Rumah

Mei 23, 2007 at 11:00 am Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Sumber: Serambi Indonesia, Banda Aceh, Minggu 26 Januari 2003

SEPERTI hari-hari telah lewat, perempuan tua itu menikmati senja dari balik daun jendela. Senja yang sendiri, lembar kesekian dalam kesendiriannya, selama bertahun-tahun setelah suaminya pergi. Pergi selamanya dan tak mungkin kembali.

Mulanya ia sulit menerima kenyataan: seorang lelaki sebaik suaminya itu pergi. Tetapi kenyataan — sesungguhnya itu takdir — tak mungkin ditawar. Ia pun melepas Hasan, suaminya itu, dengan kelopak mata yang membengkak. Ia tidak henti menangis.

Nawang menghela nafas. Matanya yang tua memandangi semburat warna merah di kaki langit. Pemandangan yang sama, yang dulu selalu dinikmati bersama suaminya. Tetapi, tiba-tiba ia menjadi cemas: akankah senja esok masih tetap menjadi miliknya.

* * *

Di mata anak-anaknya, ia adalah segalanya. Tempat berbagi dan mencurahkan segala kangen. Itu dulu. Bertahun-tahun lalu. Perempuan tua itu kini telah berubah. Ia teramat keras. Semua berawal dari hal yang sederhana.

Perempuan tua itu selalu menolak permintaan anak-anaknya bila diajak keluar rumah.

“Aku sudah terlampau tua.”

“Hari ini ulang tahun Ibu.”

Perempuan tua itu hanya tersenyum. Lalu berkata, lebih suka mengenang kelahirannya di rumah. Lebih bahagia dan tenang sambil membayangkan lilin-lilin serta kehadiran almarhum suaminya.

Keinginan membahagiakan perempuan tua itu hanya sebuah impian. Satu persatu anak-anak dan cucu meninggalkan rumah yang mulai menua. Tinggal perempuan tua itu tanpa sesal atas kebaikan yang ingin diberikan padanya. Ia hanya memandangi anak-anak dan cucunya dengan tatapan biasa-biasa saja. Lalu masuk ke dalam.

Ada debaran aneh dalam dadanya. Debaran yang bisa ia pahami dan ia nikmati.

“Hari ini aku ulang tahun,” lirih ia berucap.

Di balik daun jendela ia menatap kosong ke langit. Dari sana ia lihat almarhum suaminya tersenyum padanya. Dari bibirnya terucap kalimat indah yang selalu ia terima ketika ulang tahun. Perempuan tua itu diam-diam terperanjat dan tersenyum damai. Pelan-pelan wajah yang selalu ia rindukan menghilang dari pandangannya.

Masih di balik daun jendela, perempuan tua itu menunduk. Menekuri lantai yang warnanya mulai kusam. Mengangkat kembali kepalanya pelan-pelan. Menghela nafasnya dan melenguh. Hatinya berkata, betapa sepi hari ini.

Langit mulai berubah warna. Senja merambat. Malam telah jatuh. Perempuan tua itu melangkah. Mengambil lilin. Ia tak peduli dengan jumlahnya. Ia hanya menata di meja tanpa menghitung. Baginya selain almarhum suaminya dan rumah, tak ada lagi yang ia pikirkan. Termasuk hari ulang tahunnya. Ia tak tahu persis angka usianya kini.

Malam telah sempurna ketika ia nyalakan semua lilin. Ia pandangi titik-titik api. Hatinya bernyanyi tentang ulang tahun. Ia pandangi lilin-lilin itu dengan harapan. Pikirannya melayang pada masa lampau. Almarhum suaminya selalu memberinya ciuman seusai ia meniup lilin.

“Tapi kini…”

Hatinya mengeluh.

Entah berapa lama perempuan tua itu hanya memandangi lilin-lilin tanpa meniupnya.

“Tiuplah lilinnya.”

Perempuan tua itu terperanjat. Jelas itu suara almarhum suaminya.

“Jangan biarkan ia meleleh dan api membakar dirinya. Tiuplah.”

Tubuh perempuan tua itu bergetar hebat. Ia menggigil. Suara itu begitu jelas.

“Tiuplah.”

Perempuan tua itu tak menunggu lagi. Ia tiup lilin-lilin yang telah lama meleleh dengan debar dada yang riuh.

Malam bertambah sempurna ketika tak satupun lilin bercahaya. Perempuan tua itu merasakan kelelahan.

“Betapa aku telah tua.”

Nafasnya tak teratur di malam itu. Tiba-tiba ia ingin almarhum suaminya hadir di sisinya. Tak sekedar suaranya. Angin perlahan-lahan masuk dari celah-celah ruangan. Perempuan tua itu merapatkan kain di pundaknya. Terasa menusuk dingin malam itu.

“Kalau saja…”

Ia duduk dalam ngungun. Dari matanya yang telah menua ia lihat bayang-bayang sosok seseorang. Bayang-bayang yang sangat ia kenal.

“Kaukah itu.”

Hanya ucapan selamat ulang tahun. Sosok itu pelan-pelan menghilang. Tanpa ia mampu untuk menahannya pergi.

Malam teramat panjang baginya. Di hari bersejarah itu, ia tak mampu memejamkan mata sedetikpun. Paginya, perempuan tua itu membuka jendela kamar. Dulu dari daun jendela itu ia menatap kepergian suaminya bekerja. Dari daun jendela itu ia lihat suaminya melambaikan tangan. Iapun membalas dengan lambaian tangan.

Ia dengar ketukan pintu.

“Aku sudah terlampau tua,” sambutnya ketika tahu yang datang anaknya.

“Aku ingin mengajak Ibu jalan-jalan.”

“Tubuhku terlampau rapuh untuk menahan angin.”

“Ibu tak pernah bosan di rumah.”

Perempuan tua itu hanya tersenyum dan duduk di kursi yang tua dan berdebu.

“Aku menikmatinya dengan sempurna.”

“Aku tak ingin Ibu menolakku lagi.”

Perempuan tua itu menggeleng.

“Aku terlampau tua, Nak.”

Kalimat seperti itulah yang selalu terucap. Artinya perempuan tua itu menolak.

Kecintaannya pada rumahnya, benar-benar membuat tak mau keluar rumah. Perempuan tua itu sedikitpun tak pernah menyesal apalagi merasa bersalah atas sikapnya kepada anak-anaknya. Bahkan dalam hatinyapun tak pernah peduli apakah anak-anak beserta cucunya akan berkunjung di hari-hari tertentu. Lebaran misalnya.

Hingga ketika lebaran tiba, perempuan tua itu justru gelisah. Ia ingin sendirian. Tanpa kehadiran anak-anak dan cucunya. Itu tak mungkin. Karena mereka selalu hadir di hari yang fitri.

“Kalau saja mereka tahu tentang aku,” keluhnya.

Tanpa ia sadari ia lah yang tak pernah memahami keinginan anak-anaknya.

Perempuan tua itu berang. Anak-anaknya menginginkannya untuk beranjak dari rumahnya. Mereka ingin perempuan tua itu menjalani hari tuanya tanpa rasa sepi. Mereka ingin perempuan tua itu tinggal bersama salah satu anaknya. Apa boleh dikata perempuan tua itu, sangat tidak bisa menerima.

* * *

Seperti hari-hari biasa. Perempuan tua itu selalu menikmati senja dari balik daun jendela. Hatinya resah. Ia dengar kawasan tempat ia tinggal, akan dijadikan pusat perkantoran dan pertokoan. Itu berarti tempat ia tinggal akan digusur. Dan itu berarti ia harus meninggalkan rumahnya.

Tangannya mengepal keras. Hatinya berteriak “tidak!” Perempuan tua itu tak akan pernah menyerah. Ia memutuskan untuk memperjuangkan rumahnya. Karena rumah dan pekarangan rumah harus dijaga dan dipertahankan.

Semuanya dibuat kalangkabut. Setiap orang yang datang ke rumah perempuan tua itu dan menyinggung soal rumahnya, ia tantang bahkan ia maki-maki. Dari aparat dan pihak pengembang tak satupun yang mampu meluluhkan hati perempuan tua itu. Termasuk ketika anak-anaknya membujuknya untuk merelakan rumah demi pembangunan.

“Pembangunan katamu.”

Mata perempuan tua itu nyalang.

“Tahu apa kau tentang pembangunan. Omong kosong.”

Perempuan tua itu terus berbicara tentang kenyataan pembangunan. Terkadang nada suaranya menyentak, tinggi menggelegar.

“Hanya lipstik lain tidak!”

Akhirnya semua menyerah. Di kawasan itu semua penghuni merelakan rumah dan tanahnya dengan ganti rugi yang besar. Tetapi perempuan tua itu tidak tergoda: rumahnya adalah segalanya. Rumah adalah cinta. Cinta dia dan suaminya.

Ia tetap bertekat mempertahankan rumah itu. Sampai kapan pun.

* * *

Dari balik daun jendela, ada yang berubah dalam tatapan perempuan tua itu. Dulu ia dapat menikmati warna langit senja. Sekarang tatapannya terhalang gedung-gedung tinggi yang sedang dibangun di sekeliling rumahnya. Ia tiba-tiba menjadi asing dan sendiri.

Perempuan itu tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya gedung-gedung tinggi itu selesai dibangun, seperti raksasa-raksasa yang menghimpit tubuhnya yang kecil dan makin tua.

Warna langit senja telah tiada. ***

Jakarta, September 1999

——————–
Catatan:
Cerpen ini pernah dimuat di harian Serambi Indonesia, Banda Aceh, Minggu 26 Januari 2003, dan kemudian mengalami revisi seperlunya.

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Surat dari Kawla Rembulan Beku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 104,302 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: