Syair Bungong Jeumpa

Mei 23, 2007 at 10:42 am 2 komentar

Puisi-puisi Dianing Widya Yudhistira

PERTEMUAN

Mengapa kau kirim aku
bunga mawar yang tak sempurna
Kelopaknya berguguran di musim semi
seperti upacara senja yang sengit

Coba kau baca
Grafiti di sepanjang tubuhku
akan kau lihat tatap sengit burung hantu
jerit kelelawar serta lolong serigala

Mengapa kau tawarkan aku
sawah ladang serta kebun yang tandus
Padahal hasratku seperti mimpi bulan pada matahari
tak pernah letih meski tahu — sia-sia

Depok, Januari 2003

Pertemuan

2

Aku dengar jarum berdenting

seperti pagi dengan secangkir kopi pekat

Lalu anyir keringatmu melenting-lenting

berputar-putar dalam ingatanku sangat lekat

Aku tak pernah mengharapkan ini

mengapa aku merasa asing

ikmati kopi yang pekat

di pagi dengan jerit kian menganga

Tanah Air

Ada air mata yang menganga

Buat aku pergi

Ada kenangan masa kecil

Bikin aku ingin pulang

Duhai deburan ombak

Yang jadi saksi kelahiranku

Wajah-wajah nelayan yang ngungun

Masih terngiangkah tentang tangis pertamaku

Kala lelah dalam pengembaraan

Wajahmu membayang

Ada luka dan kenangan

Bilakah kelak kau jadi saksi kematianku

Jakarta, November 1999

Melukis Cuaca

Kadang aku ingin sembunyi

Dalam semak belukar dan ilalang

Yang tumbuh lebat di alis matamu

Gelisah ini telah melahirkan sunyi

Di ujung musim

Telah aku lukis hujan dan cuaca

Membasahi ketiak dan kelangkang masa silam

Menenggelamkan anyir keringat yang tak terbaca

Pernahkah aku melintas di aortamu

Menarikan gelombang tsunami

Membangunkanmu dari mimpi-mimpi purba

Dalam kegelapan malam yang memuncak

Jakarta, Juni 2000

Merangkai Kesunyian

Terdengar sembilu alunan serulingmu

Ditingkahi gemericik air

Seperti merangkai kesunyian yang sempurna

Aku menatapmu dari kejauhan

Seperti menatap ujung pantai

Gelisahnya memintal hati dan sangsai

Jakarta, Juli 2000

Selamat Malam

Adakah kau bertanya tentang bianglala

Pada lengkung cuaca dan lengan cakrawala

Tentang daun akasia yang menua

Melayang di udara

Adakah kau dengar adzan menggema di kebisuan kamar

Lalu kehadiran malaikat membayang samar

Memangil- manggil diri untuk pulang

kembali pada malam

Adakah engkau telah menanggalkan segala sungsang

Jakarta, Agustus 2000

Cermin Retak

Adakah kau dengar denting gelas

Di puncak malam

Bikin batin merentas

Cermin di kamar

Membayang kembali retaknya

Aku luka

Adakah kau dengar derap suara

Di malam yang kian sempurna

Jakarta, September 2000

Hening

Salamku senantiasa keluh

Bikin hati luruh

Laut tak pernah teduh

Catat pertengkaran

Di bumi yang lepuh

Jakarta, September 2000

Senja

Hening di luar bersama rintik hujan

Menyisakan gigil yang ngungun

Ada sekian percakapan antara kita

Yang lahir dari sapa hujan dan udara

Dan wajah bulan dari balik kaca

Seperti menyiratkan makna-makna

Rentang waktu yang berjalan

Menambat usia merangkak pulang

Aku terpana dalam sepi menekan

Sapa angin pada pori-pori daun

Mengabarkan nama dan alamat

Tentang ombak yang mendaki pantai Jakarta, Mei 2000

Sunyi

Aku tak pernah belajar takut dan ragu

Hadirnya memintalku dalam gelisah

Darahku resah

Lidahku gagu

Inikah keterbatasan

Bergolak bagai garis malam

Hati bertengkar tanpa alasan

Sepi yang indah berganti kelam

Andai saja

Aku mampu memandang kerajaan langit

Kutanggalkan saja

Keraguan yang membukit

Pidie-Aceh, Januari 1998

Subuh

Ini entah dini keberapa

Ketika dingin mengetuk daun jendela

Perlahan membukanya

Menyaksikan zikir gunung-gunung, sujud pepohonan

Serta sembahyang margasatwa

Bulan pun tunduk padamu

Aku ingin kembali dalam barisanmu

Setelah dosa-dosa melahirkan keindahan

juga sesal yang purba

Pidie-Aceh, Januari 1998

Requim

Orang-orang berdiri di depan masjid

Masih sama – dengan detak jantung yang memburu

Adakah diantara kita singgah sejenak

Melunaskan waktu

Orang-orang menemui para kekasih

Membentuk barisan-barisan panjang

Dalam satu irama dalam satu nada

Mencarimu

Depok, Januari 2001

Tanah Air (II)

Malam telah sempurna

ketika kangenku pada bau lumpurmu mengental

menusuk udara kamar yang fana

Membungkusku dalam gerah menggigil

Adakah jembatan bagi kita tuk bertemu

seperti saat berpisah

Aku merindukanmu — hamparan sawah juga lenguh kerbau

dari ketinggian malam yang angkuh

Adakah engkau setia padaku

seperti kesetiaan ruh pada jasad

Depok, September 2002

Sajak Cinta

Aku tunggu pesanmu

di handphoneku

sebab warna lipstikmu

masih membekas di dinding gelas

Aku tak ingin mati terkapar

hanya demi menunggu pesanmu

Aku tak ingin menjadi patung

seperti roro jonggrang karena lukamu

Aku hanya ingin

Engkau mau mengajariku alif ba ta

Lalu melukiskan wajah malaikat

Tatkala menjemputku kelak

Depok, September 2002

Waktu

Ia — rindu yang terjaga

di ribuan malam yang sengit

juga ribuan mil jarak tempuh

Adakah ia pernah singgah

Ia — cinta juga ketakutan

Depok, November 2002

Sejarah yang Melepuh

Usia hanya menunjukkan

berapa lama kita pinjam dunia

Mengapa kau kini menawar kematian?

sedang di luar – cuaca dipinang langit senja

Bukankah kematian seperti cicit ribuan kelelawar

menikam darah, jantung, urat nadi

juga sejarah kita yang melepuh sejak lama

Kita telah terkubur kekasih – jauh sebelum mati

Usia hanya memerlukan keheningan subuh

Membasuh wajah kita yang berdebu

agar saat kembali kelak

pintu itu terbuka tanpa kita ketuk

Depok, Maret 2003

Reportoar Meja Makan

Sepiring telur terbakar di atas piring,

meja makan mengerang sakit

diantara denting pisau dan garpu

juga tawa kita yang menukik sengit

Adakah engkau pernah dengar

doa piring, telur yang terbakar

juga pisau dan garpu

di atas meja makan yang riuh?

Kita selalu terlambat — mengenali rumah

dengan jendela-jendela terbuka

yang tak pernah berhenti membentangkan rahasia

tentang kapal nuh juga ayub yang diam di perut hiu

Depok, Maret 2003

Biografi Cahaya

Degup jantungku–kawan

dapatkah kau rasakan?

Bila senja akan berganti warna

belati itu menikamku ribuan kali

Ribuan mil cahaya juga waktu

membentangkan biografi yang terkoyak

akan serpihan-serpihan alpa,

dan kita teramat mencintainya

Bacakan padaku satu huruf saja

agar dapat darahku mencerna makna jantungku

tanpa aku tahu — akankah terhapus alpa itu

Depok, Maret 2003

Percakapan Kelelawar

Kalau saja malam setenang embun

dingin tak seperti kuku mencengkeram

Gelap tak seperti taring–menghujam nadi

mungkin malam tak memintalku dalam fana

Di luar — kelelawar bercakap-cakap

di setiap desir darahku

Malam hanya memberi kita

sepi, gelap, dan pekat

Aku ingin istirah

Sejenak melupakan penjara dalam tubuhku

Mencoba mengingat kembali

nama dan alamat sendiri.

Depok, Maret 2003

Gigil Malam

Kau telah meninggalkanku — katamu

seperti kota yang terlantar di penghujung tahun

Tahukah engkau ?

Ragu dan cinta bikin aku mati berkali-kali

Seperti jasad kehilangan ruh

Aku terpasung dalam genggamanmu

Mengapa kau suguhkan aku

secangkir udara tanpa selimut

bikin tubuhku menggigil kaku

percakapan kita berakhir sengit

Kau telah meninggalkanku — katamu

padahal aku selalu mengenangmu,

di ketinggian malam yang jauh

tanpa tahu apakah engkau mengenangku

Depok, April 2003

Alpa

Mestinya ini tak aku lakukan padamu

berkeluh kesah seperti hujan — tak jadi turun

Sebab saat bersamamupun — sering aku menduakanmu

dalam pikiran juga percakapan batu-batu

Katakan padaku–keheningan mana melebihi

kehadiranmu di ketinggian malam yang jauh

Aku terpasung di belantara sunyi

menyaksikan sujud rumput juga planet-planet

bikin nadiku terkapar sendiri

di lubang kubur yang belum selesai digali

Depok, Maret 2003

Syair Bungong Jeumpa

Bilamana aku dapat bersalam padamu

seperti engkau menerimaku dengan sebelas jarimu

Saudara — matahari telah kehilangan pagi

seperti kangenku yang membukit, kosong

Ratap ibu kian sempurna

jatuh di ujung malam

Anak-anak telah purna

harapan timbul tenggelam lalu kelam

Bila lukamu abadi,

matahari siapa di langitmu

Tak ada yang bisa kukabarkan

selain harapan yang luruh

Depok, Mei 2003

Di ujung Malam

Jangan matikan lampu sebelum aku tidur– katamu

sementara malaikat mengintipmu di lubang kunci

seperti bulan kehilangan malam

kau berharap masih ada pagi esok hari

Matahari telah lama — runtuh di tubuhmu

ribuan pelangi ditinggalkan bidadari

Ngarai itu seperti berjalan di pembuluh darahmu

dan doa kita merangkak gagal sejak dini

Tak akan ada ujung tanpa pangkal

kau ciptakan sendiri — racun dalam nadimu

mengapa kini engkau kecut saat harus pulang

Percayalah tak ada yang sia-sia di setiap kehidupan

Depok, Februari 2003

Sejarah yang Melepuh

Usia hanya menunjukkan

berapa lama kita pinjam dunia

Mengapa kau kini menawar kematian?

sedang di luar – cuaca dipinang langit senja

Bukankah kematian seperti cicit ribuan kelelawar

menikam darah, jantung, urat nadi

juga sejarah kita yang melepuh sejak lama

Kita telah terkubur kekasih – jauh sebelum mati

Usia hanya memerlukan keheningan subuh

Membasuh wajah kita yang berdebu

agar saat kembali kelak

pintu itu terbuka tanpa kita ketuk

Depok, Maret 2003

Reportoar Meja Makan

Sepiring telur terbakar di atas piring,

meja makan mengerang sakit

diantara denting pisau dan garpu

juga tawa kita yang menukik sengit

Adakah engkau pernah dengar

doa piring, telur yang terbakar

juga pisau dan garpu

di atas meja makan yang riuh?

Kita selalu terlambat — mengenali rumah

dengan jendela-jendela terbuka

yang tak pernah berhenti membentangkan rahasia

tentang kapal nuh juga ayub yang diam di perut hiu

Depok, Maret 2003

Biografi Cahaya

Degup jantungku–kawan

dapatkah kau rasakan?

Bila senja akan berganti warna

belati itu menikamku ribuan kali

Ribuan mil cahaya juga waktu

membentangkan biografi yang terkoyak

akan serpihan-serpihan alpa,

dan kita teramat mencintainya

Bacakan padaku satu huruf saja

agar dapat darahku mencerna makna jantungku

tanpa aku tahu — akankah terhapus alpa itu

Depok, Maret 2003

Aku ingin istirah

Sejenak melupakan penjara dalam tubuhku

Mencoba mengingat kembali

nama dan alamat sendiri.

Depok, Maret 2003

Gigil Malam

Kau telah meninggalkanku — katamu

seperti kota yang terlantar di penghujung tahun

Tahukah engkau ?

Ragu dan cinta bikin aku mati berkali-kali

Seperti jasad kehilangan ruh

Aku terpasung dalam genggamanmu

Mengapa kau suguhkan aku

secangkir udara tanpa selimut

bikin tubuhku menggigil kaku

percakapan kita berakhir sengit

Kau telah meninggalkanku — katamu

padahal aku selalu mengenangmu,

di ketinggian malam yang jauh

tanpa tahu apakah engkau mengenangku

Depok, April 2003

Alpa

Mestinya ini tak aku lakukan padamu

berkeluh kesah seperti hujan — tak jadi turun

Sebab saat bersamamupun — sering aku menduakanmu

dalam pikiran juga percakapan batu-batu

Katakan padaku–keheningan mana melebihi

kehadiranmu di ketinggian malam yang jauh

Aku terpasung di belantara sunyi

menyaksikan sujud rumput juga planet-planet

bikin nadiku terkapar sendiri

di lubang kubur yang belum selesai digali

Depok, Maret 2003

Syair Bungong Jeumpa

Bilamana aku dapat bersalam padamu

seperti engkau menerimaku dengan sebelas jarimu

Saudara — matahari telah kehilangan pagi

seperti kangenku yang membukit, kosong

Ratap ibu kian sempurna

jatuh di ujung malam

Anak-anak telah purna

harapan timbul tenggelam lalu kelam

Bila lukamu abadi,

matahari siapa di langitmu

Tak ada yang bisa kukabarkan

selain harapan yang luruh

Depok, Mei 2003

Waktu

Bila dapat aku tarik waktu

Ingin aku bunuh bayang diri

Menjalani siang tanpa sia-sia

Habiskan malam melunaskan waktu

Kini cuaca seperti di ujung tanduk

Suatu ketika pecah

Hilang kesempatan mengetuk pintumu

Hilang kesempatan membayangkan senyummu

Depok, Januari 2001

Tabir

Seribu warna tak pernah mampu

Membuka tabirmu yang agung

Telah jelas kehadiranmu di sini

Engkau mencintaiku tanpa sepenuhnya terbalas

Sederhana saja hasratku

Saat kembali

Aku tak lupa

nama dan alamatmu

Depok, Maret 2001

Kabundelan

Aku merindukanmu di ketinggian malam

Mencari wajahmu di dalam luka

Senantiasa aku sampaikan kabar kelam

Agar duka ini terbagi di pintumu yang terbuka

Aku mencintaimu dari kejauhan

Mengingat helaan nafasmu lembut

Adakah kau kenang aku, Ibunda

Dari panjang jarak serta cuaca berkabut?

Depok, April 2001

*) Kabundelan, sebuah desa Batang, Jateng

Matahari

Bila kau ketuk pintu kamar

di keheningan lengkung bulan

Hanya kelelahanku kau temui

Entah engkau pahami atau samar

Kubawakan padamu buku-buku tua

Di atas rak yang kosong

serta sejarah masa lampau yang kabur

Tanpa pernah mempertemukan batu-batu

Kelak bila waktu telah uzur

Tetaplah di jalan yang lempang

meskipun sarat onak dan duri,

di situlah hidup akan kau jelang

Depok, April 2001

Gelas Kosong

Aku pandangi gelas-gelas kosong di atas meja

Masih membekas warna lipstik di gelasmu

Aku mulai risau

Di luar sana anak-anak memandangiku sengit

Mengusung kemarau di matanya.

Jakarta, Mei 2001

Tanah Air

Malam telah sempurna

ketika kangenku pada bau lumpurmu mengental

menusuk udara kamar yang fana

Membungkusku dalam gerah menggigil

Adakah jembatan bagi kita tuk bertemu

seperti saat berpisah

Aku merindukanmu — hamparan sawah juga lenguh kerbau

dari ketinggian malam yang angkuh

Adakah engkau setia padaku

seperti kesetiaan ruh pada jasad

Depok, September 2002

Sajak Cinta

Aku tunggu pesanmu

di handponku

sebab warna lipstikmu

masih membekas di dinding gelas

Aku tak ingin mati terkapar

hanya demi menunggu pesanmu

Aku tak ingin menjadi patung

seperti roro jonggrang karena lukamu

Aku hanya ingin

Engkau mau mengajariku alif ba ta

Lalu melukiskan wajah malaikat

Tatkala menjemputku kelak

Depok, September 2002

Waktu

Ia — rindu yang terjaga

di ribuan malam yang sengit

juga ribuan mil jarak tempuh

Adakah ia pernah singgah

Ia — cinta juga ketakutan

Depok, November 2002

Iklan

Entry filed under: PUISI.

KUMPULAN MEDITASI WAKTU Tarian Hening

2 Komentar Add your own

  • 1. herfin fahri  |  April 29, 2009 pukul 3:36 am

    kasih tau maknanya bungong jeumpa donk?ak da tgs ni?trims…

    Balas
    • 2. dianing  |  April 30, 2009 pukul 3:59 pm

      Mbak Herfin, arti bungong jeumpa kayaknya bunga cempaka deh. Maaf kalau gk bisa banyak membantuh nih. Atau silahkan klik di google. Trims ya…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 103,212 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: