Tanah

Mei 23, 2007 at 11:08 am Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

AKU peluk foto Bapak. Mengingat saat kali terakhir ia menatapku: matanya berbinar, menjelmakan telaga kecil, seolah ingin mengungkapkan ketakrelaannya meninggalkanku. Mengenangnya seperti memahami kembali makna tatapan itu. Wajahnya mengguratkan penderitaan, perjuangan menghadapi hidup, dan kekecewaan.

* * *

MUSIM kemarau yang memanjang di kampungku, membuat udara kian panas di siang itu. Hembusan angin kering seperti menjelaskan masa paceklik yang menggigit. Sebagian orang-orang kampung mengeluhkan kemarau yang tidak seperti biasa. Lebih lama dari hitungan kalender Jawa.

“Salah mongso,” kata orang-orang kampung.

Memang seharusnya kemarau sudah berganti dengan musim penghujan. Tetapi lebih dari satu tahun gerimispun tak pernah menyambangi tanah kampungku.

Mungkin kekeringan itu membawa dampak kering juga di hati Lek Kerto. Setelah gagal memanen padi pada musim panen lalu, dan tertipu oleh orang kota, Lek Kerto tiba-tiba mempermasalahkan tanahnya yang dijual ke Bapak.

Sudah beberapa kali ia datangi Bapak menyatakan tanah kebun tak jauh dari rumah itu miliknya. Tetapi selalu saja Bapak tidak menanggapi. Karena Bapak memegang kuitansi dan surat perjanjian jual-beli tu. Pembelian itu juga disaksikan oleh Pak Lurah dan beberapa saksi tetua kampung.

Memang, Bapak belum sempat mengurus surat-surat resmi ke pejabat berwenang.

* * *

SIANG itu Lek Kerto datang lagi. Ia berteriak-teriak di halaman rumah sambil mengacung-acungkan golok dan memanggil-manggil Bapak dengan kasar. “Darmo keluar kowe? Kalau berani ayo lawan aku,” teriaknya bersahutan diselingi dengan kalimat-kalimat lain yang kasar.

Orang-orang kampung histeris ketakutan melihat Lek Kerto menerebos masuk ke rumah dan menyeret Bapak dengan paksa ke halaman. Tidak ada yang berani mendekat. “Ayo, katakan sekarang kepada orang-orang kampung bahwa tanah kebun itu masih milikku dan kowe belum pernah membelinya,” paksa Lek Kerto.

Mata goloknya yang mengkilat ditempelkan di tengkuk bapak. Tangan kirinya memegang kerah baju Bapak. Bapak tampak sangat ketakutan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya berdiri mematung di depan pintu. Begitu pula Emak. Orang-orang kampung pun hanya terpaku.

“Ya, ya. Itu tanahmu. Aku belum pernah membelinya,” katanya dalam nada takut yang hebat.

Pelan-pelan Lek Kerto melepaskan cengkramannya. Kemudian ia menghadap orang-orang kampung yang berdiri mematung. “Saudara-saudara sudah mendengar sendiri bahwa tanah kebun itu masih milik Kerto, belum pernah dibeli oleh Darmo. Darmo hanya pinjam untuk menggarap kebun itu. Bukan begitu Darmo?”

“Ya, ya. Kami hanya meminjam pakai.”

“Sekarang jangan sekali-kali lagi mengatakan tanah itu milik kowe. Kalau berani, lehermu akan putus,” suara Lek Kerto membahana sambil memandang murka kepada Bapak.

Bapak hanya tertunduk. Mengangguk kecil. Beberapa orang kemudian mendekat, memapah Bapak masuk ke dalam rumah. Wajahnya sangat lesu. Melihat itu, spontan aku memekik dan menghambur ke pangkuan Bapak. “Itu kan tanah kita, Pak. Kenapa Bapak mengakui itu tanah Lek Kerto.”

“Sudahlah, Nak. Nyawa Bapak lebih penting dari pada tanah itu. Itu juga salah Bapak, ketika membeli tanah itu Bapak tidak langsung mengurus surat-suratnya. Tetapi orang-orang kampung tahu kebun itu milik siapa,” suara Bapak pelan.

“Ya, semua orang tahu, Bapakmu telah membeli tanah kebun itu,” sahut Emak.

Tanah itu memang sah milik Bapak. Aku melihat sendiri Bapak bersama Emak menyerahkan setumpuk uang kepada Lek Kerto. Jual beli tanah itu sendiri disaksikan oleh Pak Lurah. Bapak dan Pak Kerto saling membubuhkan tanda tangan di selembar kertas.

Sudah menjadi kebiasaan orang-orang di kampung, jual beli tanah sering berdasarkan kepercayaan. Bapak tidak pernah mengurus surat-surat atau sertifikat untuk memperkuat hak milik. Karena itu pulalah kemudian Lek Kerto memanfaatkan celah itu untuk merebut kembali tanahnya yang sudah dijual ke Bapak.

* * *

LEK KERTO benar-benar menguasai kembali tanah itu. Tanah yang masih sah milik Bapak itu ia pagari. Ia memanen semua tanaman dan pohonan yang ditanam Bapak di kebun itu: pisang, mangga, rambutan, jambu.

Bapak sendiri tampak pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak punya kekuatan apa pun. Pak Lurah pun kemudian memberi pengakuan tanah itu belum sah menjadi milik Bapak karena belum memiliki surat-surat. Saksi-saksi yang membubuhkan tanda tangan di perjanjian jual beli juga mangkir. Entah mengapa.

Kekecewaan Bapak makin menjadi. Akhirnya ia jatuh sakit. Kalau malam, Bapak sering mengigau soal tanah. Setiapkali terbangun, juga soal tanah yang pertamakali diucapkan. Pikiran Bapak hanya dipenuhi soal tanah.

“Sudahlah Pak, ikhlaskan saja. Barangkali tanah itu bukan hak kita lagi.”

“Mak ini bicara apa. Kau lupa tanah itu menampung keringat kita,” ucap Bapak keras.

Emak mengangguk-angguk. Beranjak, kemudian kembali lagi dengan segelas kopi. Bapak meminumnya hingga tandas. Kalimatnya tiba-tiba menggelegar, tertuju padaku.

“Kamu jangan lagi berkawan dengan anak Kerto.”

Aku tidak menyahut. Tanpa perlu diperingatkan, sejak itu aku memang membenci Baskoro, anak Lek Kerto, teman sepermainanku. Benci sebencinya.

* * *

Aku tak ingat sudah berapa bulan Bapak tergeletak di tempat tidur. Setiap kali Emak menyarankan untuk pergi atau memanggil dokter, Bapak selalu menolak.

“Aku tidak butuh dokter. Aku butuh tanah itu.”

Aku nelangsa melihat Bapak yang dari hari ke hari kesehatannya merosot. Hingga di suatu pagi yang hening, aku melintas di kamar bapak. Aku terdiam melihat Bapak makin lemah. Bapak menatapku sangat lama. “Bapak lapar sekali,” katanya pelan.

“Saya belikan bubur ya Pak?” kataku.

Bapak mengangguk. Bubur memang makanan kesukaan Bapak. Aku senang, Bapak mulai punya nafsu makan. Sekian bulan, Bapak tidak pernah makan dengan baik. Paling buah-buahan. Nasi, boleh dikata, hampir-hampir tidak pernah lagi dicicipinya.

Aku segera beranjak mencari bubur untuk Bapak. Sekitar setengah jam kemudian, aku sudah sampai kembali ke rumah. Tetapi aku melihat pemandangan tak lazim di sana. Para tetangga berkumpul. Sebagian, mengeluarkan meja-kursi dan menatanya di halaman.

“Bapak,” ucapku lirih

Darahku berdesir. Kakiku seperti tertanam di bumi. Kursi-kursi yang terjajar rapi di halaman rumah itu seperti menjelaskan sesuatu yang tak pernah aku inginkan. Apakah Bapak sudah tiada? Aku tidak berani menjawab pertanyaan itu.

Tak lama, dari speaker mushalla kampung, aku dengar pengumuman duka yang sangat menusukku: Innalillahi Waiina Ilaihi Rajiun. Telah meninggal Bapak Darmo, pagi ini, di rumahnya. Aku hanya diam. Bungkus bubur yang kupegang pelan-pelan jatuh ke tanah. Samar-samar aku lihat orang-orang berlari ke arahku.

Selanjutnya, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.

* * *

SEMINGGU setelah seratus hari kematian Bapak, aku mendengar kabar Lek Kerto sakit. Menurut kabar itu, Lek Kerto sering mengigau dalam tidurnya dan berteriak-teriak memohon ampun pada almarhum Bapak. Lek Kerto juga menyebut-nyebut soal tanah itu.

“Ketika mengingau, Kerto mengakui tanah itu memang sudah milik Bapakmu. Tetapi ketika terbangun, ia berteriak sebaliknya, tanah itu masih miliknya,” cerita Emak padaku. Emak mendengar cerita itu dari tetangga Lek Kerto.

Tetangga itu menceritakan, sakit Lek Karto aneh. Kalau pagi, ia tenang. Begitu matahari naik, ia jadi berteriak-teriak sendiri. Saat matahari pada puncaknya, siang, teriakan Lek Karto makin keras. Begitu matahari condong ke barat, ia sudah tidak bisa bicara. Untuk meminta sesuatu, ia menggunakan isyarat tangan.

“Sepanjang malam, ia tidak pernah tidur. Sebentar tidur, terus berteriak-teriak lagi. Sekarang rambutnya juga mulai rontok,” kata tetangga lain yang pernah menjenguk Lek Kerto. “Beberapa dukun sudah dipanggil, tetapi mereka menyerah. Kata mereka, Lek Kerto bukan kena guna-guna. Tetapi mereka sendiri tidak tahu apa penyakit Kerto.”

Aku dan Emak terdiam mendengar omongan tetangga itu. “Dia kualat,” kataku pada Emak ketika tetangga kami sudah pulang.

Emak langsung menukas, “Hush, jangan ngomong begitu. Yang menentukan semua itu Tuhan. Kualat-tidaknya seseorang itu urusan Tuhan. Kamu jangan sembarang ngomong. Nanti kamu yang kualat.”

“Ah Emak.”

* * *

PAGI-PAGI sekali, sebelum ayam-ayam berkokok, terdengar ketukan keras di pintu memanggil-manggil Emak. Aku membuka mata. Aku simak suara siapa yang memanggil itu. Tidak salah lagi, itu suara Lek Mariam, isteri Lek Kerto.
“Mbak Yu, Mbak Yu. Tolong Mbak Yu. Tolong,” katanya.

Ketika aku dan Emak membuka pintu, dengan suara terengah-engah isteri Lek Kerto mengatakan, “Tolong Mbak Yu. Kang Kerto memanggil-manggil Kang Darmo. Ia mau minta maaf pada keluarga Mbak Yu,” katanya seperti menghiba.

“Sudah terlambat. Bapakku sudah mati karena ulah suami sampeyan,” potongku cepat. Emak tampak terperanjat dengan ucapanku. Ia memandangku. Lalu Emak berkata, “Sudah, kamu masuk ke dalam sana. Biar Emak yang bicara.”

Aku pun masuk dengan wajah cemberut. Aku benci pada keluarga Kerto. Aku mencoba mencuri dengar apa yang dibicarakan mereka, tetapi mereka bicara terlalu pelan. Tak lama, Emak masuk ke dalam. “Emak mau ke rumah Lek Kerto sebentar.”

“Buat apa menemui orang yang pernah menyakiti kita. Emak ada-ada saja.”

“Hush, anak kecil jangan banyak omong,” kata Emak sambil berlalu.

“Aku ikut,” kataku.

Emak tidak menyahut.

* * *

AKU tercekat di depan tubuh Lek Kerto. Benciku luruh seketika. Lek Kerto sangat kurus. Tulang pipi tampak menonjol. Wajah pucat pasi dengan mata menjorok ke dalam. Aku tidak menemukan sisa-sisa kegarangan di wajah Lek Kerto.

“Darmo sering menemui saya,” kata Lek Kerto pelan, nyaris serupa bisik.

Kami berpandangan.

“Kang Darmo sudah memaafkan saya. Tetapi saya juga ingin minta maaf kepada seluruh anggota keluarga Kang Darmo,” lanjutnya.

Aku dan Emak diam. Kami tidak berkata-kata.

“Mbak Yu,” Lek Kerto memanggil Emak. Suaranya serak. Kerongkongannya seperti tercekat. Nafasnya tersengal-sengal.

“Sekarang saya mengakui dan bersaksi, tanah kebun itu adalah milik Kang Darmo dan keluarganya. Jangan ada siapa pun yang mengusik tanah itu.“

Darahku berdesir mendengarnya.

Lek Kerto mengulurkan tangan ke Emak. Ia meminta maaf.

“Tanah itu milikmu. Maafkan aku. Aku tak tenang bila tanah itu belum aku kembalikan kepemiliknya. Maafkan aku.”

Emak menjabat tangan Lek Kerto yang tinggal tulang-tulang saja.

“Maafkan aku,” ucap Lek Kerto lagi terbata-bata.

Emak mengangguk.

“Terima kasih,” katanya lagi.

Kemudian senyap.

* * *

AKU masih memeluk foto Bapak, ketika Emak memanggil. “Ayo cepat, Masmu sudah menunggu.” katanya. Aku buru-buru menghapus air mata yang membikin parit-parit kecil pipiku. Aku merasa waktu berlari sangat cepat. Aku sudah selesai kuliah dan menjadi sarjana. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Baskoro.

Ya, Baskoro. Anaknya almarhum Lek Kerto. *****

Catatan:

mongso —- musim

Kowe —- kamu

Depok, Juni 2003

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Menuju Kubur Lelaki Tua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 105,232 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: