KUMPULAN MEDITASI WAKTU

Mei 23, 2007 at 10:38 am Tinggalkan komentar

Puisi-Puisi Dianing Widya Yudhistira

SATU

Usah engkau pertanyakan
Tentang segala kebenaran
Hanya bikin hati terbelenggu
Laksana bolak-baliknya air di atas tungku

Usah engkau bentangkan
Semak belukar ilalang
Hanya bikin dinding
Antara engkau cinta

Engkau telah memahami
Makna pergantian musim demi musim
Nikmatilah segala ketulusanmu
Cinta yang satu

Pidie-Aceh, Januari 1998

SUNYI

Aku tak pernah belajar takut dan ragu

Hadirnya memintalku dalam gelisah

Darahku resah

Lidahku gagu

Inikah keterbatasan

Bergolak bagai garis malam

Hati bertengkar tanpa alasan

Sepi yang indah berganti kelam

Andai saja

Aku mampu memandang kerajaan langit

Kutanggalkan saja

Keraguan yang membukit

Pidie-Aceh, Januari 1998

Dianing Widya Yudhistira

PADAMU

Aku belajar dari rahasia hati

Merenangi hakekat kesunyian

Aku sepenuhnya percaya

Tak pernah mengundang ragu

Yang datang memperdaya diri

Memenjarakan aku dalam kebebasan

Aku selalu takut menyebutmu kekasih

Jangan jauh dariku, biar aku nikmati

Perjalanan ini

Pidie-Aceh, 1998

AKU INGIN

Aku ingin

Melihat mentari terbit dan terbenam dengan damai

Anak-anak negeri menabur cita

Gembala pulang dengan hati riang

Aku ingin

Menikmati senja yang hening

Ditingkahi alunan orang mengaji

Mengalirkan embun ke pelosok bathin

Aku ingin

Melihat kembali saling sapa dalam senyum

Saling jabat tangan dan menghormati

Biarkan perbedaan melahirkan cinta

Jakarta, Maret 2000

ANANDA

Menatapmu kala terlelap

Membawaku ke masa lampau

Kanak-kanak yang jauh dari sunyi

Di mana namaku selalu ada di do’a mereka

Memandangmu ketika terjaga

Itukah gambaran masa kecilku?

Jakarta, Maret 2000

SURAT BUAT IBUNDA

Entah mengapa hatiku luruh

Di ujung daun jendela

Masa kanak-kanak membayang

Jauh dari luka juga sepi

Deru angin dan nafasku bertaut, Ibunda

Setiap mengenangmu

Diri seperti di depan hamparan laut

Yang menawarkan kebebasan jua ketakutan

Jakarta, Maret 2000

PUISI PUTIH

– untuk Dinullah Rayes

Mari kita nikmati persahabatan ini

Tanpa memandang usia dan waktu

Aku ingin berguru padamu

Tentang air mata dan luka

Terangkum indah dalam jeritmu

Bahagia dan nestapa tiada beda

Setiap ingat pada garis-garis wajahmu

Terbayang masa tua yang sepi

Engkau selalu menepisnya dengan puisi

Tak ada satupun lirik kehilangan di sana

Memandangi potretmu

Terbentang pertanyaan maha luas

Dapatkah aku lampaui masa tuaku

Dengan senja yang hening, tenang

Jakarta, Maret 2000

REPORTASE SUNYI

Kau dengarkah anak-anak di luar

Berdendang lagu kanak-kanak

Impikan tanah lapang — mengabur

Terpuruk diantara gedung-gedung megah

Kau lihatkah anak-anak bermain bola

Di jalan sempit depan rumah

Kaki kecil beradu pejalan kaki

Atau bola tersesat di atap rumah

Di padang rumput sana

Tuan-tuan mengayunkan stik golf

Di sini anak-anak kehilangan dunianya

Kita, telah lama merampasnya

Jakarta, Oktober 1997

LUKISAN ANAKKU

Anakku melukis masyarakat pohon di air

Warnanya darah ikan bau anyir

Anakku mereka-reka suara burung

Terdengar pilu dan sumbang

Anakku melukis matahari dengan teriknya

Kanvasnya bertanya mengapa kemarau memanjang

Anak-anak kelaparan dengan wajah keluh

Mengenaskan — di negeri sendiri terbuang

Lukisan anakku menggantung di ketinggian udara

Menanyakan tentang hubungan gaib

Antara manusia dengan alam

Masih bersahabatkah mereka?

Jakarta, Oktober 1997

Sajak-sajak Dianing Widya Yudhistira

Perjalanan Cahaya

Setiap kali bertemu denganmu

seribu waktu memfosil di ruang hampa

Maafkan aku — tatkala mempertanyakanmu

sebab kau ciptakan cahaya dalam hatiku

juga api dalam pikiranku

Usah ragukan kekhilafanku

hanya padamu tempat kembaliku

Depok, Mei 2003

Diary yang Tercecer

Cinta hanya melahirkan perselisihan

dan aku terhimpit dalam keterbatasanku

Baiklah, akan kunyalakan lilin

agar aku tahu dengan siapa aku bicara

akan kubunuh juga prasangka yang dingin

agar aku tahu, damai yang kau tawarkan tak terkira

Sungguh aku letih membalas cintamu

karena ketulusanku tak pernah lengkap

seperti diary yang tercecer di rak-rak buku

ia lapuk melepuh dan berdebu

Depok, Mei 2003

SURAT BUAT IBUNDA

Entah mengapa hatiku luruh

Di ujung daun jendela

Seperti menatap kembali masa kanak-kanak

Melukis kembali semburat senja

Deru angin dan nafasku bertaut, Ibunda

Setiap mengenangmu

Aku terlempar ke hamparan laut

Yang menawarkan kebebasan juga ketakutan

Jakarta, Maret 2000

REPORTASE SUNYI

Kau dengarkah anak-anak di luar

Berdendang lagu kanak-kanak

Impikan tanah lapang mengabur

Terpuruk dalam rumah kaca

Anak-anak menendang nasib

Di gang-gang sempit

Bagai bola yang selalu siap meluncur

tersesat di atap-atap rumah

Di padang rumput sana

Tuan-tuan mengayunkan stik golf

Di sini anak-anak kehilangan dunianya

Kita, telah lama merampasnya

Jakarta, Oktober 1997

LUKISAN ANAKKU

Anakku melukis masyarakat pohon di air

Warnanya darah ikan bau anyir

Anakku mereka-reka suara burung

Terdengar pilu dan sumbang

Anakku melukis matahari dengan teriknya

Kanvasnya bertanya mengapa kemarau memanjang

Anak-anak kelaparan dengan wajah keluh

Mengenaskan — di negeri sendiri terbuang

Lukisan anakku menggantung di ketinggian udara

Menanyakan tentang hubungan gaib

Antara manusia dengan alam

Masih bersahabatkah mereka?

Jakarta, Oktober 1997

SENJA

Hening di luar bersama rintik hujan

Menyisakan gigil yang ngungun

Ada sekian percakapan antara kita

Yang lahir dari sapa hujan dan udara

Dan wajah bulan dari balik kaca

Seperti menyiratkan makna-makna

Rentang waktu yang berjalan

Menambat usia yang entah kapan usai

Aku terpana dalam sepi yang menekan

Sapa angin pada lubang pori-pori

Mengabarkan alamat dan nama

Tentang ombak yang mulai menepi

Jakarta, Mei 2000

SUATU KETIKA TENTANG KAMU

Biar aku lukis waktu di alis keningmu

Melebatkan ribuan ilalang dalam benak

Sendiri di museum yang dingin

Tanpa sapa bantal dan sapa burung hantu

Biar lelah memagut darah

Seperti ombak aku tak ingin mengeluh

Melahirkan gelombang pasang ataupun surut

Aku tak peduli

Jakarta, Mei 2000

CINTA

Cinta melahirkan gemerlap bintang-bintang

Pernikahan antara pelangi dan bidadari

Bertatahkan tulus sinar rembulan

Berumahkan istana di kerajaan langit

Alangkah bahagia diam di sana

Damai menikmati senyummu yang tak bisa ku urai

Ingin hatiku menyentuhmu

Membiarkan engkau singgah di sana, selamanya

Cinta adalah gemerlap bintang-bintang

Penuh duri dan semak belukar — menujumu

Jakarta, Mei 2000

Sajak-sajak Dianing Widya Yudhistira

Ramadhan yang Hening

Cahaya siapa bersembunyi di balik rumpun bambu

serta desir angin yang samar

Melahirkan simponi dalam kalbu

Kehidupan fana kian mengental

Wajah langit Ninawa luruh

Tunduk sujud padamu

Berhala-berhala telah ditinggalkan

Betapa engkau penuh cinta

Di sini — bintang bershaf – shaf

berjamaah – hanya dan hanya untukmu

Dan bila waktuku tiba nanti

Akankah malam sedamai ini?

Depok, Januari 2001

Requim

Orang-orang berdiri di depan masjid

Masih sama – dengan detak jantung yang memburu

Adakah diantara kita singgah sejenak

Melunaskan waktu

Orang-orang menemui para kekasih

Membentuk barisan-barisan panjang

Dalam satu irama dalam satu nada

Mencarimu

Depok, Januari 2001

LUKISAN ANAKKU

Anakku melukis masyarakat pohon di air

Warnanya darah ikan bau anyir

Anakku mereka-reka suara burung

Terdengar pilu dan sumbang

Anakku melukis matahari dengan teriknya

Kanvasnya bertanya mengapa kemarau memanjang

Anak-anak kelaparan dengan wajah keluh

Mengenaskan — di negeri sendiri terbuang

Lukisan anakku menggantung di ketinggian udara

Menanyakan tentang hubungan gaib

Antara manusia dengan alam

Masih bersahabatkah mereka?

Jakarta, Oktober 1997

SENJA

Hening di luar bersama rintik hujan

Menyisakan gigil yang ngungun

Ada sekian percakapan antara kita

Yang lahir dari sapa hujan dan udara

Dan wajah bulan dari balik kaca

Seperti menyiratkan makna-makna

Rentang waktu yang berjalan

Menambat usia yang entah kapan usai

Aku terpana dalam sepi yang menekan

Sapa angin pada lubang pori-pori

Mengabarkan alamat dan nama

Tentang ombak yang mulai menepi

Jakarta, Mei 2000

SUATU KETIKA TENTANG KAMU

Biar aku lukis waktu di alis keningmu

Melebatkan ribuan ilalang dalam benak

Sendiri di museum yang dingin

Tanpa sapa bantal dan sapa burung hantu

Biar lelah memagut darah

Seperti ombak aku tak ingin mengeluh

Melahirkan gelombang pasang ataupun surut

Aku tak peduli

Jakarta, Mei 2000

CINTA

Cinta melahirkan gemerlap bintang-bintang

Pernikahan antara pelangi dan bidadari

Bertatahkan tulus sinar rembulan

Berumahkan istana di kerajaan langit

Alangkah bahagia diam di sana

Damai menikmati senyummu yang tak bisa ku urai

Ingin hatiku menyentuhmu

Membiarkan engkau singgah di sana, selamanya

Cinta adalah gemerlap bintang-bintang

Penuh duri dan semak belukar — menujumu

Jakarta, Mei 2000

Ramadhan yang Hening

Cahaya siapa bersembunyi di balik rumpun bambu

serta desir angin yang samar

Melahirkan simponi dalam kalbu

Kehidupan fana kian mengental

Wajah langit Ninawa luruh

Tunduk sujud padamu

Berhala-berhala telah ditinggalkan

Betapa engkau penuh cinta

Di sini — bintang bershaf – shaf

berjamaah – hanya dan hanya untukmu

Dan bila waktuku tiba nanti

Akankah malam sedamai ini?

Depok, Januari 2001

Requim

Orang-orang berdiri di depan masjid

Masih sama – dengan detak jantung yang memburu

Adakah diantara kita singgah sejenak

Melunaskan waktu

Orang-orang menemui para kekasih

Membentuk barisan-barisan panjang

Dalam satu irama dalam satu nada

Mencarimu

Depok, Januari 2001

Rumah

Di negeri terjauh — kau membayang

Ingin memasukimu — ucapkan salam mulia

Bila lelah telah sempurna

Kau penawar keteduhan

Kerajaan kecil bagi hamba-hamba Illahi

Tuk menumpahkan segala rindu

Bilakah ku miliki engkau

Di mana setiap sudutmu

Memancar cahaya terindah

Depok, Januari 2001

Gelap

Kau yang menidurkanku — kala subuh

Memberatkan langkah membuka daun jendela

Yang meniupkan keengganan

Juga menaburkan keraguan

Engkau senantiasa singgah

Pada jiwa-jiwa hampa

Tak ada ruang di hatiku

Untuk membencimu

Depok, Januari 2001

Perjalanan

Ini gelap keseribu kali

Ketika hati memohon padamu

Bersaksikan burung hantu

serta bebatuan di kali

Desir angin tiada

Kemuning pucat di ujung daunnya

Kupanjatkan pinta serta keluh

Selalu padamu

Kokok siapa di balik kamar

Menggelegar dalam dini yang senyap

Seperti menyapa gemericik air

Serta rumpun bambu

Depok, Januari 2001

Saatnya Kembali

Bilakah subuh hadir dalam hati

Nikmati wajah langit yang tenang

Setubuhi keheningan udara

Serta kesejukan embun

Bilakah senyum senantiasa abadi

Dalam simponi kicau padi

Kita meski kembali

Satukan segala beda

Depok, Januari 2001

Selamat Sore

Senja seperti rindu yang luruh

Menyaksikan engkau ke arah langit

Bercanda peluh serta penat

Tak adakah waktu untuk istirah

Keindahan menara tertinggi – terlewatkan

Engkau masih saja di situ

Mengurai nasib serta waktu

Di manakah masa tua yang tenang?

Depok, Januari 2001

Sajak Cinta

Aku tunggu pesanmu

di sepanjang peron serta kilometer tak berbatas

sebab warna lipstikmu

masih membekas di dinding gelas

Aku tak ingin mati berulang-ulang

hanya demi menunggu pesanmu

Aku juga tak ingin seperti roro jonggrang

berdiri menatap matahari terbenam karenamu

Aku hanya ingin

Engkau mau mengajariku alif ba ta

lalu melukiskan wajah malaikat

Tatkala menjemputku kelak

Depok, September 2002

Waktu

Ia — rindu yang terjaga

di ribuan malam yang sengit

juga ribuan mil jarak tempuh

Adakah ia pernah singgah?

Ia — cinta juga ketakutan

Depok, Oktober 2002

Tatkala Sendiri

Senja mengapung diam

seperti sesosok mayat kehilangan do,a

“Hidup bukan sekedar persinggahan,” katamu

mengapa aku asing

Diantara butiran hujan menerpa di dinding kaca

Percakapan kita hilang makna

Kisahkan kembali padaku, ibu

kapal nabi Nuh yang berlayar

mungkin dapat aku kembali

seperti cerita kelahiranku

Depok, Januari 2003

Perjamuan

Aku siapkan senja beserta pelangi

di gaun malam nanti, ucapmu

dan jerit serangga malam

mengingatkan bait-bait puisi di tubuhmu

Aku gadaikan separuh hatiku di atas cawan

Menyangsikan harapan-harapan purba

sebab waktu hanya memberi kita

matahari yang terbit dan terbenam

Tak perlu aku takar kesetiaanmu

aku telah lama menanggalkannya di kancing bajumu

dalam ritual tanpa nama

Hanya sebuah alamat yang salah

Depok, Januari 2003

Iklan

Entry filed under: PUISI.

KUMPULAN CERITA DARI KOTA LAMA Syair Bungong Jeumpa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 105,258 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: