Perempuan dan Biola

Mei 23, 2007 at 11:03 am Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

AKU belum pernah merasakan hanyut seperti sekarang. Dan aku menikmatinya dengan segenap perasaanku. Seorang perempuan cantik dengan gaun putih berdiri di depan panggung tampak menghayati permainannya sendiri. Entahlah apa yang sebenarnya ingin aku katakan tentang perempuan itu, dan bunyi biolanya. Seperti menyimpan sesuatu yang penuh misteri.

Suara gesekan biola itu sungguh syahdu. Aku seperti melayang di ruangan tata surya, melihat planet-planet mengitari matahari dengan teraturnya. Bahkan aku melihat bumi yang sebenarnya tempat aku berpijak di dunia. Aku duduk di atas bulan sembari menatap gemerlap bintang-gemintang. Suasana itu, duhai, membuat aku ingin berlama-lama bahkan selamanya di sini, di kerajaan langit yang menyimpan keindahan sempurna.

Selang beberapa detik kemudian gesekan biola itu seolah membawaku ke hamparan bunga tulip dengan ribuan kupu-kupu. Saling berterbangan memamerkan warna-warni sayapnya. Udara segar. Angin sepoi. Di sini selalu terdengar sayup-sayup gesekan biola. Membawakan lagu-lagu purba. Seperti lagu nina bobo. Aku tak ingin beranjak dari sini. Aku ingin selamanya di sini. Membayangkan diri dalam pelukan Ibunda.

Sesaat kemudian aku merasakan tubuhku teramat ringan. Di sebuah bukit yang hijau. Aku melihat warna-warna indah di kaki langit. Pelangi. Seperti sebuah keajaiban. Selama hidup baru kali ini aku melihatnya dalam nyata. Sebelumnya aku mengenal pelangi hanya lewat dongeng atau sebuah lagu. Aku menatap ke sudut langit. Tampak jelas di mataku satu titik air hujan jatuh di sana. Hujan baru saja reda. Tuhan, aku ingin di sini selamanya, menikmati keindahan pelangi dan titik hujan di bukit ini.

Tepuk tangan bergemuruh di gedung berkapasitas sepuluh ribu penonton itu. Sebuah perpisahan yang tak pernah aku inginkan. Entah mengapa aku merasa telah lama diperkenalkan oleh Tuhan dengan suara gesekan biola itu. Aku tidak ingin suara gesekan biola itu berakhir. Aku masih ingin mendengarnya dan membiarkan diri terhanyut.

Tepuk tangan masih menggemuruh. Perempuan itu masih dalam posisi semula. Pelan-pelan tangannya turun. Ia tak lagi menggesek biola. Perempuan itu mengucapkan terimakasih kepada penonton dengan bahasa tubuhnya. Aku jelas melihat ia tak lagi menggesek biolanya, tetapi di telingaku masih terngiang sayup-sayup suara gesekan biola.

Perempuan itu mulai meninggalkan panggung diikuti tepuk tangan. Satu persatu penonton beranjak dari tempat duduknya. Decak kagum mengental dari wajah dan sorot mata mereka. Ya, memang bukan hanya aku yang menyukai permainan perempuan itu. Tetapi adakah mereka juga terhanyut karena suara gesekan biola itu? Aku tak tahu pasti. Tetapi bathinku bersorak dan meyakinkan hanya aku yang terhanyut pada suara gesekan biola itu.

Panggung sepi. Tinggal aku. Suara gesekan biola itu masih terus terdengar dalam gendang telingaku. Berulangkali aku mencubit lenganku sendiri, menguji kesadaranku. Aku merasakan sakit. Berarti ini nyata. Suara gesekan biola itu nyata. Adakah perempuan itu yang melakukannya di luar panggung untukku? Untuk apa. Aku belum pernah bertemu dengan perempuan itu, sebelumnya. Terlebih suara gesekan biolanya. Jadi Tak mungkin perempuan itu yang melakukannya. Pasti ada orang lain yang ingin menghiburku. Siapa?

Aku harus beranjak. Sebentar lagi gedung ini akan terkunci dengan sendirinya. Aku tak ingin terkurung sendiri di sini. Tetapi suara itu, suara gesekan biola itu terus menari-nari dalam pendengaranku. Dan aku masih ingin menikmatinya sembari terhanyut dengan bahagia.

Kian lama gesekan biola itu kian membuai benakku. Peringatan untuk segera meninggalkan gedung datang berulang-ulang. Tetapi aku tak mampu beranjak dari dudukku. Setiap kali aku ingin beranjak suara gesekan biola itu semakin mengikatku. Seolah ia ingin aku menikmatinya hingga entah kapan. Hingga aku benar-benar terkurung di gedung ini.

Kala malam pada puncaknya suara biola itu kian lirih terdengar meskipun sangat jelas. Membuat aku seperti dininabobokan kembali. Tiba-tiba sebuah suara lembut menyentakku. “Pulanglah. Pasti ada hari esok.” Aku melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Aku hanya bisa menarik nafas.

Dan pelan-pelan, suara biola itu mengecil sampai hilang sama sekali. Keringat dinginku mengucur begitu mengetahui aku masih dalam gedung itu, yang kini telah terkunci. Tak tahu harus bagaimana. Dalam kebingunganku muncul perempuan dengan biolanya di panggung.Tersenyum memberi hormat padaku. Lalu memainkannya tanpa siapapun di sekelilingnya kecuali aku. Ribuan kursi kosong. Dinding panggung dan nyala lampu yang redup.

Sekali lagi di malam ini aku mendengar kembali suara biola yang menyimpan misteri. Suara itu pelan-pelan membuat aku merasa asing dan fana. Aku seperti berada di penjara dengan bentangan dinding yang sangat tinggi. Aku bersusah payah untuk meruntuhkannya. Sia-sia. Dinding ini terlalu tebal. Bertahun-tahun aku berada dalam dinding itu. Tanpa melihat wajah-wajah orang yang mencintaiku.

Suara biola kian membuatku sepi. Aku terbawa dalam suasana perkabungan. Gundukan tanah basah. Daun-daun samboja berguguran.. Ribuan nisan membisu. Nama kekasih tergores di nisan yang baru. Hatiku sepi.

Aku masih di gedung ini. Masih melihat perempuan itu memainkan biolanya tanpa tahu bagaimana tersiksanya aku mendengar gesekan-gesekan yang memilukan. Aku ingin beranjak. Ingin pulang. Perempuan itu berhenti memainkan biolanya. “Pulanglah.”

Lalu ia membimbingku, seperti seorang ibu menggandeng anaknya. Begitu lembut. Penuh kasih. Ada satu pintu yang mungkin hanya perempuan itu yang tahu. Aku pulang lewat pintu yang ia tunjukkan. Pertamakali aku melangkah sudah terdengar kembali suara biola. Aku mencoba menutup telingaku tetapi suara itu pelan-pelan menembus gendang telingaku. Begitu syahdu. Pelan-pelan membangkitkan rasa kangen.. Entah kepada siapa.

Aku sangat lelah malam ini. Ingin segera terlelap dan esok bangun dengan tenaga baru. Tetapi suara gesekan biola itu terus menghantuiku. Terlebih yang memainkannya. Perempuan yang sempurna. Baru kali ini aku bertemu dengan perempuan sehebat dia. Mampu memainkan biola sekaligus membiusku.

Aku mulai tak mengerti dengan kekagumanku kali ini. Aku menyukai bunyi yang keluar dari gesekan biola, atau aku terpana dengan perempuan yang membawakan biola itu? Aku tiba-tiba terus terusik oleh wajah dan body biola itu. Aku masih ingat alunan biola itu. Ah mengapa aku jadi begitu gila. Sungguh aku jatuh cinta dengan suara biola itu.

Aku sembunyikan wajahku pada bantal. Aku ingin melupakan bunyi biola itu. Aku ingin melupakan perempuan yang memainkan biola itu. Aku ingin segera terlelap. Aku tidak ingin mengagumi sesuatu secara berlebihan. Aku tak pernah menyentuh biola apalagi memainkannya. Untuk melihat pun baru kali ini. Peduli apa aku dengan perempuan itu. Tak ada yang menarik. Perempuan di dunia ini sama saja. Tak ada yang mau mengerti tentang aku.

Perempuan biasanya hanya mau menang sendiri. Perempuan biasanya ingin selalu lebih diperhatikan, dimanja dan satu lagi yang paling menonjol dari sikap perempuan. Suka dibohongi. Pelan-pelan aku mendengar sesuatu yang sangat lirih. Begitu mengesankan. Suara itu kian lama kian jelas. Darahku berdesir. Suara itu lagi. Suara yang berasal dari biola. Mengapa sampai di sini. Di kamarku. Tetapi suara biola itu sungguh bersahabat. Seperti membuaiku. meninabobokan aku dan akhirnya aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Aku telah memasuki dunia lain. Dunia yang selalu kuimpikan.

Dalam tidurku aku melihat perempuan yang luar biasa. Ia seperti bidadari. Perempuan itu memainkan biola di padang luas dikelilingi warna-warni bunga. Kupu-kupu berterbangan mengelilinginya. Kupu-kupu itu ikut menikmati gesekan biola. Aku menjadi pangeran yang sedang dihibur oleh bidadari itu. Aku bahagia. Aku tak ingin segera terjaga. Aku ingin menikmati tidur ini lebih lama.

Pelan-pelan mataku terbuka. Seiring hilangnya suara biola itu. Ada sesuatu yang miris dalam hatiku. Aku merasakan ada sesuatu hilang dalam diriku. Entah apa. Aku menghela nafas. Aku merasa mulai aneh dengan diri sendiri. Gedung megah, perempuan yang luar biasa sempurna, gesekan biola. Seperti sebuah perjalanan yang panjang. Seperti mimpi juga seperti nyata. Aku beranjak. Sobekan tiket sebuah konser ada di atas meja. Aku genggam kuat sobekan kertas itu.

Ya, orang-orang banyak memujinya, tak terkecuali teman-teman sekerjaku. Mendengar itu, aku hanya bisa mendengus sebel — menumpahkan rasa tidak senangku yang luar biasa. Aku tidak ingin orang-orang memujinya terlalu berlebihan. Akulah yang paling berhak memujinya. Karena aku begitu suka padanya.

Sering sekali, aku ingin terus bertemu dengannya. Aku selalu membayangkan bahwa perempuan itu tidak pernah berhenti memainkan biola di tangannya. Terkadang, ia juga suka datang dalam tidurku, dengan biola di tangan. Lalu mengambil sikap yang menawan, tangannya yang gemulai mulai memainkan biolanya. Suara gesekan biola itu senantiasa menyimpan misteri di telingaku. Aku sangat menikmati. Begitu mengesankan dan tanpa henti.

* * *

Aku tersentak membaca koran pagi, tak percaya dengan berita yang baru saja aku baca. Perempuan itu telah meninggal semalam, sebelum pertunjukannya benar-benar usai. Ia terjatuh di akhir acara, ketika akan mengakhiri nomor terakhir konsernya. Sakit apakah dia? Tidak ada seorang pun yang tahu. Koran yang kubaca itu juga tidak menyebut secara masuk akal apa sebenarnya yang terjadi terhadap perempuan itu. “Ia kelelahan,” tulis berita itu. Benarkah? Apakah kelelahan bisa membuat orang mati mendadak?

Di bawah cahaya bulan aku hanya bisa membayangkan bagaimana perempuan itu dengan terampilnya memainkan tangannya menggesek-gesek biola itu. Ia seperti ingin menghibur kesedihanku yang teramat sangat. Sungguh, selama ini, aku seperti mendapatkan teman baru yang bisa membuatku kembali bergairah — setelah isteriku, Diana, menghilang lima tahun lalu. Kehadirannya benar-benar telah memompa semangatku.

Begitulah, sejak itu, setiap malam, sebelum aku pergi tidur, aku selalu menyempatkan diri membayangkan perempuan itu. Dan — entah nyata, entah tidak — perempuan itu hadir di hadapanku. Memainkan nomor-nomor musik yang selalu aku suka. Ia tidak pernah berhenti. Hingga aku tertidur di kursi, menghadap fotonya yang kupasang besar-besar di kamarku.

Dan itu terus berlangsung sepanjang hidupku.

Jakarta, Agustus 2000

————————–
Notes :
Cerpen ini pernah dimuat di majalah Tunas Cipta, Malaysia

Entry filed under: CERPEN. Tags: .

Rembulan Beku Pernikahan Angin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 102,396 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: