapi aku tetap laki-laki. Yang memilki keinginan purba. Tanpa meminta Saraswati, aku raih tubuhnya yang tak pernah berubah. Membantingnya ke sofa. Tapi sebuah tamparan melayang ke pipiku. Matanya memerah.

“Sekali lagi kau menyentuhku, aku tak segan-segan melukaimu.”

Aku terlampau bodoh. Tergila-gila padpa Saraswati. Lebih bodoh lagi aku mengawininya. Kini kalimt-kaimat Mbah Mo membuat aku lemas. Ia ungkapkan betapa dulu Saraswati selalu lmenyebut-nyebut namaku dalam tidurnya. Ia sama dengankku. Tergila-gila. Lalu dengan kekuatan magisnya aku tak bisa melepas bayangannya. Dan dengan kekuatan magisnya pula Saraswati menjeratku. Aku tak bisa mencintai perempuan lain. Dengan kekuatan magisnya pula aku mengiwininya tanpa bisa menikmati madu perkawinan.

“Kau tak akan pernah bisa melakukannya.”

Aku tertantang dengan kalimat itu. Siapapun Saraswati, ia istriku. Aku punya hak atas dia.

“Kau tak akan pernah mampu, Yudha.”

Aku terpaku. Senyum Saraswati mengembang.

“Karena aku seorang sintren.”

Ya. Dan Saraswati tak pernah lelah meskipun sepanjang malam menari sintren.

Tengah malam terdengar gemericik air di kamar mandi. Aku mengintip lewat lubang kunci. Aku tercengang. Saraswati merendam tubuhnya dalam bak mandi yang berisi aneka macam kembang. Sambil merendam ia meliuk-liukkan tubuhnya dengan mata terpejam.

Ketika usai aku beranjak dan mengikutinya dari belakang. Saraswati keluar rumah. Ia duduk bersila di atas rumput. Telapak tangan disatukan di depan dada. Aku lihat langit, bulan bulat penuh. Saraswati melakukannya hingga subuh.

Aku pastikan setiap malam purnama Saraswati melakukan hal yang sama. Inikah sumber kekuatan magisnya? Aku tak akan membiarkan ia melakukan hal yang sama di malam purnama yang akan datang.

* * *

Besok bulan pasti bulat penuh. Malam ini Saraswati pulas dalam tidurnya. Aku putuskan untuk melumatnya. Ia hanya perempuan. Aku menamparnya berulangkali untuk melemahkannya. Malam itulah aku telah melunaskan hasrat purbaku. Ada senyum kemenangan diiringi wajah Sarawati yang memucat.

Di malam yang sama, perlahan-lahan tubuh Saraswati yang sempurna berubah. Ada lipatan-lipatan kecil yang mengerut. Kerutan-kerutan itu berawal dari ujung jari kakinya dan terus merambat ke sekujur tubuhnya, hingga wajah yang pucat itu semakin tak jelas di mataku.

Malam itu Saraswati yang perawan berubah perempuan tua. Teramat tua. Aku tak lagi mengenalinya. Yang aku lihat, perempuan tua itu beranjak. Lalu menari-nari dengan mendendangkan lagu-lagu yang ada dalam sintren.

Aku terpana. Tak paham apa yang terjadi. Sayup-sayup terdengar gema adzan. Perempuan di depanku terus menari sambil sesekali tertawa sendiri.

***

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Bintang yang Digilai dan Dicerca Cerpen-cerpen Kematian Penulis Perempuan

1 Komentar Add your own

  • 1. bontot  |  November 2, 2007 pukul 2:07 pm

    hei, apa kisah ini berasal dari kisah nyata? belum lama ini gw liputan sintren juga di cirebon! (gw reporter Karulistiwa Lativi) kameramen gw juga menjadi begitu dekat dengan penari sintrennya! bahkan, ketika pulang ke jakarta, menurut “orang pinter”, ada jin wanita cantik(itu roh sintren) nemplok di punggungnya! apa cerpen ini cuma fiksi belaka?

    qwerto

    Terima kasih atas apresiasinya. Cerita ini hanya fiksi, tapi saya melakukan riset dan wawancara dengan sejumlah orang yang terkait dengan sintren, termasuk tokoh-tokohnya. Jadi ini fiksi yang berangkat dari fakta-fakta nyata. Salam, DWY.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 106,142 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: