Pisau

Mei 23, 2007 at 10:49 am Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Sumber: Buku kumpulan cerpen “Kota yang Bernama dan Tak Bernama” (DKJ-Bentang Budaya, 2003)

AKU hampir tak mengenali sosokku sendiri. Tubuhku kini pipih dengan ujung mata mengkilat. Aku tidak tahu alasan apa yang membuat pertapa tua itu mengubah tubuhku. Dari sebatang tongkat besi, menjadi sebilah pisau.

Berkali-kali pertapa tua mengasahku dengan ditunggui laki-laki muda berbadan gempal. Dari sorot matanya, tergambar semburat kelicikkan. Ia memandangku dengan picik. Sesekali senyumnya mengembang, tetapi tidak menyenangkan. Senyum laki-laki muda itu justru melahirkan kebencian dalam pandanganku.

“Bagaimana Pak Tua, sudah jadi?.”

Pertapa itu, terus mengasahku. Hati-hati dan penuh ketelatenan pertapa itu menimangku. Seperti menimang seorang anak, pertapa itupun membelai ujung kepalaku. Aku merasakan kehangatan tangannya. Kehangatan yang bertahun-tahun aku nikmati sebelumnya, ketika wujudku masih sebatang tongkat besi. Sungguh aku ingin berlama-lama ada dalam genggaman pertapa itu.

Sejenak pertapa itu berhenti membelai ujung kepalaku.

“Ini pisau terbaik yang pernah saya buat,” ujar pertapa dengan suara berat.

Lelaki muda berbadan gempal itu memandangku dengan sinis.

“Bapak asah lagi.”

Ia meragukan ketajamanku.

“Sudah tajam.”

“Baik aku akan menguji ketajaman pisau ini.”

Aku menggigil. Kini aku berada dalam genggaman lelaki yang dadanya dipenuhi tato. Matanya nyalang menatap sang pertapa. Dengan sangat tiba-tiba diayunkan aku ke tubuh pertapa.

Aku menjerit keras. Berharap pertapa itu menghindar. Sia-sia. Aku yang diciptakannya selama empatpuluh hari empat puluh malam dengan kesabaran, juga ketelatenan yang tinggi, kini menghunjam ke perutnya. Aku lihat ususnya terburai. Darah menetes-netes setitik demi setitik ke tanah yang pecah-pecah. Darah itu mengalir pelan, merembes ke dalam tanah. Disusul darah segar dari perut pertapa itu.

Ada yang hendak ingin ia sampaikan padaku. Tetapi mulut pertapa itu hanya terbuka kaku dan kelu. Mungkin ucapan selamat tinggal atau barangkali ia menyesal telah mengubah tubuhku menjadi pisau.

Ia menggelepar di tanah. Memegangi perutnya. Merintih dan melolong panjang. Ia meregang nyawa. Kalau saja pertapa itu tak menciptakan aku menjadi pisau atas pesanan lelaki muda bertubuh gempal itu, mungkin hari ini ia tak tersungkur ke tanah. Dan tak perlu menahan sakit seperti sekarang. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit aku terjemahkan.

Dengan ringan lelaki muda itu membersihkanku dengan telapak tangannya. Segumpal darah yang menempel di tubuhku, ia seka. Ia jatuhkan ke tanah yang pecah-pecah. Matahari yang menyengat membakar gumpalan darah itu. Aku sempat melihat gumpalan darah itu menyala, seperti api yang tercipta dari dendam. Aku lihat sosok pertapa dalam gumpalan darah itu. Aku mendengar sumpah sakti dari gumpalan darah itu. Sumpah yang akan aku simpan sampai akhir hayatku.

* * *

Lelaki muda itu meyimpanku dalam sarung yang ketat. Aku susah sekali bernafas. Tempatku yang baru ini sungguh tak nyaman. Gelap. Tak ada setitikpun cahaya. Lebih menyedihkan lagi, aku diselipkan di antara kaos kakinya yang lusuh dan kulit kakinya yang kasar. Aku tak ubahnya diam dalam penjara.

Setiap kali lelaki muda itu melangkah, aku merasakan goncangan hebat yang datang berkali-kali. Karenanya aku sering merasakan bumi seperti berputar tanpa aturan. Hingga lelaki muda menghentikan langkahnya di depan bangunan tua. Di halaman rumah itu tumbuh ilalang setinggi pinggang lelaki muda.

Aku kembali merasakan guncangan hebat. Lelaki muda itu melangkah ke dalam. Sungguh luas halaman gedung bercat gelap itu. Di sebelah kanan dan kiri bangunan terbentang dinding tinggi dengan warna hitam pekat. Pada dinding itu terdapat lukisan kelelawar teramat besar dengan warna hitam pula. Hanya pada mata kelelawar itu yang berwarna merah. Hingga aku dapat melihat api di mata kelelawar itu dengan jelas.

Suara mengaum menyambut kedatangan lelaki muda. Dari balik kaos kaki yang berbau apak dan himpitan kaki yang kekar aku dengar percakapan mereka. Berulangkali aku menautkan kening. Bila lawan bicara lelaki muda itu manusia, mengapa di setiap ucapannya selalu diiringi suara mengaum?

Dulu ketika aku masih berwujud sebatang tongkat besi, aku pernah mendengar suara mengaum di hutan. Waktu itu aku mengawal pertapa untuk bertapa di hutan Alas Roban. Dengan posisi duduk bersila, pertapa itu mempertemukan kedua telapak tangannya tepat di depan dadanya. Karena khusuknya, ia tak menyadari di depannya seekor macan lapar siap menerkam. Begitu macan itu hendak melompat dengan mulut terbuka, melebihi kecepatan kilat, pertapa mengambilku. Memasukkan tubuhku ke mulutnya.

Aku menghantam ujung tenggorokkan macan. Darah mengucur dari mulut macan. Rintihannya membuat monyet-monyet riuh. Burung-burung berterbangan kian kemari, ayam hutan berkaok-kaok. Macan yang terluka itu berlari tanpa arah tujuan. Langkahnya kacau. Menambah suasana Alas Roban teramat riuh.

Setelah macan itu kelelahan, tubuhnya terkulai di tanah penuh duri. Goresan duri duri itu membuat tubuh macan terluka. Darahpun mengalir dari setiap lukanya.

Sekarang suara mengaum itu terdengar kembali, tetapi bukan sebagai macan melainkan manusia. Tetapi wajah manusia itu terkadang seperti macan. Sebentar kemudian wajah manusia. Lalu separuh wajah manusia dan separuhnya lagi wajah macan.

“Sudah kau dapatkan pisau itu, Monyet.”

Aku tersentak. Manusia yang bersuara mengaum itu memanggil lelaki muda dengan sebutan Monyet. Bagaimana mungkin manusia bernama monyet? Apakah tak ada nama selain Monyet. Ah, dunia manusia memang terkadang aneh.

Aku rasakan tangan kekar mengambilku dari tempat dimana ia menyembunyikan aku. Di dalam kaos kakinya. Diantara sepatu dan kakinya yang keras. Lelaki muda itu menyerahkan aku kepada manusia bersuara mengaum. Tak lama kemudian terdengar tawanya yang aneh. Aku mendengar macan yang sedang tertawa.

“Dengan pisau ini akan aku bunuh pertapa itu,” ucap manusia bersuara mengaum seperti tengah berjanji pada dirinya sendiri.

“Keinginan Tuan Macan sudah terpenuhi.”

Manusia bersuara mengaum menautkan kening. Sangat keras garis kening itu. Persis ketika macan di hutan tengah menautkan kening. Atau tengah keheranan mengapa mangsanya tak mempan oleh cakarannya. Aku memang sedikit banyak tahu tentang macan. Sebab ketika aku masih berbentuk sebatang tongkat besi, kemanapun pertapa pergi aku selalu turut. Yang membuat aku selalu bertanya, mengapa selalu macan yang menjadi penghalang dalam perjalanan sang pertapa.

“Pertapa itu mati di tanganku.”

Manusia bersuara mengaum semakin menautkan kening. Wajahnya yang suka berubah-rubah antara wajah manusia dan macan itu mengeluarkan api. Seluruh wajahnya dipenuhi api.

“Ampun ampun. Bukan maksud saya mendahului Tuan macan.”

Nyala di wajah manusia bersuara mengaum itu semakin hebat.

“Lancang,” geramnya.

Dan hup. Dihunuskan aku tepat ke lambung lelaki muda berkali-kali. Tetapi sedikitpun lelaki muda tak bergeming. Tak ada darah setetespun mengalir dari perutnya yang menganga lebar.

Aku terpana melihatnya. Bagaimana mungkin daging manusia itu tak berdarah. Bagaimana ia bisa hidup tanpa darah di dalam tubuhnya. Bukankah setiap makhluk hidup memiliki darah di dalam tubuhnya? Sesuatu terjadi di depan kedua mataku yang tajam. Dari tubuh manusia bertato itu keluar asap putih membubung ke udara. Asap itu seperti menertawakan manusia bersuara mengaum. Ia membubung tinggi di udara dan terus meninggi.

“Sebentar lagi si pertapa itu akan datang padamu ha ha ha”

Asap putih itu pelan-pelan menghilang. Diantara asap itu aku dengar suara yang pernah akrab di telingaku. Suara monyet. Ketika asap benar-benar menghilang, aku lihat seekor monyet tengah menari-nari dengan gaya khasnya. Tangan kanan di atas, tangan kiri setengah menggaruk-garuk dadanya. Cara dia berjalan setengah jongkok. Cukup lama monyet itu menari-nari di depanku. Dari mulutnya terdengan “Aa uu aa uu “ dengan sangat riang. Monyet itu kemudian berlari keluar dengan sangat cepat.

“Aa uu aa uu.”

Monyet itu tak tampak lagi oleh kedua ujung mataku. Ia berlari terlalu cepat. Melebih kecepatan macan yang tengah mengejar mangsanya.

Sekarang tinggal aku dalam genggaman manusia bersuara aum. Api sudah tak tampak lagi di wajahnya, tetapi sisa nyalanya masih jelas. Dengan geram manusia bersuara aum itu mengumpat-umpat sendiri. Ia tampak sekali kecewa.

“Mestinya aku yang membunuhnya.”

Usai itu ia lempar aku ke tanah sangat keras. Kepalaku membentur sebuah batu. Sangat keras tetapi seperti bertemu kawan lama. Ah, andai saja sang pertapa masih hidup pastilah ia tak membiarkan aku terkulai di tanah. Pasti ia akan mengambilku dan membersihkan kotoran yang menempel di sekujur tubuhku.

Bayang siapa yang mengabur di depanku. Makin lama bayangan itu semakin jelas. Sang pertapa, tuanku dulu. Aku memberinya salam sebagai tanda kesetiaanku padanya. Pelan-pelan ia mengambilku. Membersihkan tubuhku dengan batu yang tadi membentur kepalaku.

Aku ingin selamanya ada di genggaman si pertapa itu. Sebab kepadanya aku menemukan kedamaian.

“Kau ingat sumpah sakti dari gumpalan darahku?”

Aku tercengang.

“Aku akan melakukannya sekarang,” ucapnya yakin.

Aku kian tercengang.

Si pertapa tua yang kini adalah bayangan, membawaku menuju manusia bersuara aum. Berkali-kali ia berujar akan menuntaskan janjinya. Aku yang ada dalam genggamannya, menggigil hebat.

Depok, Agustus 2003

Entry filed under: CERPEN. Tags: .

Tarian Hening Death

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 102,406 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Semoga di dekat kita tak ada anak yang terlantar sekolahnya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Saya tak kuasa membayangkan tubuhnya yang menua masih mencuci/menyeterika demi sekolah cucu. @spirit_kita 10 hours ago
  • Beruntung nenek yg buruh mencuci dan menyeterika, masih semangat menyekolahkan cucunya, meski sesungguhnya nenek tak berdaya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Ada remaja yg ditinggalkan ayah dengan tak menafkahi ibunya sama sekali, sementara sang ibu tak peduli dengan pendidikan anak. @spirit_kita 10 hours ago
  • Dalam minggu ini dapat cerita juga melihat sendiri, bagamana sebagian anak kita kesulitan mendapatkan pendidikan. @spirit_kita 10 hours ago

%d blogger menyukai ini: