Surat dari Kawla

Mei 23, 2007 at 10:58 am Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Sumber: Jawa Pos, Minggu 12 Oktober 2003

KAWLA adalah perempuan yang dianugerahi kecantikan alami. Tuhan memberikannya wajah Arabia yang khas. Hidungnya mancung, alis matanya tebal, sepasang matanya elok untuk dipandang. Usianya sama denganku. Baru menginjak empatpuluh tahun. Tetapi nasib kami berbeda.

* * *

SENJA mengapung di sudut langit. Di belahan bumi mana pun, senja tak pernah lupa menyemaikan damai. Tetapi di benak perempuan bernama Kawla, senja selalu menawarkan kericuhan. Hampir sepanjang hidupnya, ribuan senja terlewatkan sia-sia. Hampir tak pernah ada sepotong senja pun yang indah di langit Irak.

Peperangan yang panjang di tahun delapan puluhan dengan Iran, disusul Perang Teluk duabelas tahun silam, masih membekas jelas di benak Kawla. Sekarang ancaman Amerika Serikat untuk menyerbu negeri Kawla seperti tinggal menunggu waktu saja. Meskipun hampir di setiap negara berkumpul di jantung-jantung kota menentang perang, Kawla dan jutaan umat dihantui perasaan was-was.

Aroma perang sudah tercium anyir di hidung Kawla. Amerika sudah menempatkan peralatan dan personil militernya di wilayah perbatasan. Di negerinya, genderang perang juga sudah ditabuh. Presiden Saddam Hussein sudah mempersiapkan bala tentara. Tak hanya tentara dewasa, pemerintah juga menyiapkan tentara anak-anak.

* * *

AKU ingat Kemal, anakku semata wayang. Seharusnya senja ini Kemal ada di sisiku. Bersenda gurau atau membaca kisah tentang kapal nabi Nuh yang berlayar di laut yang maha luas. Seharusnya Kemal ada di dekatku, agar aku dapat memeluknya. Bukan di medan pelatihan perang.

Selama tiga pekan liburan musim panas itu, pembantu militer Saddam Hussein menjemput Kemal yang belum genap berusia empatbelas tahun untuk ikut pelatihan militer, guna menghadapi perang. Sungguh aku ingin menolak latihan perang buat anak itu, tetapi apa boleh buat negara mengharuskannya tanpa harga tawar.

Aku menghela nafas. Perang telah merenggut segalanya. Kehidupan yang normal, suami, sanak kadang. Segalanya. Aku ingat ketika negaranya melawan Iran, bukan para militer saja yang ikut berperang. Negara memanggil para anak laki-laki di bawah usia delapanbelas tahun untuk ikut berperang. Anak-anak usia belasan tahun dikatrol untuk bisa mengokang senjata, menembak musuh. Bayangkan dalam usia relatif muda anak-anak harus membunuh sesama. Aku kembali ke sepucuk surat dari Kawla.

Pertempuran melawan Iran telah merenggut orang-orang yang kucintai. Dua adik, Shafruddin dan Ikbal mati dengan tubuh hancur karena bom yang dihujankan oleh Iran. Sungguh kematian yang sangat memilukan. Dua pemuda berwajah bocah itu mati saat tepat keduanya genap berusia empatbelas tahun.

Seperti baru kemarin saja keluarga kami menguburkan dua kakak beradik kembar itu. Lalu perang melawan Iran usai. Hanya sebentar saja Irak tenang tanpa perang. Disusul perang Teluk yang mengerikan.

Bila senja telah mengetuk malam, langit Irak sangat mencekam. Deru pesawat berputar-putar di udara berulang. Tak terhitung bunyi bom terdengar dari kejauhan. Lalu keesokkan hari dihadapi dengan rasa enggan. Langit Irak dipenuhi api kebencian. Suara tembakan beradu dengan meriam silih berganti.

Aku terpuruk di senja yang mengapung itu. Perang Teluk duabelas tahun silam itu menorehkan duka. Suamiku tewas di Al-Amaria bersama lebih empat ratus orang lainnya. Kala itu Kemal baru berusia dua tahun. Perang Teluk telah membuat anakku menjadi yatim. Kekejaman Amerika dan sekutunya juga merenggut Umar, keponakanku, di medan perang.

Terkadang dikala sendiri aku merasa bersalah pada Kemal. Aku tak mampu memberikan tempat yang nyaman untuk tinggal. Sebab hanya negeri yang aman, tanpa perang, itulah tempat yang menyenangkan. Sedetikpun aku belum memberikan kehangatan padanya.

* * *

“AIR susumu Kawla adalah kehangatan luar biasa baginya,” hiburku ketika aku ke Irak dalam rangka membagikan makanan dan bantuan dari badan dunia.

* * *

SEKARANG, ketika usia Kemal baru menginjak empat belas tahun negara memanggilnya untuk latihan perang. Aku tidak bisa membayangkan anak seusia Kemal harus berjajar rapi bersama teman-teman seusianya di padang yang luas dengan posisi tiarap. Lalu di tangan Kemal terkokang senapan mesin AK-47. Kemal latihan menembak sasaran dari kejauhan.

Nafasku kerap sesak. Anak seusia Kemal yang seharusnya belajar di rumah, bermain dengan teman-temannya di kampung halaman, tertawa bersenda gurau, menikmati masa remaja yang datang hanya sekali.

Maafkan Ibu, Nak. Kemal harus memanggul senjata yang berat. Dalam usia relatif muda harus bersenda gurau dengan permainan mematikan.

* * *

DI bawah senja, Kawla menunduk. Tak lama kemudian ia sapu keindahan langit. Kawla seperti bertanya pada langit itu. Mengapa ia dan anaknya harus menghadapi perang sepanjang hidupnya. Perang dengan Iran membuatnya harus rela kehilangan orang-orang yang dicintainya.

Perang Teluk telah memberinya sebutan janda. Kini saat Amerika mengancam perang, terbayang kembali suasana buram dan duka. Tidak! Kawla memekik. Ia tidak ingin anaknya, yang menjadi penawar duka ikut meninggal karena perang. Tidak!

Kawla terisak di bawah langit senja. Kawla tahu bukan Kemal saja yang harus ikut pelatihan militer. Tetapi juga ribuan ibu harus merelakan anaknya ikut pelatihan militer di liburan musim panas itu. Kawla tidak bisa menolak, demikian juga ribuan ibu yang lain.

* * *

DALAM situasi apapun rakyat berada dalam posisi yang kalah. Bila ada keluarga Irak yang menolak anaknya untuk ikut latihan perang, maka keluarga itu diancam tidak mendapatkan jatah kartu makanan. Itu adalah ancaman mengerikan bagi kami di Irak.

Setiap rakyat Irak sangat bergantung pada kartu itu. Embargo ekonomi yang ditimpakan kepada negara kami selama ini membuat rakyat tidak leluasa mendapatkan makanan dan obat-obatan. Akhirnya mau tidak mau para ibu dan keluarga meski merelakan anak-anaknya ikut pelatihan militer, bahkan ikut sumbang tenaga untuk berperang melawan musuh.

Aku sepenuhnya menyadari tentara anak-anak di negeriku bukanlah hal baru. Yang tidak aku inginkan adalah kepergian Kemal. Ia masih sangat muda untuk bermain-main dengan senapan, bom, senjata mematikan lainnya.

Aku tahu Kemal akan dibekali untuk bisa bersikap militan dalam membela pemimpin dan negaranya. Makanya Kemal tidak akan gentar di medan perang nanti. Aku masih ingat ketika Kemal berujar bangga menjadi tentara Irak. Bahkan Kemal ingin bila serangan Amerika benar-benar terjadi.

“Ibu, Kemal adalah pedang tajam bagi negeri ini,” Kemal mengucapkan dengan nada bangga. Tetapi tahukah ia, bila hatiku remuk ketika melepas kepergiannya untuk ikut memanggul senjata?.

* * *

AKU menghela nafas. Tulisan dan bahasa Kawla membuat aku seolah hadir di tanah Irak. Menyaksikan kepedihan Kawla. Menyaksikan wajah-wajah militer Saddam Hussein dan wajah-wajah bocah berlatih perang di liburan musim panas. Aku meletakkan lembar surat yang sudah terbaca di atas meja, kembali membaca lembar berikutnya.

* * *

MESKIPUN Hukum Internasional melarang anak-anak di bawah usia delapanbelas tahun ikut organisasi bersenjata atau dilibatkan dalam kekerasan politik, perang membuat anak-anak belasan tahun sah-sah saja terjun ke medan perang di tanah Irak.

Sejak tahun tujuhpuluhan Partai Baath yang mendukung Saddam membentuk Gerakan Futuwah. Melalui Gerakan Futuwah ini anak-anak berusia duabelas tahun mendapatkan pelatihan militer dan politik.

* * *

AKU tutup surat Kawla. Ya Tuhan, anak-anak berusia duabelas tahun itu berperang melawan Iran, juga melawan Amerika dan sekutunya di perang Teluk. Perang memang telah merenggut segalanya. Masa kanak-kanak yang riang juga masa remaja yang menyenangkan. Juga hak-hak azazi yang hakiki.

Berulangkali dalam suratnya, Kawla berujar bahwasannya perang telah merenggut segalanya. Kalau saja ia hidup di sebuah negeri yang tanpa peperangan pasti tak ada darah dan air mata tumpah. Tetapi kenyataan telah menyuguhkan aroma kematian dan duka begitu akrab.

* * *

TAPI aku bangga. Bangga orang-orang yang kucinta membela tanah airnya. Terkadang kematian menjadi satu masa yang sangat dirindukan. Aku bukan sosok perempuan yang putus asa. Meskipun betapa berat menyaksikan adik-adik, keponakan, suami dan saudara-saudaraku meregang nyawa ataupun tewas seketika di hadapanku. Bila saja kematian dapat aku tawar, Aulia.

* * *

“TIDAK, Kawla. Betapapun hidup punya makna dan keindahan tersendiri,” ucapku. Aku menghela nafas. Meneruskan membaca surat Kawla.

* * *

TIDAK ada pilihan lain bagi Kemal untuk ikut pelatihan militer selama liburan musim panas. Bila Kemal menolak, bukan saja keluarga yang terancam tidak mendapatkan kartu makanan, Kemal juga tidak akan lulus dari sekolahnya. Masa depan seperti apa yang ditawarkan oleh perang.

Sejak Kemal meninggalkan rumah setiap malam aku disergap mimpi-mimpi buruk yang berulang. Dalam latihan militer itu Kemal tersungkur bersimbah darah. Kemal hanya bisa merintih memanggil-manggil Ibu. Atau Kemal tertembak oleh temannya sendiri ketika berlatih.

Atau Kemal tertembak sendiri oleh senapan yang ia kokang sendiri. Mimpi itu terus memburu setiap malam sepanjang Kemal menikmati masa liburan musim panas dengan pelatihan militer.

Setiap saat aku tunggu kepulangan Kemal di ambang pintu. Sekuat hati aku menumbuhkan harapan Kemal akan pulang dengan selamat. Aku ingin sekali menyambut kepulangan Kemal dengan pelukan bangga, bukan dengan air mata.

Aulia, aku tetap percaya Tuhan memberikan hidup dengan segala keindahan. Aku akan menunggu Kemal di ambang pintu rumah, dengan segala ketabahan seorang perempuan.

Sekian Aulia. Salam dari sahabatmu yang jauh. Kawla.

* * *

Aku letakkan surat Kawla di atas meja. Agar aku bisa menjangkaunya setiap saat. Aku berencana menggandakan surat itu sebanyak-banyaknya dan menebarkan di jalan-jalan protokol di kota ini. Agar semua orang membacanya.

Agar semua orang tahu, betapa perang itu sangat menyedihkan. Meskipun, perang juga memberikan sebuah kekuatan yang lain: kekuatan untuk bisa menerima kenyataan.

“Perempuan memiliki ketabahan sempurna untuk tetap bisa menjalani hidup selanjutnya,” aku masih ingat kata-kata Kawla dalam suratnya yang lain. ****

Depok, Februari 2003

———–
*) Cerpen ini ditulis sebelum invasi Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Di bawah Langit Jakarta Rumah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 103,873 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @ummychasan: @detikcom Ketiganya kami cintai dan hormati, mrk bekerja u rakyat. 2 hours ago
  • RT @mesjkt: @detikcom Ke3nya adalah orang2 yg saya kagumi:jujur,bersih,berintegritas tinggi dan kerja kerasnya ikhlas buat bangsa dan negar… 2 hours ago
  • RT @virusmotivasi: Kadang seseorang menyalahkan orang lain hanya karena tak temukan kata yg tepat tuk ucapkan maaf. Dan karena itu kegagala… 2 hours ago
  • RT @virusmotivasi: Kadang kamu memilih tuk sendiri, bukan berarti kamu tak ingin dicintai, itu hanya berarti kamu butuh waktu tuk sembuhkan… 2 hours ago
  • RT @ilhamkhoiri: Afi Nihaya itu baru lulus SMA, masih 19 tahun, anak pedagang cilok, tapi catatannya inspiratif untuk bangun Indonesia yg d… 2 hours ago

%d blogger menyukai ini: