Pernikahan Angin

Mei 23, 2007 at 11:05 am Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Sumber: Majalah Sastra HORISON, Januari 2000, kemudian dimuat dalam buku antologi cerpen “Dunia Perempuan” (Bentang Budaya, 2002).

AKU di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja yang kali ini berwajah pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung Gagak bergaun hitam. Menari di depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan. Seperti mengabarkan sesuatu yang ganjil.

Angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahan-lahan aku sapu anak rambut yang tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan tarian yang terluka. Entah tentang apa.

Ketika senja berangkat malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku.

Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedaunan. Gunung-gunung membisu. Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Semua diam. Malam begitu terbungkus kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua melayang di udara. Jatuh. Terkulai di tanah. Kesunyian kian lengkap.

Aku masih di sini, di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung cakrawala. Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya ke bebatuan. Tak ada yang menemaniku malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara.

Hanya burung Hantu yang bersedia menemaniku. Bercerita tentang bulan dan bintang. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup.

Burung Hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan, aku temukan di sana.

“Selamat malam,” sapa burung Hantu.

“Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.”

Ia bentangkan tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano, sekarang.”

Ia menyebut nama laki-laki itu.

“Pergilah ke hutan Para.”

Aku menautkan kening.

“Kau akan tahu.”

Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan para.

Sekelilingku gulita. Tetapi cahaya bugil bulat membantu penglihatanku. Banyak pohon di sekelilingku. Sebuah perkampungan pohon. Membisu dan gelisah.

“Hutan.”

“Ya, hutan para.”

Suara burung Hantu

“Apa yang aku tahu.”

“Ikuti aku.”

Seperti perintahnya, aku ikuti burung Hantu.

Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telinga. Tiba-tiba di depanku terang benderang. Astaga. Lismatano bersama perempuan lain.

Seketika angin meliukkan tubuhnya. Memintalku. Entah berapa lama ia menerbangkan aku. Yang jelas tak ada satu detik aku kembali berada di ketinggian menara.

Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di benakku. Malamku lunglai. Burung Hantu masih disampingku.

“Untuk apa kau bawa aku.”

“Agar kau tahu siapa Lismatano.”

Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati dengan tulus luka yang tertoreh di dalam hati. Lismatano, laki-laki yang aku kagumi sampai hati menikam darahku.

“Apakah aku terlambat?,” tanya burung Hantu.

“Tidak.’”

“Mengapa bathinmu luruh.”

“Aku tengah belajar bahagia dan damai sendiri.”

Burung Hantu tersenyum dan mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia melindungiku. Telah aku putuskan untuk pergi dari Lismatano.

Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia mengucapkan salam. Aku dengar juga bisikan angin, mengucap selamat malam. Aku membalasnya dengan lenguhan. Aku letih. Burung Hantu membimbingku ke kamar. Menyelimutiku.

“Tidurlah dengan damai.”

Aku mengangguk. Aku tahu, ia akan menjagaku sepanjang malam.

Di ketinggian menara ini, angin membuaiku. Membuat aku perlahan-lahan terlena. Perlahan-lahan pula aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang damai. Hamparan luas rumput menghijau. Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan rumput menghijau itu, para pangeran tersenyum ramah. Sungguh dunia yang menyenangkan. Aku ingin berlama-lama di sini.

Sayang, aku terlempar ke dunia entah berantah. Seperti ada yang menghalangi nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju serba putih.

“Aku akan menjemputmu.”

Aku terpana.

“Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.”

Aku belum mengerti makna kalimatnya.

Burung Hantu mencekal bahuku, seolah mencegahku.

“Kau tak bisa mencegahku. Ini perintah Tuhanku, Tuhanmu juga.”

“Ia masih terlalu muda.”

“Ini kehendak Tuhan.”

Mereka berdebat hebat dengan argumen-argumen yang akurat. Aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka tanpa bisa berbuat apapun.

Burung Hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap dengan baju serba putih itu menghampiriku. Menyentuhku. Sungguh tangannya teramat dingin di kulitku. Entah apa yang ia lakukan setelah menyentuh kulitku. Yang aku tahu aku merasakan sakit tiada terkira. Ia seperti menarik-narik pori-poriku. Setiap kali tarikan yang sangat kuat itu mencapai ke nadi leherku, ia melepaskan begitu keras. Aku mengerjang, merintih, terpuruk.

Aku lihat burung Hantu bangkit. Ia tak peduli dengan sayapnya yang patah. Burung Hantu berusaha mencegah keluarnya roh dari jasadku. Sedang sosok bersayap dengan baju serba putih itu menginginkan rohku. Jadilah jasadku ajang perebutan roh. Mereka tidak tahu betapa sakitnya aku.

Cukup lama mereka bertarung. Karena kesakitan aku merasakan sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Aku benar-benar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi, tanpa tahu di mana akan berhenti.

Aku saksikan jasadku dimandikan Bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang menyayangiku hadir di kematianku. Ketika jasadku dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat.

Aku merasakan sakit ketika Bunda dan saudara-saudaraku terisak di pemakaman. Ketika jasadku akan dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung semak belukar. Tanah mulai menimbun jasadku. Rata. Tertanam sudah jadadku. Aku melesat ke langit demi langit.

Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. Termasuk kisahku dengan Lismatano. Aku merasakan debar aneh ketika melihatnya dalam layar itu. Entahlah mengapa di sini aku juga masih mengingatnya. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku.

Di tengah riuhnya roh-roh menghadapi pengadilan akbar, muncul burung Hantu. Menuju Tuhan. Ia mengadu tentang aku.

“Aku ingin ia diberi keistimewaan.”

Burung Hantu itu menginginkan agar Tuhan memberiku izin melihat dunia.

“Baik, karena cintaku padanya. Aku izinkan ia suatu ketika kembali ke dunia.”

Aku terpana. Tidak mungkin. Tetapi burung Hantu mengepakkan sayapnya. Tersenyum padaku.

“Aku tunggu kau di dunia.”

“Bila Tuhan mengizinkan.”

“Tentu.”

* * *

Kali pertama aku turun ke dunia atas izin Tuhan. Sungguh elok pemandangan angkasa raya di malam hari. Taburan bintang menyambutku dengan cahaya luar biasa terang. Juga planet-planet yang terus berputar, bergerak dengan teratur. Bulan bugil bulat.

“Cukup lama kami menunggumu,” ucap bulan.

“Oh ya?”

“Cepatlah kau temui burung Hantu. Sudah lama ia menunggumu.”

Aku segera menemui burung Hantu, usai berbasa-basi dengan bulan, bintang serta planet-planet.

Aku lihat burung Hantu terpekur sendiri dengan wajah sepi. Seperti tengah menunggu sebuah kedatangan.

“Gerangan siapa yang membuatmu sepi.’”

Matanya berpendar. Sungguh indah. Ia menjerit. Kami berpelukan. Aku bahagia melihat wajahnya kembali cerah.

Wajah yang cerah itu luruh. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya.

“Boleh aku tahu dukamu?.”

Ia menatapku. Tatapan yang sulit aku urai maknanya.

“Maukah kau ke hutan para, Lismatano ada di sana.”

Aku luruh. Diam.

“Bukankah ia bagian dari masa lalumu di dunia.?.”

Aku mengangguk.

“Sekarang ia telah menikah dengan perempuan lain.”

Burung Hantu menggeleng.

“Mereka seatap tanpa ikatan.”

Aku malas membicarakannya.

“Aku harus segera kembali.”

“Tapi kau harus melihat mereka di hutan para,’” desaknya.

* * *

Lismatano, laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku, kini bercinta dengan perempuan lain di depanku. Aku tak kuasa melihatnya. Entahlah mengapa kakiku seperti tertanan di sini. Menyaksikan peristiwa besar yang terduga.

Tubuh Lismatano dan perempuan itu pelan-pelan berubah bentuk. Kulit mereka menebal dan kasar. Dari pori-pori mereka tumbuh rambut dengan amat lebatnya. Wajah Keduanyapun berubah mengerikan.

Aku terpana. Aku ngeri lama-lama di dunia. Aku ingin kembali. **

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Perempuan dan Biola Menuju Kubur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 103,873 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • RT @ummychasan: @detikcom Ketiganya kami cintai dan hormati, mrk bekerja u rakyat. 2 hours ago
  • RT @mesjkt: @detikcom Ke3nya adalah orang2 yg saya kagumi:jujur,bersih,berintegritas tinggi dan kerja kerasnya ikhlas buat bangsa dan negar… 2 hours ago
  • RT @virusmotivasi: Kadang seseorang menyalahkan orang lain hanya karena tak temukan kata yg tepat tuk ucapkan maaf. Dan karena itu kegagala… 2 hours ago
  • RT @virusmotivasi: Kadang kamu memilih tuk sendiri, bukan berarti kamu tak ingin dicintai, itu hanya berarti kamu butuh waktu tuk sembuhkan… 2 hours ago
  • RT @ilhamkhoiri: Afi Nihaya itu baru lulus SMA, masih 19 tahun, anak pedagang cilok, tapi catatannya inspiratif untuk bangun Indonesia yg d… 2 hours ago

%d blogger menyukai ini: