Lelaki Tua

Mei 23, 2007 at 11:09 am Tinggalkan komentar

Cerpen Dianing Widya Yudhistira

Sumber: Republika, Minggu 16 Februari 2003

AKU menghela nafas lega. Selesai juga pekerjaan merapikan rumah. Aku nikmati sisa waktu sebelum senja turun dengan segelas susu, untuk memulihkan tenaga.

Aku harus pintar membuat tubuhku tetap fit, agar tidak kelelahan untuk memulai pekerjaan kantor esok hari. Maklumlah, pindahan rumah kali ini tak ada yang membantuku. Suami hanya cuti sehari, sedang pembantuku pulang kampung.

Aku tidak tahu apakah pembantuku akan kembali atau tidak. Ia kini tengah melangsungkan pernikahan dengan pacarnya.

“Selamat sore, Nak.”

Aku turunkan koran ke meja. Aku terpana.

“Baru pindah hari ini, Nak”

Aku terperanjat. Menyadari cukup lama aku hanya menatap sosoknya, tanpa membalas sapanya.

“Ya Kek, silahkan singgah dulu.”

Basa-basiku sebagai warga baru di sini. Di sebuah perumahan yang asri, meskipun letaknya jauh di pinggir Jakarta.

“Terimakasih. Bapak menyalakan lampu dahulu.”

Betapa malunya aku. Lelaki tua itu menyalakan lampu jalan, yang kebetulan berada di depan rumah. Semestinya aku, yang jauh lebih muda dan memiliki banyak energi. Usai menyalakan lampu, lelaki tua itu kembali menyapaku dan berlalu.

Sosoknya menyisakan pertanyaan. Wajah dan postur tubuhnya sangat mirip dengan almarhum kakek. Suaranya yang bergetar juga mirip dengan suaara almarhum kakek. Mungkinkah ia arwah kakek yang menjadi hantu.

Tidak mungkin. Kakek meninggal karena sakit dan usia yang menua. Bukan karena kecelakaan atau terbunuh.

“Maafkan aku, Kek. Seharusnya aku tidak berpikir yang bukan-bukan.”’

Malamnya, aku ceritakan tentang lelaki tua itu kepada suami.

“Tidak mungkin orang yang sudah meninggal hidup kembali, Ida.”’

“Ia sangat mirip almarhum kakek.”

“Tuhan maha kuasa, Da. Dia bisa menciptakan seseorang mirip dengan orang lain.”

“Suaranya juga, Mas.”

Suamiku mengangguk sambil mengesip kopi.

“Atau jangan-jangan…”

“Jangan-jangan apa,” suaraku meninggi.

“Jangan-jangan lelaki tua itu hanya ilusimu saja. Sampai sekarang kamu belum bisa menerima kepergian kakekmu bukan?.”

“Ini bukan ilusi. Lelaki tua itu benar-benar nyata. Tadi sore menyapaku dan menyalakan lampu.”

“Ya, iya. Lebih baik sekarang kamu istirahat. Kamu tampak sekali kelelahan.”

Aku mengiyakan.

Esok paginya waktu subuh tiba, aku buka pintu dengan maksud mematikan lampu. Sayang, lampu itu sudah padam. Demikian juga dengan dua lampu yang berada di kedua ujung jalan. Pikiranku langsung tertuju kepada lelaki tua itu.

“Pasti dia yang mematikan lampu,” ucapku sendiri.

Aku masuk.

“Lampunya sudah mati.”

“Lampu!?”

“Pasti lelaki tua itu yang mematikan.”

“Oh.”

Aku tatap suamiku. Aku tak puas dengan komentarnya yang pendek itu.

“Kalaupun lelaki tua itu yang mematikan, untuk apa kamu mempermasalahkan.”

“Aku tidak mempermasalahkan.”

“Lalu.”

“Ia benar-benar nyata.”

“Ya, dia nyata. Dia bukan ilusimu,” ucap suamiku dengan nada menghibur.

Ketika hendak berangkat ke kantor, aku sempat melihat lelaki tua itu sedang menanam tunas pisang.

“Lelaki tua itu.”

Aku tepuk-tepuk paha suami yang sedang mengendalikan mobil. Ia sedikitpun tidak menoleh ke arah lelaki tua itu. Perhatiannya tertuju pada stir mobil. Aku kesal.

“Aku heran. Sejak bertemu dengan lelaki tua itu kamu mudah marah. Seperti anak kecil.”

Aku menggerutu.

“Aku ingin Mas lihat. Dia bukan ilusiku semata.”

“Ya.”

Kami ke kantor dengan saling diam. Tetapi sosok lelaki tua itu mengusik benakku sepanjang perjalanan menuju kantor.

Aku berharap waktu berjalan lebih cepat. Aku ingin cepat pulang. Begitu jam kantor usai, aku langsung beranjak pulang. Aku enggan menunggu suami untuk pulang bersama seperti hari-hari biasa. Hari ini bagiku waktu sangat berharga.

Kemacetan Jakarta di waktu jam kantor usai, membuat aku ingin berteriak. Aku ingin sampai di rumah sebelum senja tiba. Aku ingin menyalakan lampu jalan yang ada tepat di depan rumah, sebelum lelaki tua itu yang menyalakannya. Lalu aku persilakan singgah di rumah atau setidaknya aku sempat menatap wajahnya.

Aku lega. Aku hampir sampai di rumah ketika senja belum benar-benar turun. Masih ada kesempatan untuk menyalakan lampu. Ketika melewati rumah lelaki tua itu, aku lihat ia tengah membuka pintu. Pasti ia akan keluar untuk menyalakan lampu jalan. Aku percepat langkah, agar aku yang memiliki kesempatan menyalakan lampu jalan.

Aku kecut. Lampu itu sudah menyala. Lelaki tua itu memang lebih cepat menyalakan lampu. Aku janji besok pagi akan mematikan lampu dengan bangun lebih pagi dari lelaki tua itu. Aku kembali kecewa. Ketika hendak mematikan lampu di waktu subuh, lampu itu sudah padam.

“Lelaki tua itu selalu mendahuluiku.”

Aku berpikir keras bagaimana caranya mendahului mematikan dan menyalakan lampu jalan. Tujuh bulan lebih aku kalah cepat. Aku bisa menerima kekalahanku untuk menyalakan lampu jalan di sore hari, karena aku sering pulang ketika senja telah berganti malam. Tetapi betapa susahnya aku mendahului lelaki tua itu untuk mematikan lampu di pagi hari. Padahal aku sudah bangun sebelum waktu subuh masuk.

Aku pernah mematikan lampu jalan tepat jam duabelas tepat. Pikirku agar lelaki tua itu tak sempat mematikan lampu di pagi hari. Tetapi ketika aku terjaga di tengah malam, lewat jendela kamar lampu itu terang benderang. Ketika aku bangun subuh lampu itu sudah padam.

“Terang saja ada yang menyalakan kembali. Ini di kota Ida, bukan di kampungmu sana. Jam dua belas masih banyak orang lewat. Untung tidak ada tetangga yang lihat. Bisa disangka egois kamu,” ucap suamiku panjang lebar ketika aku menceritakan bahwa aku pernah mematikan lampu tepat jam duabelas malam.

Benar. Kalau aku mematikan lampu jam duabelas malam akan menganggu orang lain. Aku berencana mematikan lampu jam tiga dinihari. Pasti lelaki tua itu belum bangun, dan semua orang masih tidur. Aku yakin jam tiga tidak ada orang yang akan lewat dan tidak ada orang yang akan mempermasalahkannya.

Aku berjanji tidak akan melewatkan kesempatan mematikan lampu jalan pada jam tiga, aku sengaja tidak tidur sampai jam tiga tiba. Kali ini aku harus berhasil. Untuk mencegah kantuk aku minum dua gelas kopi panas.

Jam dinding berdentang keras tiga kali. Dadaku naik turun. Aku keluar rumah dengan sembunyi-sembunyi. Dadaku kian bergemuruh mendekati tiang listrik. Segera aku tekan saklar, dan pet. Lampu padam. Aku bergegas masuk dengan hati-hati, agar suamiku tidak tahu bila aku baru saja mematikan lampu jalan.

Aku rebahkan tubuhku di tempat tidur. Begadang semalaman membuat aku cepat tertidur. Aku terbangun kembali pukul lima. Aku buka gorden jendela kamar. Aku terkejut. Lampu jalan itu terang benderamg.

“Huh siapa yang menyalakannya.”

Aku cepat-cepat keluar kamar. Baru membuka pintu rumah, lelaki tua itu sudah berada di bawah tiang listrik.

“Pagi Nak.”

“Pagi.”

Aku paksakan untuk tersenyum. Aku terus memperhatikan lelaki tua itu hingga ia masuk ke rumahnya. Ia semakin mirip dengan almarhum kakek.

Aku melangkah masuk dengan gontai.

“Kalah lagi ya,” ucap suamiku sambil membawa handuk menuju kamar mandi.

“Lelaki tua itu selalu mendahuluiku.”

Aku duduk lesu sampai suamiku selesai mandi. Ia memandangiku dengan heran melihat aku tak melakukan apapun di pagi ini.

“Aku cuti hari ini.”

“Cuti?”

“Aku ingin mendahului kakek itu untuk menyalakan lampu nanti sore.”

Suamiku tertawa sambil menyebut namaku berkali-kali dengan nada heran.

Ketika senja belum benar-benar turun aku berhasil menyalakan lampu jalan sebelum lelaki tua itu yang menyalakan. Dalam hati aku bersorak. Kali ini aku yang mendahului lelaki tua itu. Aku ceritakan keberhasilanku ini pada suamiku. Ia hanya tersenyum.

“Besok masih cuti untuk menyalakan lampu?.”

Aku menggeleng.

“Itu berarti kamu akan kalah lagi oleh Bapak itu.’’

Aku terdiam.

Aku bangun terlambat. Pasti lampu jalan di depan rumah sudah padam. Aku keluar. Aku terkejut. Lampu jalan masih nyala, padahal sudah jam enam lewat. Aku lihat lampu yang ada di kedua ujung jalan. Sama. Masih nyala.

Heran. Padahal lelaki tua itu selalu mematikan lampu pagi-pagi benar. Lalu mengapa pula rumah lelaki tua itu ramai orang. Kelihatannya anak-anak dan sanak famili. Mereka menata kursi di depan teras dengan berjajar. Mereka juga mengeluarkan meja.

Untuk pertama kali aku mendekati rumah lelaki tua itu.

“Ada acara apa ya, Mbak.”

Perempuan itu bukannya langsung menjawab malah menundukkan kepala. Lalu dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca mengabarkan bila lelaki tua itu telah meninggal dunia subuh tadi. Aku terpana. Ada perasaan berkecamuk dalam benakku. Perasaan bersalah juga menyesal. Mendengar kepergiannya aku merasakan perasaan yang sama seperti ketika kakekku meninggal dulu.

Sekarang tak ada lagi orang yang setia menyalakan dan mematikan lampu jalan. Setiap kali aku menyalakan atau mematikan lampu jalan, aku selalu ingat lelaki tua itu. Entah sampai kapan ingatan itu akan berhenti memburuku.

Depok, akhir tahun 2002

Iklan

Entry filed under: CERPEN.

Tanah Kesaksian Burung Hantu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 104,942 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: