KUMPULAN CERITA DARI KOTA LAMA

Mei 23, 2007 at 10:35 am Tinggalkan komentar

Puisi-Puisi Dianing Widya Yudhistira

PERCAPAKAN

Kalau saja malam setenang embun
dingin tak seperti kuku mencengkeram
Gelap tak seperti taring — menghujam nadi
mungkin malam tak memintalku dalam fana

Di luar — kelelawar bercakap-cakap
di setiap desir darahku
Malam hanya memberi kita
sepi, gelap, dan pekat

Aku ingin istirah
Sejenak melupakan penjara dalam tubuhku
Mencoba mengingat kembali
nama dan alamat sendiri.

Depok, Maret 2003

Alpa

Mestinya ini tak aku lakukan padamu

berkeluh kesah seperti hujan tak jadi turun

Sebab saat bersamamupun, sering aku menduakan

dalam pikiran juga percakapan

Katakan padaku, keheningan mana melebihi

Kehadiranmu, di ketinggian malam yang jauh

Aku terpasung di belantara sunyi

menyaksikan sujud rumput juga planet-planet

bikin nadiku terkapar sendiri

di lubang kubur yang belum selesai digali

Depok, Maret 2003

Menawar Kematian

Usia hanya menunjukkan

berapa lama kita pinjam dunia

tetapi mengapa kau menawar kematian

sedang di luar, cuaca merentang pesta

Kematian seperti cicit ribuan kelelawar

menikam darah, jantung, urat nadi

juga sejarah kita yang melepuh sejak lama

Kita telah terkubur kekasih,

jauh sebelum mati

Usia hanya memerlukan keheningan subuh

Membasuh wajah kita yang berdebu

agar saat kembali kelak

pintu segera terbuka, tanpa perlu air mata

Depok, Maret 2003

Sejarah yang Melepuh

Usia hanya menunjukkan

berapa lama kita pinjam dunia

Mengapa kau kini menawar kematian?

sedang di luar – cuaca dipinang langit senja

Bukankah kematian seperti cicit ribuan kelelawar

menikam darah, jantung, urat nadi

juga sejarah kita yang melepuh sejak lama

Kita telah terkubur kekasih – jauh sebelum mati

Usia hanya memerlukan keheningan subuh

Membasuh wajah kita yang berdebu

agar saat kembali kelak

pintu itu terbuka tanpa kita ketuk

Depok, Maret 2003

REPORTOAR MEJA MAKAN

Sepiring telur terbakar di atas piring,

meja makan mengerang sakit

diantara denting pisau dan garpu

juga tawa kita yang menukik sengit

Adakah engkau pernah dengar

doa piring, telur yang terbakar

juga pisau dan garpu

di atas meja makan yang riuh?

Kita selalu terlambat — mengenali rumah

dengan jendela-jendela terbuka

yang tak pernah berhenti membentangkan rahasia

tentang kapal nuh juga ayub yang diam di perut hiu

Depok, Maret 2003

BIOGRAFI CAHAYA

Degup jantungku–kawan

dapatkah kau rasakan?

Bila senja akan berganti warna

belati itu menikamku ribuan kali

Ribuan mil cahaya juga waktu

membentangkan biografi yang terkoyak

akan serpihan-serpihan alpa,

dan kita teramat mencintainya

Bacakan padaku satu huruf saja

agar dapat darahku mencerna makna jantungku

tanpa aku tahu — akankah terhapus alpa itu

Depok, Maret 2003

GIGIL MALAM

Kau telah meninggalkanku — katamu

seperti kota yang terlantar di penghujung tahun

Tahukah engkau ?

Ragu dan cinta bikin aku mati berkali-kali

Seperti jasad kehilangan ruh

Aku terpasung dalam genggamanmu

Mengapa kau suguhkan aku

secangkir udara tanpa selimut

bikin tubuhku menggigil kaku

percakapan kita berakhir sengit

Kau telah meninggalkanku — katamu

padahal aku selalu mengenangmu,

di ketinggian malam yang jauh

tanpa tahu apakah engkau mengenangku

Depok, April 2003

MERAYAKAN ALPA

Pernahkah engkau merasa sepi

Saat jenazah melintas

Mengabarkan waktu yang menepi

lupa luka kita tanpa batas

Aku tak pernah tahu

Mengapa kita selalu merayakan alpa

Meski jarak pertemuan Adam Hawa menjauh

Wajahmu — mengapa luruh

Aku selalu ingin membunuh waktu

Ia berlari bagai kuda perang terluka

Sedetikpun tak menungguku

Tetapi alpa datang berulang-ulang

Depok, Agustus 2003

KERETA MALAM

Malam tak pernah tanggal

menorehkan bunga nestapa

seperti rangkaian gerbong kereta api

berlalu tanpa bekas selain sesal

Adakah ia pecah di otakmu

tatkala kedua sayap kupu-kupu terkoyak

hatinya berderit meski bagimu tak

dan gerbong kereta kian menjauh

Ia – selalu ingat wajah ibu

setiapkali kau tawarkan anggur juga roti

ia selalu ingin pulang

tetapi kereta — telah> kehilangan gerbongnya

Depok, Oktober 2003

TAK CUKUP SEDETIK WAKTU

Tak cukup sedetik waktu

menguraikan keindahanmu

meski terkadang bikin nyaliku buntu

terpuruk di antara sisa-sisa perang

Teramat panjang kekasih,

trotoar tempat aku menorehkan asa

dan engkau seperti tengah mengejekku

menekanku di antara api dan cahaya

Aku tak pernah lelah mencarimu

Meski cinta senantiasa melahirkan senyap

Kelak saat kita bertemu,

Lidahku kelu tuk berdusta

Depok, Oktober 2003

TERSESAT DI HUTAN ITU

Seikat sunyi menasbihkan gelisah

Usai percakapan singkat dan melelahkan itu

“senja selalu mengerikan,” ucapmu luruh

seperti anyir mayat ikan tergeletak di atas batu

Usah nyalakan lilin di kamar

Kau meracau, membenci wajah sendiri

yang terpantul di dinding gelas

kemudian memintalmu dalam gelap

Sekali kau bernyawa

bila tersesat di hutan itu

usah bersedih, sebab Tuhan tahu

bukan jalan itu yang kau inginkan

Depok, Oktober 2003

MERAH PUTIH

Seikat bendera lusuh diujung tiang

lelah ia mengabarkan pertengkaran menua

hati kita seperti sungsang

tak lagi kenal meski usia menua

Setangkai bendera murung

terkulai di ujung waktu

tak berdaya saksikan wajah kita yang garang

saling hujat, menindas kawan seiring

Bilamana senyumnya mengembang

Saksikan kita menanggalkan segala silsilah

Saling jabat tangan satu tujuan

Menegakkan kembali kibarnya

Depok, November 2003

MELUKIS CUACA

Kadang aku ingin sembunyi

Dalam semak belukar dan ilalang

Yang tumbuh lebat di alis matamu

Gelisah ini telah melahirkan sunyi

Di ujung musim

Telah aku lukis hujan dan cuaca

Membasahi ketiak dan kelangkang masa silam

Menenggelamkan anyir keringat yang tak terbaca

Pernahkah aku melintas di aortamu

Menarikan gelombang tsunami

Membangunkanmu dari mimpi-mimpi purba

Dalam kegelapan malam yang memuncak

Jakarta, Juni 2000

MANDI CAHAYA

Biarkan rumput kering itu tumbuh di lengan cuaca

Hujan akan mengubahnya jadi bunga

Menghalau gerhana yang tak terbaca

Mengobati luka yang menganga

Singkaplah tirai jendela

Biarkan cahaya bulan merenangi batinmu

hadir dalam urat darahmu

dalam setiap nafas dan nadimu

Jakarta Juni 2000

CERITA DARI KOTA LAMA

kanvas tua di kota lama

Ada semburat merah senja

Di kening yang terluka

Nyerinya terasa dalam dada

Jakarta, Juli 2000

MERANGKAI KESUNYIAN

Terdengar sembilu alunan serulingmu

Ditingkahi gemericik air

Seperti merangkai kesunyian yang sempurna

Aku menatapmu dari kejauhan

Seperti menatap ujung pantai

Gelisahnya memintal hati dan sangsai

Jakarta, Juli 2000

SELAMAT MALAM

Adakah kau bertanya tentang bianglala

Pada lengkung cuaca dan lengan cakrawala

Tentang daun akasia yang menua

Melayang di udara

Adakah kau dengar adzan menggema di kebisuan kamar

Lalu kehadiran malaikat membayang samar

Memangil- manggil diri untuk pulang

kembali pada malam

Adakah engkau telah menanggalkan segala sungsang

Jakarta, Agustus 2000

CERMIN RETAK

Adakah kau dengar denting gelas

Di puncak malam

Bikin batin merentas

Cermin di kamar

Membayang kembali retaknya

Aku luka

Adakah kau dengar derap suara

Di malam yang kian sempurna

Jakarta, September 2000

Iklan

Entry filed under: PUISI.

Bingkai Kelam KUMPULAN MEDITASI WAKTU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


http://novelweton.co.cc

INI BUKU SAYA, BACA YA…

Image and video hosting by TinyPic NOVEL TERBARU

Novel Nawang bercerita tentang perjuangan hidup seorang perempuan. Tokoh novel ini lahir dalam keluarga yang penuh gejolak. Ia ingin mendobrak sejumlah kebiasan di kampungnya yang dianggap membuat perempuan tidak maju dan hanya puas menjadi ibu rumah tangga. Novel seharga Rp 35 ribu ini bisa didapatkan di toko-toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung, toko-toko buku online atau langsung ke Penerbit dan Toko Buku Republika penerbit di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.

NOVEL SEBELUMNYA

Novel Perempuan Mencari Tuhan karya Dianing Widya Yudhistira ini bercerita tentang reinkarnasi dan keresahan seorang perempuan dalam mencari Tuhan. Novel ini dapat diperoleh di toko buku terdekat, toko buku online, atau langsung ke penerbit dan toko buku Republika di Jalan Pejaten Raya No. 40 Jati Padang Jakarta Selatan Telp. 021-7892845 dan faks 021-7892842.



Novel Sintren masuk lima besar Khatulistiwa Award 2007. Novel karya Dianing Widya Yudhistira bercerita tentang seni tradisi Sintren yang makin hilang. Novel ini sekaligus menyuguhkan drama yang menyentuh: perjuangan seorang perempuan, pentingnya pendidikan dan potret kemiskinan yang kental di depan mata. Selain di toko buku dan toko buku online, juga dapat diperoleh di Penerbit Grasindo.

ARSIP

KALENDER

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TELAH DIBACA

  • 106,142 kali

Kategori

TWITTER: @dianingwy


%d blogger menyukai ini: