Rembulan Beku

Mei 23, 2007 at 11:01 am Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Sumber: Republika, Minggu 21 Januari 1996

ANGIN berdesir. Lembut. Bagai sutera yang melintas di tangan bidadari. Cahaya bulan di balik kaca jendela kamar bagai spot lampu pementasan drama. Ia melintas di depan bola mataku. Dari seberang kaca, daun cemara jatuh terkulai diam, memberi isyarat kematian.

Gunung-gunung membisu. Tak terdengar desah dedaunan. Tak terdengar juga suara burung Hantu. Tak seperti malam-malam kemarin, ia bertengger di luar jendela kamarku, memanggil-manggil namaku. Kesunyian telah sempurna.

Dulu, malam selalu mempertemukan aku dengan burung hantu. Aku cium keningnya. Penuh sayang. Bukan lagi sekedar cinta. Banyak hal ia ceritakan padaku. Tentang rembulan yang terbakar saat ia purnama. Atau tentang rembulan dan matahari yang saling jatuh cinta, berjanji untuk bertemu di sebuah terminal. Namun sekian tahun, sekian abad, mereka tak pernah berjumpa, apalagi saling memiliki.

Tak kudengar lagi cerita-ceritanya yang sarat petuah itu, Ia telah pergi. Suara Kedasihpun tak lagi menggaris malam. Ia juga pergi. Aku singkap gorden jendela. Rembulan masih ada. Tiba-tiba melintas burung Gagak di depannya, lurus padaku. Aku ternganga.

Burung Gagak? Berarti ada kabar duka. Dan di balik kaca, orang-orang berarak sambil menyebut nama Allah dalam irama yang sama. Mereka membawa tandu tertutup bertuliskan huruf-huruf paku. Orang-orang berwajah sendu. Ada kabut di wajah-wajah mereka. Yang membuatku makin termangu adalah barisan terakhir pengusung tandu. Wajah mereka memancarkan badai tsunami dan gempa.

‘Tunggu.”

Mereka terus berjalan tergesa, mengusung tandu.

“Siapa yang ada di dalam tandu.”

“Jenazah.”

Jawab suara. Aku tak kenal suara siapa.

“Jenazah,” gumamku.

“Ya, jenazah Surya.”

Suara itu lagi.

“Hai, siapa kamu.”

Suara itu lenyap. Tiba-tiba, entah kenapa aku ingin menari. Menarikan tarian yang biasanya dibawakan oleh Mbak Sasi. Ya, penari yang luar biasa. Bukan hanya kaum Adam yang mengaguminya. Aku ingin ke sana. Malam ini ia menari di Balai.

Aku siap berangkat untuk menaari, mengusir sepi dan sunyi.

“Kau akan menari, Dianing.”

Aku terkejut. Suara itu lagi. Hanya suara.

“Urungkan niatmu. Berzikirlah untuk suaminya.”

“Siapa?”

“Surya kuambil nyawanya malam ini atas perintah Tuhanku.”

“Surya telah…”

Duh, tak pernah terbayang, suami Mbak Sasi akan pergi secepat ini, jauh ke dunia lain. Dunia yang menawarkan kedamaian.

“Siapa kamu.”

Ia tertawa. Tawa yang baru kali ini aku dengar.

“Siapa kamu.”

Seketika malam kembali hening. Teramat hening. Oh, di mana burung Hantu, Kedasih, Rembulan? Ah, mereka telah pergi. Sunyi menghampiriku. Menyelimutiku dan membawaku ke tempat tidur. Aku menggigil. Sangat menggigil.

“Selimuti aku, selimuti aku.’’

Sepi dan Sunyi membawakan aku seribu selimut dan menutupkannya pada tubuhku. Namun aku tetap menggigil. Aku merasakan seperti ada yang tersenyum padaku.

“Jangan takut.”

Suara itu lagi.

“Suatu saat nanti aku akan jemput kamu.”

* * *

Penari itu termangu di depan kedua anaknya. Lintang dan Candra.

“Kapan menari lagi, Mbak Sasi.’

Ia menggeleng.

“Kami masih berduka.”

Aku pandangi wajahnya yang menyiratkan ketakberdayaan perempuan ketika sang suami pergi. Pergi bukan untuk semata, tetapi untuk selamanya.

“Saya sudah kangen melihat Mbak Sasi menari.”

Ia hanya diam. Seperti tengah berdoa di depan makam suaminya.

Suatu malam ada yang mengetuk pintu rumahku. Aaku membiarkannya. Diketuk lagi. Masih aku biarkan. Pintu diketuk lagi. Aku segera membukanya. Uf, sosok berwajah tampan ada di depanku.

“Silakan.”

Pemuda itu bernama Firaun. Ia datang menanyakan tentang Mbak Saasi. Aku ceritakan tentang Mbak Sasi dari A hingga Z. Terakhir ia ucapkan selamat tinggal, bukan terimakasih. Belum sedetik ia pergi, ada yang memanggilku, “Dianing, Dianing.”

“Hai kamu.”

Aku melonjak girang. Tapi burung Hantu menyuruhku untuk segera pergi.

“Pergilah, Mbak Sasi sudah menari lagi.”

“Mbak Sasi?”

“Ya.”

“Mbak Sasi sedang berduka.”

Burung Hantu itu membulatkan matanya.

Aku pergi. Benar. Mbak Sasi sudah menari lagi. Penari Tayup itu memang primadona. Biarpun makam suaminya masih basah, dukanya tak menodai keelokan wajah dan kecantikan gerak tubuhnya. Aku tersihir oleh gerakan yang selalu membuat kaum Adam tergoda.

“Dahsyat.”

Aku bergumam sendiri.

Orang terkaya itu mendekati Mbak Sasi. Dalam waktu sekejap keduanya saling akrab. Laki-laki itu sudah memiliki tujuh istri, namun masih saja mencari perempuan lain. Mbak Sasi juga tak lagi peduli pada dukanya.

Uf, laki-laki Firaun itu berada di depan sendiri. Matanya liar memperhatikan ujung jari Mbak Sasi, tak henti-henti. Terlebih pada gemulai dan lekuk tubuhnya. Aku hanya geleng-geleng kepala. Aku jadi malu melihatnya.

Tarian usai, seperti biasa Mbak Sasi menyelinap ke kamar yang berdinding bambu. Firaun itu mengikutinya. Aku, entah mengapa tiba-tiba ingin mengetahui apa yang akan terjaadi.

Ah, sungguh mulia perempuan itu.Makam suami masih basah, demi anak mau menari kembali. Demi kedekatan mereka juga Mbak Sasi membawa Lintang dan Candra. Keduanya menyambut Mbak Sasi. Tak lama kemudian Lintang dan Candra sudah lelap di pelukan Mbak Sasi. Firaun itu dengan beraninya masuk. Meminta Mbak Sasi untuk menjadi istrinya.

“Jangan paksa aku mengeluarkan kutuk untukmu.”

“Jadilah istriku. Layani aku. Akan aku buat kau bahagia.”

“Suamiku adalah kebahagiaankku.”

Mbak Sasi keluar. Disaksikan Lintang dan Candra serta seluruh alam ini. Ia berjanji takkan menikah lagi. Tapi, Firaun seperti anjing yang memuncak birahinya. Ia raih tubuh penaari itu. Mbak Sasi meronta, gaunnya robek. Berahi Firaun kian memuncak.

Ketika Mbak Sasi kehabisan tenaga dan hampir segalanya… tiba-tiba cahaya rembulan menghentikan gerak Firaun. Ia mematung. Beberapa malam tak mau beranjak dari tempat itu. Dan beberapa tahun ia tetap di situ. Tubuhnya membatu dan berlumut.

* * *

Aku kembali diam di kamar. Mengenangkan hari-hari silam. Aku tetap cinta hidup ini, biarpun sarat kepalsuan. Sampai Sunyi dan Sepi menegurku kembali.

Ah, di mana burung Hantu itu. Di depan jendela, melintas seorang perempuan. Wajahnya menyiratkan kehilangan.

“Hai, siapa kamu Gadis.”

Perempuan itu menatapku.

“Aku bukan Gadis.”

“Baiklah Perawan.”

“Bukan juga.”

Aku menautkan kening.

“Lalu kamu siapa?”

“Bukan siapa-siapa.”

“Setiap orang addalah manusia. Tidak ada alasan untuk menyebut dirimu bukan siapa-siapa.”’

“Karena aku telah pergi dan Firaun yang melakukannya telah pergi.”

“Firaun!?”

“Ya, bertahun-tahun lalu.”

Bukan siapa-siapa itu berjalan lagi.

“Ke mana?.”

“Entah.”

“Dianing, Dianing.”

“Kamu.”

“Ikuti dia.”

“Tapi…”

“Cepat.”’

Aku menuruti burung Hantu. Mengikuti bukan siapa-siapa itu pergi. Hingga aku tak mengerti sampai di wilayah mana. Banyak pohon berdiri. Masyarakat pohon. Gelap.

Bukan siapa-siapa itu mendekati sesuatu. Aku ternganga, Firaun yang membatu dan berlumut itu bergerak meraih tubuhnya. Dan, aku tak mungkin menceritakannya padamu. Burung Hantupun menyuruhku untuk berpaling.

Aku lihat rembulan terkulai di lengan cakrawala. Ia beku dan membisu. Cahayanya redup. Terdengar suara berisik. Aku menoleh. Gelap. Cahaya rembulan yang beku membantuku. Firaun kembali membatu dan berlumut.

Perempuan bukan siapa-siapa itu menjelma makhluk yang mengerikan. Seluruh tubuhnya lebat oleh rambut. Kakinya empat. Taringnya panjang. Ia membuka mulut lebar padaku. Siap menerkamku. Namun rembulan beku menyelamatkanku. Direngkuhnya aku dalam cahayanya.

“Allahu Akbar.”

Batang, 1995

Entry filed under: CERPEN. Tags: .

Rumah Perempuan dan Biola

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 102,406 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Semoga di dekat kita tak ada anak yang terlantar sekolahnya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Saya tak kuasa membayangkan tubuhnya yang menua masih mencuci/menyeterika demi sekolah cucu. @spirit_kita 10 hours ago
  • Beruntung nenek yg buruh mencuci dan menyeterika, masih semangat menyekolahkan cucunya, meski sesungguhnya nenek tak berdaya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Ada remaja yg ditinggalkan ayah dengan tak menafkahi ibunya sama sekali, sementara sang ibu tak peduli dengan pendidikan anak. @spirit_kita 10 hours ago
  • Dalam minggu ini dapat cerita juga melihat sendiri, bagamana sebagian anak kita kesulitan mendapatkan pendidikan. @spirit_kita 10 hours ago

%d blogger menyukai ini: