Tarian Hening

Mei 23, 2007 at 10:46 am 1 komentar

Sajak-sajak Dianing Widya Yudhistira

HENING

Salamku senantiasa keluh
Bikin hati luruh
Laut tak pernah teduh
Catat pertengkaran

Di bumi yang lepuh

Jakarta, September 2000

POTRET PAGI HARI

Mengapa terlahir untuk jalanan

Ke mana gerangan masa kanak yang gemilang

dan keindahannya yang purba

Padahal ia memiliki dunia sendiri, bukan sekedar hadir dan ada

Jakarta, 11 Oktober 2000

Di Ujung Senja

Cahaya siapa yang berkelebat di ujung langit

Menembus ranting-ranting rumpun bambu

Malam seperti tanpa nyawa

Desir angin tiada

Bintangpun sembunyi di ketiak cuaca

Wajah bulan tiada terbaca

Hening ini mengalirkan sembilu

Lama diri dahaga

Berteman tuak serta burung Hantu

Betapa usia terlewatkan sia-sia

Depok, Januari 2001

Sajak Putih

Adakah aku masih di sana

Seperti kemarin dan yang lalu

di palung hatimu a senantiasa bersetubuh

Kau

Kadang aku ingin sembunyi

Dalam semak belukar dan ilalang

Yang tumbuh lebat di alis matamu

Gelisah ini telah melahirkan sunyi

Di ujung musim

Telah aku lukis hujan dan cuaca

Membasahi ketiak dan kelangkang masa silam

Menenggelamkan anyir keringat yang tak terbaca

Pernahkah aku melintas di aortamu

Menarikan gelombang tsunami

Membangunkanmu dari mimpi-mimpi purba

Dalam kegelapan malam yang memuncak

Jakarta, Juni 2000

Biarkan

Biarkan rumput kering itu tumbuh di lengan cuaca

Hujan akan mengubahnya jadi bunga

Menghalau gerhana yang tak terbaca

Mengobati luka yang menganga

Bukalah gorden kamar

Biarkan cahaya bulan menyapa

Ia akan hadir dalam urat darahmu

Dalam setiap nafas dan nadimu

Nikmatilah anugerahnya dengan damai

Jagalah dalam segenap waktu

Agar hidup tak sekedar persinggahan

Jakarta Juni 2000

Ketika Hati Padamu

Kembali kanvas lama terbuka

Ada semburat merah senja

Di kening matamu yang terluka

Nyerinya terasa dalam dada

Terdengar sembilu alunan serulingmu

Ditingkahi gemericik air yang fana

Seperti merangkai lembaran antara aku dan kau

Bilakah cinta tak mengenal keyakinan

Aku mencintaimu dari kejauhan

Seperti menatap ujung pantai

Gelisahnya memintal hati dan sangsai

Betapa anggun cinta yang bermuara kepada Tuhan

Jakarta, Juli 2000

Selamat Malam

Kau dengarkah gesekan biola di ujung senja

Suaranya seperti menyimpan misteri usia

Sudah berapa lamakah kita huni dunia

Menorehkan sejarah tanpa sengaja

Bilamana kita menjadi rembulan

Memadu nada dan irama

Tanpa terpaksa — tanpa harapan

Seringkali kita lupa alamat juga nama

Sayup dan sepi gesekan biola di ujung senja

Seperti kapal kertas di lautan lepas

Masihkah ada pelangi usai turun hujan

Sebelum ajal menyapa — saatnya tiba pada batas

Jakarta, Agustus 2000

Selamat Malam

Adakah kau bertanya tentang bianglala

Pada lengkung cuaca dan lengan cakrawala

Tentang daun akasia yang menua

Berpelukan mesra dengan bau tanah

Serta senja yang melahirkan sembilu

Pada semburat warna merah

Senantiasa bikin bathin ngilu

Airmata sanak kadang terbayang luruh

Adakah kau dengar — Adzan menggema di kebisuan kamar

Lalu kehadiran malaikat membayang samar

Memangil- manggil diri untuk pulang

Adakah engkau telah menanggalkan segala sungsang

Jakarta, Agustus 2000

Perjalanan

Adakah kau dengar denting gelas

Di malam pada puncaknya

Yang iramanya bikin batin merentas

Menyayat seribu pisau — matanya

Dan cermin di kamar

Mengulang dosa-dosa masa lampau

Saatnya lidah kita tak bisa berkabar

Biarpun untuk sebuah pembelaan

Adakah kau dengar derap suaranya

Di malam yang kian sempurna

Iramanya menelanjangi diri seutuhnya

Hanya kepada dia kita kembali

Jakarta, September 2000

Keheninganmu

Adakah aku dalam ingatanmu

Bila salamku senantiasa keluh kesah

Mengalirkan keindahan sembilu

Bikin hatiku luruh

Terkadang aku ingin sembunyi

Di balik ketiak dan kelangkang masa

Menanggalkan segala sunyi

Menikmati hakikat diri seutuh rasa

Bilakah aku berarti dalam benakmu

Bila keelokan dosa terpancar di mata

Ingin aku kembali

Nikmati keheningan dalam zikir panjang

Jakarta, September 2000

Di Ujung Senja

Mengapa kau lukis kebencian di matamu

Ekornya menghujam tajam ke benak

Melahirkan kering dalam kesunyianmu

Kau perangkap dirimu dalam duri dan onak

Mengapa kau biarkan diri tiada daya

Di ujung malam yang memuncak

Tak ada satupun titik cahaya

Kau — memintal iri yang memuncak

Tetapi matahari telah mengabur

Yang pasti datang telah bertahta

Adakah kau dengar alunan yang menghibur?

Saatnya kau tanggalkan kebencian dengan cinta

Jakarta, Oktober 2000

Sendiri

Subuhku telah lama hilang

Maghrib membayang di ujung usia

Alpa dan dosa bikin hati sungsang

Gemilangku hilang sia-sia

Suara kanak-kanak mengalunkan ayat demi ayat

Alangkah damai jika aku turut di sana

Duduk berdampingan mengagungkan namanya

Tetapi malam yang gelap bikin hidupku tersayat

Kini aku luruh dalam uzur

Masa tua yang hampa

Badan terbungkuk dan papa

Sekiranya dulu ingat — bekalku ke liang kubur

Jakarta, Oktober 2000

POTRET PAGI HARI

Mengapa terlahir untuk jalanan

Ke mana gerangan masa kanak yang gemilang

dan keindahannya yang purba

Padahal ia memiliki dunia sendiri, bukan sekedar hadir dan ada

Jakarta, 11 Oktober 2000

Ramadhan yang Hening

Cahaya bulan di balik rumpun bambu

Desir angin yang samar

Seperti simponi dalam kalbu

Akan kehidupan yang fana

Langit hening sujud padamu

Pepohonan diam dalam zikir panjang

Laut tafakur dalam keagunganmu

Malam terasa hening dan panjang

Bila tiba waktuku nanti

Akankah malam sedamai ini ?

Depok, Desember 2000

KEPADA IBUNDA

Di ujung daun jendela

Masa kanak-kanak membayang

Melukis kembali semburat senja

Deru angin dan nafasku bertaut

Setiap mengenangmu

Aku terlempar ke hamparan laut —

Yang menawarkan kebebasan juga ketakutan

Jakarta, Maret 2000

REPORTASE SUNYI

Kau dengarkah anak-anak di luar

Berdendang lagu kanak-kanak

Impikan tanah lapang mengabur

Terpuruk dalam rumah kaca

Anak-anak menendang nasib

Di gang-gang sempit

Bagai bola yang selalu siap meluncur

tersesat di belantara senja

Jakarta, Oktober 1997

LUKISAN ANAKKU

Anakku melukis masyarakat pohon di air

Warnanya darah ikan bau anyir

Anakku mereka-reka suara burung

Terdengar pilu dan sumbang

Anakku melukis matahari dengan terik

Kanvasnya bertanya mengapa kemarau memanjang

Anak-anak kelaparan dengan wajah keluh

Mereka asing di kampung sendiri

Lukisan anakku menggantung di ketinggian udara

Menanyakan tentang hubungan gaib

Antara langit dan kita:

Masih bersahabatkah mereka?

Jakarta, Oktober 1997

SENJA

Hening di luar bersama rintik hujan

Menyisakan gigil yang ngungun

Ada sekian percakapan antara kita

Yang lahir dari sapa hujan dan udara

Dan wajah bulan dari balik kaca

Seperti menyiratkan makna-makna

Rentang waktu yang berjalan

Menambat usia merangkak pulang

Aku terpana dalam sepi menekan

Sapa angin pada pori-pori daun

Mengabarkan nama dan alamat

Tentang ombak yang mendaki pantai Jakarta, Mei 2000

SUATU KETIKA TENTANG KAMU

Biar aku lukis waktu di keningmu

Melebatkan ribuan ilalang dalam pikiran

Mendaki ruang-ruang purba

dimana sejarah beku dan sepi

Jakarta, Mei 2000

KEPADA IBUNDA

Di ujung daun jendela

Masa kanak-kanak membayang

Melukis kembali semburat senja

Deru angin dan nafasku bertaut

Setiap mengenangmu

Aku terlempar ke hamparan laut —

Yang menawarkan kebebasan juga ketakutan

Jakarta, Maret 2000

REPORTASE SUNYI

Kau dengarkah anak-anak di luar

Berdendang lagu kanak-kanak

Impikan tanah lapang mengabur

Terpuruk dalam rumah kaca

Anak-anak menendang nasib

Di gang-gang sempit

Bagai bola yang selalu siap meluncur

tersesat di belantara senja

Jakarta, Oktober 1997

LUKISAN ANAKKU

Anakku melukis masyarakat pohon di air

Warnanya darah ikan bau anyir

Anakku mereka-reka suara burung

Terdengar pilu dan sumbang

Anakku melukis matahari dengan terik

Kanvasnya bertanya mengapa kemarau memanjang

Anak-anak kelaparan dengan wajah keluh

Mereka asing di kampung sendiri

Lukisan anakku menggantung di ketinggian udara

Menanyakan tentang hubungan gaib

Antara langit dan kita:

Masih bersahabatkah mereka?

Jakarta, Oktober 1997

SENJA

Hening di luar bersama rintik hujan

Menyisakan gigil yang ngungun

Ada sekian percakapan antara kita

Yang lahir dari sapa hujan dan udara

Dan wajah bulan dari balik kaca

Seperti menyiratkan makna-makna

Rentang waktu yang berjalan

Menambat usia merangkak pulang

Aku terpana dalam sepi menekan

Sapa angin pada pori-pori daun

Mengabarkan nama dan alamat

Tentang ombak yang mendaki pantai Jakarta, Mei 2000

SUATU KETIKA TENTANG KAMU

Biar aku lukis waktu di keningmu

Melebatkan ribuan ilalang dalam pikiran

Mendaki ruang-ruang purba

dimana sejarah beku dan sepi

Jakarta, Mei 2000

IBUNDA (I)

Padamu — yang menawarkan kekuatan

juga ketakutan

Hadirmu tanpa cela dalam sukma

Surga membuih di pantaimu

Izinkan kumiliki cinta seperti engkau punya

Pidie-Aceh, Desember 1997

IBUNDA (II)

Malam telah sempurna

Ketika aku lukis lengkung alismu

Wajah yang purba

Diantara senyum tangismu

Aku tak pernah mengundang kenangan

Selalu menawarkan luka-luka

Pintumu selalu terbuka

Bikin hati sunyi dan ngungun

Malam kian lengkap

Ketika hati terpintal sesal

Hanya harapan yang terungkap

Semoga bahagiamu kekal

Pidie-Aceh, Januari 1998

SUBUH

Ini entah dini keberapa

Ketika dingin mengetuk daun jendela

Perlahan membukanya

Menyaksikan zikir gunung-gunung, sujud pepohonan

Serta sembahyang margasatwa

Bulan pun tunduk padamu

Aku ingin kembali dalam barisanmu

Setelah dosa-dosa melahirkan keindahan

juga sesal yang purba

Pidie-Aceh, Januari 1998

DALAM HENING

Sepenuhnya mengakui

Pepohonan sujud padamu

Gugusan bintang mengangungkan namamu

Angin diam tafakur padamu

Sepenuhnya mengakui

Keagungan ketinggian menara adzan

Keindahan semburat warna senja

serta sunyi yang membungkus malam

Dan sepenuhnya mengakui

Tebaran bintang memagari bulan

Berjamaah hanya padamu

Inikah sebagian kecil keindahan kerajaan langit

Sederhana saja hasratku

Terbujur kaku dalam ingatmu

Pidie-Aceh, Januari 1998

PERJALANAN

Alunan siapa yang mengetuk daun bathinku

Membimbingku menghapus segala bimbang

Merenangi gelisah yang beku

Meredam galau yang sungsang

Cahaya siapa menerangi bathinku

Tentang semburat senja

Taburan bintang gemintang

Serta senyum bulan yang tulus

Bathin siapa tak merindu

Bila masih sempat kunikmati subuh

Ingin hamba bersimpuh

Sepenuhnya padamu syahdu

Pidie-Aceh, Januari 1998

KANGEN

Aku tak pernah belajar untuk rindu

Kini menyapa membalut jiwa

Menawarkan sebentuk rasa ingin

Bikin bathinku biru

Perjalanan ini senantiasa bergelombang

Seperti keteduhan sinar matamu

Pasang surut tanpa ambang batas

Senantiasa mengalir padamu

Dan membuka potret-potret lama

Ingin aku kembali

Merengkuh masa kecil

Yang jauh dari sunyi

Pidie-Aceh, Januari 1998

CERMIN

Memandang langit

Hati damai

Nikmati zikir bintang-bintang

Serta sujud rembulan

Mengingat dosa

Hati ngungun

Sesali keangkuhan

Serta kealpaan

Engkaupun mengakui

Dosa senantiasa mencipta keindahan

Juga sesal yang mengental

Pidie-Aceh, Januari 1998

Iklan

Entry filed under: PUISI.

Syair Bungong Jeumpa Pisau

1 Komentar Add your own

  • 1. irmaaryasathiani  |  April 16, 2009 pukul 1:33 pm

    Lam kenal ya, Mbak. Puisinya bagus2 deh …..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 103,873 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @ummychasan: @detikcom Ketiganya kami cintai dan hormati, mrk bekerja u rakyat. 2 hours ago
  • RT @mesjkt: @detikcom Ke3nya adalah orang2 yg saya kagumi:jujur,bersih,berintegritas tinggi dan kerja kerasnya ikhlas buat bangsa dan negar… 2 hours ago
  • RT @virusmotivasi: Kadang seseorang menyalahkan orang lain hanya karena tak temukan kata yg tepat tuk ucapkan maaf. Dan karena itu kegagala… 2 hours ago
  • RT @virusmotivasi: Kadang kamu memilih tuk sendiri, bukan berarti kamu tak ingin dicintai, itu hanya berarti kamu butuh waktu tuk sembuhkan… 2 hours ago
  • RT @ilhamkhoiri: Afi Nihaya itu baru lulus SMA, masih 19 tahun, anak pedagang cilok, tapi catatannya inspiratif untuk bangun Indonesia yg d… 2 hours ago

%d blogger menyukai ini: