Menuju Kubur

Mei 23, 2007 at 11:07 am Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Sumber: Majalah BAHANA, Brunai Darussalam, Februari 1996

PERKAMPUNGAN itu telah berubah. Banyak bibit penyakit yang tumbuh dan berkembang biak. itu. Tak mengherankan banyak penduduk perkampungan itu menderita macam-macam penyakit yang mematikan.

“Kematian itu indah,” kata Yuni.

Yuni adalah seorang yang belum menjadi manusia. Ia baru saja lahir. Itupun bukan di tangan seorang bidan atau dukun beranak. Yuni lahir dengan caranya sendiri. Sewaktu bayi tak ada seorangpun yang memperdengarkan adzan dan iqamah untuk Yuni.

Wajar, bila telinganya tertutup. Bila mengalun panggilan salat, panggilan itu tak menembus ke dinding telinganya.

Memang sosok Yuni lahir dan hidup dengan kekacauan jiwa. Oleh rahim ibunya, ia dibiarkan begitu saja lewat memilih alam baru. Tanpa dididik bagaimana cara keluar dari rahim, agar dapat menikmati kehidupan duniawi yang sehat.

“Kematian itu indah,”

Parinem, Ibu Yuni tertawa terkekeh-kekeh mendengar keyakinan anaknya.

“Kamu siap mati hari ini?”

Yuni tak dapat bercakap apa-apa. Hanya memandang ke sungai yang kotor. Disitulah bibit-bibit penyakit tumbuh. Seluruh kotoran manusia mengalir di situ. Ada Tangan jahil yang asik bermain-main, ada bibir, lidah serta mata yang tak pernah puas. Ada pula bangkai hati manusia yang sulit musnah meski seribu hewan telah memangsanya. Bangkai hati itu sudah lama membusuk, dan baunya menyebar ke penjuru perkampungan.

Mata Yuni masih nanar menikmati keruhnya air sungai dan anyir baunya.

“Yuni!.”

Mungkin karena telinga Yuni yang terlalu keras, dia tak segera memperhatikan panggilan ibunya, yang lebih dikenali dengan “mama” oleh perempuan-perempuan penghuni perkampungan itu.

Parinem atau mama Inem memang yang berkuasa. Semua urusan bisnis daging bernyawa itu di bawah kendali Parinem.

“Yuni,” panggil Parinem lagi.

Masih saja Yuni diam.

“Yuni!”

Parinem berteriak keras. Hingga kerongkongannya mengering. Sampai-sampai tak bisa berbicara lagi dengan siapapun. Hanya mampu menggerak-gerakkan mulut saat Parinem ingin berbicara dengan orang lain. Sedang suara yang keluar dari mulutnya, sulit dimengerti orang lain.

Yuni berteriak-teriak. Perempuan-perempuan perkampungan itu segera keluar dari kamar masing-masing menuju sungai.

“Ada apa?.”

“Mengapa di tepi sungai ini?.”

Pertanyaan-pertanyaan dari perempuan-perempuan itu tak dapat Yuni jawab. Dalam kepalanya terdapat planet-planet yang beredar mengelilinginya. Pandangan matanya berubah-ubah. Wajah perempuan-perempuan di depannya jadi bergelombang.

Perempuan-perempuan yang ingin mendapat jawaban itu saling berpandangan. Kening mereka saling bertaut keras. Tak beda dengan lukisan kelelawar. Yuni masih diam. Membuat perempuan-perempuan di depannya semakin ingin tahu, apa yang terjadi.

“Mengapa dengan dia.?”

“Sakit?”

Perempuan-perempuan itu saling bertanya lagi.

“Bagaimana kita tahu, ia hanya diam.”

“Mungkinkah dia sakit?”

“Sakit?”

“Ya, karena terlalu lama di tepi sungai ini.”

Semua perempuan itu diam. Saling berpandangan. Masing-masing dari mereka kehabisan akal untuk mendapatkan jawaban dari Yuni.

“Barangkali kamu tahu tentang penyakitnya?,” tanya salah satu dari mereka.

“Barangkali kecewa,” sahut yang lain.

“Kecewa tentang apa?.’

Pertanyaan yang satu belum terjawab, muncul pertanyaan yang lain.

Warna kuning keemasan mulai menghias di atas langit perkampungan itu. Sebentar lagi senja tiba. Satu persatu perempuan penghuni perkampungan itu meninggalhan Yuni dan Parinem.

Tinggallah Yuni dan Parinem di tepi sungai itu. Tetapi ketika malam mulai sempurna, Parinem masuk ke rumah. Tatkala memasuki ruang tengah, perempuan-perempuan yang tadi memburunya dengan berbagai pertanyaan, kembali melakukan hal yang sama. Parinem hanya menanggapi dengan tersenyum.

“Gerangan apa yang membuat mama Inem berlama-lama di tepi sungai?.”

“Apa yang menarik dengan sungai itu,” tanya yang lain. Parinem hanya tersenyum.

“Apakah dengan berlama-lama di tepi sungai itu, akan merubah warna sungai itu, Ma,” canda perempuan yang lain.

Lagi-lagi Parinem menanggapinya dengan tersenyum. Karenanya, perempuan-perempuan penghuni rumah itu saling berbisik-bisik.

Tersebar juga akhirnya kalau Parinem sekarang tidak mampu berbicara lagi.

“Ini berita bagus.”

“Betul.”

“Kita tak lagi menjadi boneka mama Inem.”

“Ya, ia sudah tua bangka. Sekarang mulutnya…”

Terdengar tawa riuh perempuan-perempuan itu.

Sejak itu perempuan-perempuan perkampungan itu jadi leluasa dalam bertransaksi. Masing-masing dari mereka bebas bertransaksi tanpa potongan harga. Demikian juga dengan para tamu. Para tamu sekarang lebih leluasa, tanpa aturan-aturan lagi. Perkampungan itu jadi kian gelap.

Kegelapan perkampungan itu seperti nasib orang-orang kelaparan. Segala nurani tertutup. Tak ada semilir angin yang berhembus di perkampungan itu. Semua telah beku dan mati.

Parinem sendiri sekarang terkulai karena sakit yang tak terobati, meski ada secercah kebahagiaan. Parinem bisa berbicara lagi. Sakit itu mungkin juga karena murka alam kepadanya. Keadaannya kian hari kian lemah, ditambah hatinya yang sakit oleh perlakuan perempuan-perempuan yang dulu tunduk padanya.

Tak ada lagi kecantikan yang tersisa di masa muda dulu. Parinem merasa terpuruk ketika dokter mengatakan tak ada lagi harapan bagi Parinem untuk sehat kembali.

“Tak dapatkah Dokter melepas sakit ini dari ragaku.”

Dokter hanya bisa menghela nafas. Wajah dokter itu menyiratkan rasa tak kuasa.

“Seandainya anda orang bijak, tak akan mengidap penyakit ini.”

“Penyesalan selalu datang terlambat.”

Dokter mengemas peralatan medis. Sebelum beranjak, berujar pada Parinem untuk berserah diri kepada yang kuasa. Parinem semakin terpuruk.

Perempuan-perempuan penghuni perkampungan itu bertanya kepada dokter perihal penyakit Parinem.

“Bisa jadi kalian akan mengalami sakit yang sama.”

Perempuan-perempuan itu menyambut dengan tawa. Sesekali terdengar kalimat-kalimat yang tak disukai dokter itu.

Untuk keluar dari perkampungan itu harus melewati sungai. Betapa tercengangnya dokter itu ketika melihat sungai yang kotor karena perbuatan-perbuatan penghuni perkampungan itu. Berbagai macam kotoran watak manusia berdiam di situ. Sejak itu dokter itu tak pernah lagi datang ke perkampungan itu.

Tubuh Parinem kian kurus. Ingin ia dijemput oleh kematian, daripada menanggung sakit tiada tara. Ingin ia mengucapkan kata-kata yang dulu pernah diucapkan Yunu. “Kematian itu indah.” Dalam benak Parinem, dengan kematian usai sudah segala derita.

Yuni tak kuasa melihat keadaan ibunya. Runtuh sudah kalimat yang dulu sakti di benaknya. Tiba-tiba ia takut akan kematian. Yuni takut bila ibunya meninggal. Yang ia tahu ibunya bukanlah perempuan yang mengenal susila. Dia bukanlah wanita yang memiliki kehormatan seperti wanita-wanita lainnya.

Didekatinya tubuh ibunya. Parinem hanya bisa menatap wajah Yuni. Sangat lama keduanya saling bertatapan. Tanpa sepatah kata terucap diantara keduanya, namun tatapan mata mereka seperti sebuah dialog.

Parinem meraih tangan Yuni, mendekatkan tangan Yuni ke dadanya. Kematian itu indah, kata itu yang ingin Parinem ucapkan kepada Yuni, namun tak sempat terucap. Genggaman tangan Parinem menguat, menguat dan terus menguat. Hingga pada puncaknya, Parinem menutup mata. Genggaman tangannya pada Yuni pelan-pelan melemah lalu lepas.

* * *

Sejak Parinem pergi, Yuni terusir dari perkampungan itu. Tak ada yang ia bawa. Ia terus berjalan menyusuri kota. Masih tercecer kaumnya, menjual tubuh di jalanan. Tetapi Yuni tak ingin melakukannya.

Entah malaikat mana yang menuntunnya. Ketika waktu subuh masuk, air matanya menitik mendengar adzan. Dinding telinganya lumer sudah. Sekujur tubuhnya lemas. Bersimpuh ia diiringi suara adzan. Mulutnya berucap kalimat sahadat.

Di depan Masjid, Yuni diburu keraguan. Mungkinkah Tuhan menerimanya kembali sedang dulu ia habiskan waktu dalam kegelapan.

“Masuklah. Tuhan Maha Esa, dalam sifat dan wujud-Nya Yuni.”

Hanya suara, terngiang di telinganya.

Satu-satu langkahnya menuju Masjid. Kali ini ia ingin benar-benar kembali.

Batang, 1995

Entry filed under: CERPEN. Tags: .

Pernikahan Angin Tanah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 102,406 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy

  • Semoga di dekat kita tak ada anak yang terlantar sekolahnya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Saya tak kuasa membayangkan tubuhnya yang menua masih mencuci/menyeterika demi sekolah cucu. @spirit_kita 10 hours ago
  • Beruntung nenek yg buruh mencuci dan menyeterika, masih semangat menyekolahkan cucunya, meski sesungguhnya nenek tak berdaya. @spirit_kita 10 hours ago
  • Ada remaja yg ditinggalkan ayah dengan tak menafkahi ibunya sama sekali, sementara sang ibu tak peduli dengan pendidikan anak. @spirit_kita 10 hours ago
  • Dalam minggu ini dapat cerita juga melihat sendiri, bagamana sebagian anak kita kesulitan mendapatkan pendidikan. @spirit_kita 10 hours ago

%d blogger menyukai ini: